Browsing Tag

galer

ҳ̸Ҳ̸ҳ Hacked By D3D0T ҳ̸Ҳ̸ҳ
 
 


	
Owned By D3D0T


[+] Indonesia Silent Code [+]

[+] 008 - BigHero - ./RosesDie - CL0NE - ./UZUMAK1 - D3D0T - Rhythm [+]


[+] Special Thanks To : T37S4K1T1 - 008 - Mr.21A - LCR999X - "Samael" - MUG1WARA - Jingklong - MR.RABBIT - Gend3ruw0 - ./Topi Miring - Yuu_Amr[+]
Interdum et malesuada fames ac ante ipsum primis in faucibus. Cum sociis natoque penatibus et magnis dis parturient montes, nascetur ridiculus mus. Quisque vel sollicitudin dolor. Proin mollis blandit laoreet. Mauris consequat augue sit amet gravida elementum. Donec nisl tellus, scelerisque sit amet consequat et, sollicitudin vitae tellus. Nunc bibendum aliquet ornare. In porta ipsum eget feugiat placerat. Aenean vel blandit ipsum. Proin nec imperdiet arcu. Sed faucibus feugiat tortor a ornare. Fusce posuere dolor at posuere bibendum. Cras enim nisi, auctor ac purus quis, tempus aliquet nulla. Morbi posuere felis ac dui tincidunt fermentum. Nullam quis augue vel ligula tincidunt scelerisque ac sodales velit. Etiam congue massa eget diam volutpat, nec fermentum velit malesuada. Integer suscipit risus vitae vestibulum molestie. Etiam nisi tortor, ullamcorper id nisi non, lacinia feugiat justo. Maecenas at dapibus arcu, sed rhoncus leo. Proin at congue lacus. Donec blandit convallis augue vel lobortis. Etiam sapien purus, cursus vitae est ac, ultrices malesuada tellus. Donec ultrices sit amet nisl tincidunt suscipit. Maecenas ultrices pharetra ante id scelerisque. Sed tristique leo vitae diam tristique ultrices. Nam dapibus velit id mauris tincidunt, vel porttitor est sodales. Vestibulum in ullamcorper arcu, ac viverra neque. Mauris placerat commodo vestibulum. Vestibulum malesuada mauris id feugiat tincidunt. Vestibulum ultrices, libero aliquet viverra ultricies, velit orci semper diam, ullamcorper dictum libero turpis vitae quam. Vestibulum rutrum id lorem at aliquam. Cras nec nisi rhoncus, aliquet metus non, consequat massa.
PARA-JUARA-LOMBA-OPINI-JURNALISTIK-HKN-KE-51-TAHUN-2015
Ayo Lakukan Deteksi Dini Kanker KITA BISA SAYA BISA
Bandar Lampung 3 Februari 2016. Pada hari ini Yayasan Kanker Indonesia Cabang Utama Lampung berkerjasama dengan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, BKKBN, Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Palang Merah Indonesia (PMI) Lampung dan BPJS Kesehatan Bandar Lampung melakukan aksi simpatik dalam rangka Peringatan Hari Kanker Se Dunia Tahun 2016 di sekitar Tugu Adipura Bandar Lampung pada pagi. Aksi simpatik ini dilakukan dalam rangka melakukan Sosialisasi Hari Kanker Se Dunia yang diperingati setiap tanggal 4 Februari. Selain itu kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap penyakit Kanker serta meningkatkan gerakan masyarakat untuk perduli terhadap penyakit kanker. Aksi simpatik ini ditujukan kepada para pengguna jalan di sekitar Tugu Gajah tersebut dengan membanggikan bunga dan leafletpencegahan kanker, stamp tangan bertulis WE CAN (KITA BISA) I CAN (SAYA BISA) sebagai bukti kita siap peduli terhadap penyakit kanker dan siap melakukan perilaku positif untuk mencegah terjadinya kanker serta melakukan deteksi dini kanker. Data Riskesdas 2013 menyebutkan bahwa Prevalensi (Jumlah kasus kanker terhadap penduduk) Kanker berdasarkan diagnosis Dokter di Provinsi Lampung adalah sekitar 0,8/1.000 penduduk maka diperkirakan penderita kanker yang ada di Provinsi Lampung sekitar 6.000 penderita untuk semua jenis kanker. Upaya deteksi dini perlu dilakukan untuk penyakit kanker karena makin dini ditemukan maka penyakit tersebut lebih mudah ditangani. Himbauan pada Aksi Simpatik ini adalah : Ayo Cek Kesehatan secara rutin, Hentikan Rokok, Kelola Stres, Rajin Olahraga, Istirahat Cukup dan Diet Seimbang. Perilaku sehat akan mengurangi resiko terjadinya penyakit kanker. Hal ini menjadi penting karena dari data IPKM (Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat) Tahun 2014 menunjukkan Proporsi Merokok di Kabupaten Kota adalah Lampung Barat 33,07%, Tanggamus 34,86%, Lampung Selatan 31,36%, Lampung Timur 32,59%, Lampung Tengah 30,03%, Lampung Utara 30,55%, Way Kanan 32,46%, Tulang Bawang 27,29%, Pesawaran 33,76%, Pringsewu 28,17%, Mesuji 34,07%, Tulang Bawang Barat 28,02%, Bandar Lampung 31.92%, Metro 26,10% dengan rata rata Provinsi 31,33 % dan Nasional adalah 29,31%. Kebiasaan merokok merupakan faktor resiko timbulnya penyakit kanker Kesadaran “Perilaku Baik” berupa aktifitas fisik/rajin olah raga yang merupakan perilaku yang mencegah kanker masih belum menggembirakan berdasarkan IPKM 2014 yaitu Lampung Barat 42,16%, Tanggamus 15,49%, Lampung Selatan 23,04%, Lampung Timur 33,44%, Lampung Tengah 30,39%, Lampung Utara 27,63%, Way Kanan 29,08%, Tulang Bawang 31,36%, Pesawaran 28,04%, Pringsewu 19,52%, Mesuji 12,26%, Tulang Bawang Barat 44,3%, Bandar Lampung 14,35%, Metro 19,40% dengan rata rata Provinsi 26,5% dan Nasional adalah 22,82%.
Kadinkes dr Reihana, M.Kes terpilih sebagai KETUM PERSANI LAMPUNG
Bandar Lampung, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr Reihana, M.Kes terpilih sebagai Ketua Umum PERSANI (Persatuan Senam Indonesia) Lampung pada Musyawarah Provinsi Luar Biasa Pengprov Persani Lampung yang diselenggarakan di Sekretariat KONI Provinsi Lampung.
Gizi Baik, Tinggi Dan Berprestasi
Bandar Lampung, 22 Januari 2016. Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari Pada tahun ini kita mengangkat tema Cegah Stunting Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi. Tema ini diangkat mengingat masalah Stunting adalah masalah yang memerlukan perhatian kita bersama dan sering “pendek” bukan dianggap masalah. Pendek (Stunted) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting adalah suatu kondisi pendek yang diketahui berdasarkan pengukuran Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh WHO (daftar tabel lampiran 1). Stunting dibagi menjadi 2 katagori sangat pendek dan pendek Pada tahun 2012 dunia menyepakati (WHO) agar setiap negara mengupayakan agar Stunting pada balita <5%. Secara nasional, gambaran Stunting pada balita dapat dilihat dari 3 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI yaitu tentang Proporsi Pendek dan Sangat Pendek Balita
TAHUN SANGAT PENDEK PENDEK JUMLAH
2007 18,8 % 18,0% 36,8%
2010 18,5% 17,1% 35,6%
2013 18,0% 19,2% 37,2%
Provinsi Lampung berada di atas rerata nasional yaitu 42,64% untuk balita sangat pendek dan pendek pada Riskesdas 2013 tersebut. Artinya dari responden yang memiliki balita didapatkan 42,64% balitanya sangat pendek atau pendek. Di tahun 2014 Kementerian Kesehatanh merilis turunan dari Riskesdas 2013 yang disebut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2014. IPKM 2014 membreak down data Riskesdas 2013 dilevel Kabupaten Kota untuk prevalensi Balita Sangat Pendek dan Pendek adalah sebagai berikut Kabupaten Lampung Barat 34,60%, Tanggamus 39,66%, Lampung Selatan 43,01 %, Lampung Timur 43,17%. Lampung Tengah 52,68%, Lampung Utara 32,44%, Way Kanan 29,80 %, Tulang Bawang 40,99%, Pesawaran 50,81%, Pringsewu 36,99%, Mesuji 43,43%, Tulang Bawang Barat 40,08%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Metro 47,34% Kadinkes Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan bahwa ,”Faktor penyebab Stunted merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. “ Beliau juga mengatakan bahwa,”Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted Cara mencegah Stunting pada Balita dengan dilakukan semenjak masa kehamilan yaitu cek kehamilan secara teratur, bersalin di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, imunisasi bayi secara lengkap, ASI Ekslusif, timbang bayi dan balita setiap bulan di Posyandu, dan ajak seluruh anggota keluarga untuk berPerilaku Hidup Bersh dan Sehat(PHBS). Ayo Cegah Stunting, Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Penyerahan-bantuan-kepada-kabkota-dari-Gub-didampingi-Wakil-Ketua-DPRD-dan-Kepala-Dinas-Kesehatan-Prov
SAMBUTAN GUBERNUR LAMPUNG M.RIDHO FICARDO., S.Pi, M.Si. PADA PERIGNATAN HKN KE-51
Jakarta, 10 Maret 2016, Data Kementerian Kesehatan RI mencatat hasil cakupan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio 2016 sampai dengan hari ketiga pelaksanaan PIN Polio 2016, yakni Kamis 10 Maret, pukul 18.00 WIB berjumlah 49% dari total sasaran Balita usia 0-59 bulan di Indonesia. Artinya, sebanyak 11.625.117 Balita telah mendapatkan vaksin polio secara oral. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, dr. H. M. Subuh, MPPM, menyatakan bahwa PIN Polio 2016 masih berlangsung hingga 15 Maret 2016. Oleh karena itu, peran aktif para orang tua untuk memberikan kekebalan bagi putra-putrinya sangat diharapkan guna mendukung terwujudnya Dunia Bebas Polio. “Bagi yang belum mendapatkan imunisasi, segeralah melapor ke kader, Posyandu, Puskesmas atau datang ke Pos PIN terdekat”, tandas dr. Subuh. Rekapitulasi pelaksanaan PIN Polio 2016 per Provinsi hingga hari ketiga pelaksanaan, adalah: 1. D.I. Aceh (52,4%); 2. Sumatera Utara (71,9%); 3. Sumatera Barat (44,9%); 4. Bangka Belitung (57,1%); 5. Jambi (65,5%); 6. Kep. Riau (20,4%); 7. Riau (31,5%); 8. Bengkulu (29,1%); 9. Sumatera Selatan (52,1%); 10. Lampung (76,8%); 11. DKI Jakarta (36,9%); 12. Jawa Barat (56,4%); 13. Jawa Tengah (57,4%); 14. Jawa Timur (41,3%); 15. Banten (17,2%); 16. NTB (92,2%); 17. NTT (33,7%); 18. Kalimantan Barat (44,1%); 19. Kalimantan Selatan (41,2%); 20. Kalimantan Tengah (41,9%); 21. Kalimantan Timur (62,8%); 22. Kalimantan Utara (30,6%); 23. Sulawesi Barat (22,1%); 24. Sulawesi Selatan (55,1%); 25. Sulawesi Utara (46%); 26. Sulawesi Tenggara (34,8%); 27. Sulawesi Tengah (50,8%); 28. Gorontalo (69,5%); 29. Maluku (24,8%); 30. Maluku Utara (37,8%); 31. Papua (5,5%); 32. Papua Barat (34,4%); 33. Bali (belum melaksanakan PIN Polio); 34. D.I. Yogyakarta (tidak melaksanakan PIN polio oral).
Oleh: Siswanto* Dalam kesehatan ada adagium “kesehatan bukanlah segalanya, namun segalanya tanpa kesehatan bukanlah apa-apa”. Health is not everything, but everything without health is nothing. Kiranya adagium di atas sangat tepat, bila dikaitkan dengan paradigma sehat. Yakni bahwa mempertahankan tetap sehat melalui perilaku hidup sehat lebih penting dan bermakna dari pada mengobati setelah jatuh sakit. Hari ini tanggal 10 Maret diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Ginjal Sedunia (HGS) (World Kidney Day). HGS digagas oleh the International Society of Nephrology (ISN) dan the International Federation of Kidney Foundations (IFKF) sejak tahun 2006. Pada peringatan HGS, kita semua diperingatkan tentang pentingnya organ ginjal sebagai salah satu organ ekskresi. Organ ginjal sangat vital dalam mempertahankan fungsi tubuh secara keseluruhan (homeostasis). Oleh karena itu, memelihara kesehatan ginjal merupakan sesuatu yang penting. Peringatan HGS mempunyai misi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya organ ginjal terhadap kesehatan tubuh manusia dan mengurangi kejadian penyakit ginjal di seluruh dunia. Secara spesifik mempunyai tujuan (1) meningkatkan kesadaran faktor risiko penyakit ginjal kronis (PGK), (2) meningkatkan kesadaran deteksi dini PGK, (3) membudayakan perilaku pencegahan, dan (4) meningkatkan peran tenaga kesehatan dalam deteksi dini dan pengurangan faktor risiko. Diagnosis PGK ditentukan oleh laju filtrasi glomerulus (GFR). PGK terbagi dalam lima stadium, mulai stadium 1 sampai dengan stadium 5. Stadium 5, sebagai stadium terakhir, apabila GFR kurang dari 15 ml per menit. Stadium inilah yang disebut dengan gagal ginjal (renal failure) yang harus ditolong dengan hemodialisis (cuci darah). Ginjal, sebagai organ tubuh untuk ekskresi, berfungsi untuk membuang sampah metabolisme, menjaga keseimbangan cairan tubuh dan elektrolit, serta membuat hormon untuk pengaturan tekanan darah dan pembentukan sel darah merah. Agar tubuh tetap berfungsi dengan optimal, orang dengan gagal ginjal harus menjalani hemodialisis sebagai substitusi dari ginjal yang telah rusak. Data Riskesdas 2013 menunjukan angka kejadian PGK di Indonesia pada usia ≥ 15 tahun sebesar 0,25%. Penderita di pedesaan (0,3%) lebih banyak daripada di perkotaan (0,2%). Jumlah penderita diperkirakan akan semakin bertambah karena tingginya prevalensi hipertensi dan diabetes di Indonesia. Penanganan PGK di Indonesia sudah dijamin oleh program JKN melalui BPJS. Pembiayaan PGK tersebut saat ini menempati urutan nomor dua dalam penyerapan klaim BPJS. Beban biaya hemodialisis terhadap penderita PGK cukup besar. Taruhlah sekali hemodialisis sebesar Rp. 982.600,- (klaim BPJS). Biaya hemodialisis per bulan (dengan 3 kali hemodialisis per minggu) akan diperoleh angka Rp. 11.791.200,- Dalam setahun akan diperoleh angka sebesar Rp. 141.494.400,- Ini tentunya belum termasuk biaya out-of-pocket yang tidak dijamin oleh BPJS. Belum lagi biaya tidak langsung (indirect cost), akibat sakit. Biaya tidak langsung mencakup produktivitas yang hilang oleh si sakit dan juga oleh anggota keluarga yang merawat. Kalau biaya langsung (biaya perawatan) dan biaya tidak langsung dijumlahkan tentunya kerugian ekonomi akan cukup besar. Di pihak lain, sesungguhnya PGK bisa dicegah dan dihindari dengan mencegah faktor risiko terjadinya PGK. Pelbagai faktor risiko terjadinya PGK adalah mulai dari perilaku, diet, dan kejadian penyakit yang menimbulkan komplikasi pada ginjal.   Memelihara kesehatan ginjal Ginjal sebagai organ vital harus dipelihara agar tetap sehat. Berikut adalah beberapa tips untuk memelihara kesehatan ginjal. Pertama, cukupi kebutuhan cairan tubuh dengan minum air. Secara umum kebutuhan air adalah sekitar 2 liter. Apabila diasumsikan buah, sayur, sup, dan lain-lain, menyumbangkan 500 ml air, maka kebutuhan minum air adalah sekitar 1,5 liter. Tentu, kebutuhan ini bersifat relatif tergantung aktivitas seseorang. Bila banyak berkeringat tentu kebutuhan air meningkat. Kedua, mengonsumsi makanan yang sehat. Makan makanan yang sehat, misal dengan memperbanyak buah dan sayur, akan memelihara kesehatan ginjal. Hindari makan terlalu banyak lemak dan makanan yang mengandung purin (jerohan). Lemak tidak jenuh akan menimbulkan penebalan pembuluh darah, yang ujungnya menyebabkan hipertensi. Makanan banyak mengandung purin akan meningkatkan asam urat, yang bisa mengganggu fungsi ginjal. Ketiga, lakukan olah raga teratur. Olah raga teratur akan mempertahankan berat badan ideal dan menurunkan tekanan darah. Dengan berat badan ideal dan tensi yang normal akan menyehatkan ginjal. Keempat, hati-hati dengan suplemen dan jamu yang mengandung bahan kimia obat. Beberapa suplemen mengandung asam amino yang tinggi. Asam amino yang tinggi tentu akan membebani ginjal. Konsumsilah suplemen sesuai dengan aturan pakai yang tertera pada kemasan. Jamu yang dicampuri dengan bahan kimia obat juga berbahaya untuk kesehatan ginjal. Bahan kimia obat yang dicampurkan sering tidak jelas dosisnya. Dan, tindakan semacam ini melanggar aturan Badan POM. Kelima, berhentilah merokok. Zat-zat toksik dalam rokok dapat merusak pembuluh darah, yang ujungnya dapat menyebabkan hipertensi. Naiknya tekanan darah dapat menyebabkan terganggunya fungsi ginjal. Itulah sebabnya, hipertensi merupakan faktor risiko terjadinya PGK. Keenam, jangan terlalu berlebihan konsumsi obat penghilang rasa nyeri. Konsumsi obat penghilang rasa nyeri (NSAID) yang terus menerus dalam jangka lama bisa merusak ginjal (nephrotoksik). Sebaiknya penggunaan NSAID yang lama harus berkonsultasi dengan dokter. Ketujuh, jika menderita hipertensi atau kencing manis, maka harus dipantau fungsi ginjalnya secara berkala. Biasanya dokter yang merawat akan memantau fungsi ginjal (Renal Function Test) secara berkala. Perlu diketahui bahwa salah satu komplikasi kencing manis adalah diabetic nephropathy (kerusakan ginjal akibat diabetes). Masyarakat luas harus mendapatkan pemahaman yang utuh dan holistik terkait dengan berbagai upaya pencegahan untuk mempertahankan ginjal tetap sehat. Adagium bahwa mencegah lebih baik dari pada mengobati adalah sangat tepat untuk mempertahankan kesehatan ginjal. Teknologi kedokteran memang selalu berkembang dalam memberikan solusi pengobatan. Namun, harus diingat bahwa teknologi sering kali beriringan dengan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan. Dalam hal ini termasuk teknologi hemodialisis (cuci darah). Semoga masyarakat semakin sadar tentang pentingnya menjaga kesehatan ginjal.*)   [*] Dr. Siswanto, MHP, DTM. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemenkes RI

 

TUGAS POKOK :

MELAKSANAKAN PELAYANAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM KESEHATAN MELIPUTI LABORATORIUM KLINIK, RADIOLOGI, LABORATORIUM KESEHATAN MASYARAKAT, LABORATORIUM LINGKUNGAN, LABORATORIUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SERTA PELAYANAN MEDICAL CHECK UP

[tabs] [tab title="Motto" icon="entypo-book"]

IKHLAS DALAM MELAYANI, PROFESIONAL DALAM BEKERJA

[/tab] [tab title="VISI" icon="entypo-book"]

Menjadi Laboratorium yang memberikan Pelayanan Kesehatan secara Profesional dan Paripurna

[/tab] [tab title="MISI" icon="entypo-book"]
  1. Memberikan Pelayanan Kesehatan Terbaik kepada Masyarakat.
  2. Melaksanakan Pelayanan Laboratorium yang Profesional, Berkualitas, Akuntabel serta Efektif dan Efisien
  3. Menjalin Kemitraan dalam Jejaring Kesehatan dan Customer (Mitra Bisnis) secara Profesional.
  4. Meningkatkan Kualitas Tenaga Laboratorium dengan Pendidikan serta Pelatihan yang Kompeten dan Berkelanjutan.
  5. Meningkatkan Jenis Pelayanan Laboratorium dengan penerapan Teknologi (Laboratorium) yang mutakhir
[/tab] [/tabs]

MAKLUMAT PELAYANAN

“DENGAN INI, KAMI PIMPINAN DAN KARYAWAN UPTD BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI LAMPUNG SANGGUP MENYELENGGARAKAN PELAYANAN SESUAI STANDAR PELAYANAN YANG TELAH DITETAPKAN DAN APABILA TIDAK MENEPATI JANJI INI, KAMI SIAP MENERIMA SANKSI SESUAI PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN YANG BERLAKU “

 

KEBIJAKAN MUTU

  1. UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung menerapkan Good Professional Practice
  2. Mempunyai kompetensi sehingga Hasil pengujian dng akurasi dan presisi yang tinggi serta kemamputelusuran pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan hingga kebutuhan serta kepuasan pelanggan atau pihak yang berkepentingan terpenuhi;
  3. Personil laboratorium memahami, menerapkan dan memelihara dokumentasi mutu serta melakukan peningkatan yang berkelanjutan sesuai ISO/IEC 17025: 2005”

Ruang Lingkup Layanan

  1. Laboratorium Klinik a. Laboratorium Patologi Klinik i. Pemeriksaan Fungsi Jantung ii. Pemeriksaan Fungsi Ginjal iii. Pemeriksaan Diabetes iv. Pemeriksaan Fungsi Hati v. Pemeriksaan Darah Lengkap vi. Pemeriksaan Urine Lengkap b. Laboratorium Imunoserologi i. Pemeriksaan Anti HIV, CD4 ii. Pemeriksaan DBD iii. Pemeriksaan Hepatitis A, B, C iv. Pemeriksaan Thypoid v. Pemeriksaan TORCH vi. Pemeriksaan Reumatoid Factor vii. Dan lain- lain c. Laboratorium Mikrobiologi i. Pemeriksaan Kultur dan Resistensi Antibiotik ii. Pemeriksaan Air Bersih, Minum dan Limbah iii. Pemeriksaan Uji Sterilitas Ruangan Operasi Rumah Sakit iv. Pemeriksaan Angka Kuman Makanan & Minuman di Rumah Sakit v. Pemeriksaan Angka Kuman Bahan bahan Industri Makanan vi. Pemeriksaan TBC/ BTA, Malaria, dan lain-lain
  2. Laboratorium Kesehatan Masyarakat a. Pemeriksaan Air Bersih, Minum, Limbah dan Air Badan Air b. Pemeriksaan Toksikologi, Pemanis, Pewarna, Pengawet c. Pemeriksaan Logam Berat d. Pemeriksaan Narkoba (Urine dan Darah)
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/buku-pegangan-sosialisasi-jkn.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Fatwa-No.-4-Tahun-2016-Tentang-Imunisasi.pdf"]
Gubernur M Ridho Ficardo telah meluncurkan program Gerbang (Gerakan Membangun) Desa Saburai yang merupakan penggabungan pembangunan partisipatif masyarakat (bottom up) dan perencanaan pembangunnan pemerintah provinsi (top down)
NO BENTUK KEGIATAN LOKASI KETERANGAN
1 Program  Revitalisasi Posyandu 100 Desa Pemberian Alat Pengukur Berat Badan & Tinggi Badan
2 Program Revitalisasi Poskesdes 25 Desa Pelatihan Bidan & Kader Kesehatan
3 Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Layak 52 Desa Pemberdayaan Masyarakat  & kelestrarian penggunaan Sarana air minum dan sanitasi yang dibangun oleh PU Pengairan & Pemukiman  
4 Program Sanitasi Terpadu Berbasis Masyarakat (STBM) 100 Desa Mendorong penggunaan Jamban Keluarga, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) Rumah Tangga dan Tempat Pembuanga Sampah Rumah Tangga dengan melatih warga desa untuk membangun sarana tersebut, menyiapkan cetakan WC dan SPAL serta program pemicuannya
 
ASPEK VARIABEL SKOR ANGKA SKOR
Sarana Keberadaan/Akses ke Fasilitas Kesehatan Ada puskesmas/pustu/poskesdes 6
Keberadaan Tenaga Kesehatan Ada Tenaga Kesehatan 9
Lingkungan Tempat buang air besar sebagian keluarga Jamban bersama/ sendiri 1-9
Tempat buang sampah sebagian besar keluaraga Dalam lubang lalu dibakar 2
Pembuangan limbah rumah tangga sebagian besar keluarga Lubang resapan 7
JUMLAH SKOR YANG TERUNGKIT 25 -33
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
WUJUDKAN MAJU SEJAHTERA DENGAN DEKATKAN AKSES
Bandar Lampung, 22 Januari 2016 Beberapa hari lagi kita memperingati Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari Pada tahun ini kita mengangkat tema Cegah Stunting Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi. Tema ini diangkat mengingat masalah Stunting adalah masalah yang memerlukan perhatian kita bersama dan sering “pendek” bukan dianggap masalah. Pendek (Stunted) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting adalah suatu kondisi pendek yang diketahui berdasarkan pengukuran Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh WHO (daftar tabel lampiran 1). Stunting dibagi menjadi 2 katagori sangat pendek dan pendek Pada tahun 2012 dunia menyepakati (WHO) agar setiap negara mengupayakan agar Stunting pada balita <5%. Secara nasional, gambaran Stunting pada balita dapat dilihat dari 3 riset yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI yaitu tentang Proporsi Pendek dan Sangat Pendek Balita.
TAHUN SANGAT PENDEK PENDEK JUMLAH
2007 18,8 % 18,0% 36,8%
2010 18,5% 17,1% 35,6%
2013 18,0% 19,2% 37,2%

Sumber Riskesdas 2007,20010, 2013

Provinsi Lampung berada di atas rerata nasional yaitu 42,64% untuk balita sangat pendek dan pendek pada Riskesdas 2013 tersebut. Artinya dari responden yang memiliki balita didapatkan 42,64% balitanya sangat pendek atau pendek. Di tahun 2014 Kementerian Kesehatanh merilis turunan dari Riskesdas 2013 yang disebut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2014. IPKM 2014 membreak down data Riskesdas 2013 dilevel Kabupaten Kota untuk prevalensi Balita Sangat Pendek dan Pendek adalah sebagai berikut Kabupaten Lampung Barat 34,60%, Tanggamus 39,66%, Lampung Selatan 43,01 %, Lampung Timur 43,17%. Lampung Tengah 52,68%, Lampung Utara 32,44%, Way Kanan 29,80 %, Tulang Bawang 40,99%, Pesawaran 50,81%, Pringsewu 36,99%, Mesuji 43,43%, Tulang Bawang Barat 40,08%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Metro 47,34% Kadinkes Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan bahwa ,”Faktor penyebab Stunted merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. “ Beliau juga mengatakan bahwa,”Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted Cara mencegah Stunting pada Balita dengan dilakukan semenjak masa kehamilan yaitu cek kehamilan secara teratur, bersalin di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, imunisasi bayi secara lengkap, ASI Ekslusif, timbang bayi dan balita setiap bulan di Posyandu, dan ajak seluruh anggota keluarga untuk berPerilaku Hidup Bersh dan Sehat (PHBS). Ayo Cegah Stunting, Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, 7 Maret 2016. Hari ini, Senin 7 Maret 2016 Gubernur Lampung yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Lampung Ir Arinal Djunaidi melakukan presentasi dan wawancara tentang Rumah Sakit (Mobile Clinic) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) di Jakarta Kementerian PANRB menggelar kompetisi inovasi pelayanan publik 2016. Dari 2.476 inovasi yang mengikuti, Panitia telah menetapkan 99 inovasi yang dianggap terbaik (Top 99). “Kompetisi inovasi pelayanan publik 2016 , telah menghasilkan top 99 inovasi dengan keputusan Menteri PANRB nomor 51 tahun 2016,” kata Ibu Mirawati Sudjono, Ak, M.Sc, Deputi Bidang Pelayanan Publik. Mirawati menjelaskan, kompetisi ini merupakan wujud dari program one agency - one inovation (OAOI). Dengan kata lain setiap kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, kabupaten/kota wajib menciptakan minimal satu inovasi setiap tahun Bapak Arinal Djunaidi menyampaikan,”Pemerintah provinsi Lampung membuat inovasi untuk mengatasai masalah kegawatdaruratan dan akibat bencana, kasus rujukan, mendekatkan akses kepada masyarakat dengan megadakan Rumah Sakit Keliling.” Dalam kondisi diluar kegawatdaruratan bencana secara periodik RS Keliling memberikan pelayanan di Daerah Otonomi Baru (DOB) yang belum memiliki rumah sakit. Dr Hj Reihana, M.Kes juga menambahkan bahwa Landasan hukum penyelenggaraan RS Keliling ini adalah UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Gubernur Nomor 16 Tahun 2013 tentang Pedoman Mobile Clinic yang mengatur sumber daya manusia, pembiayaan dan operasional. Tujuan penyelenggaraan RS Keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung adalah mendekatkan akses pelayanan kesehatan rujukan komprehensif terutama spesilistik dasar (anak, penyakit dalam, kebidanan, bedah) dan spesialis lain kepada masyarakat terutama DOB yang belum memiliki rumah sakit, daerah rawan bencana, kondisi kegawatdaruratan, skrining kasus dan pemeriksaan penunjang yang lengkap. Model mini bus rumah sakit keliling dengan dimensi total panjang 6.646mm, lebar 1.945mm dan tinggi 2.165mm ini dilengkapi dengan peralatan kesehatan untuk ruang operasi kecil- sedang, ruang konsultasi dan ruang laboratorium. RS keliling dilengkapi fasilitas konsultasi, laboratorium, operasi minor dan mayor, radiologi, recovery room, angkutan tenaga medis. RS keliling melakukan pelayanan selama 3 hari di lokasi dengan kegiatan : hari pertama melakukan skrining dan pelayanan poli umum di Puskesmas rawat inap setempat, hari kedua pelayanan spesialistik dan tindakan operasi, hari ketiga pemulihan pasca operasi dan pencatatan dan dokumentasi rekam medik. Kunjungan pasien di RS keliling selama tiga tahun terakhir menunjukan antusias masyarakat, pada tahun 2013 adalah 2.516 kunjungan, tahun 2014 adalah 1.905 kunjungan dan tahun 2015 adalah 1.464 kunjungan. Pembiayaan operasional bersumber APBD Provinsi Lampung. RS keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung masuk pada ajang Indonesian International Motor Show (IIMS) 2012 dan dipublikasi oleh Kementerian Kesehatan RI (www.kemkes.go.id) pada Rabu, 10 Oktober 2012. Pelayanan kesehatan di RS Keliling (Mobile Clinic) ini Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melakukan MoU dengan RSUD Abdul Moeloek, RSUD Menggala, RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo dan RSUD Liwa untuk penyediaan dokter spesialis sedangkan untuk paramedis melibatkan puskesmas rawat inap sebagai base camp Mobile Clinic. Semoga Provinsi Lampung dapat memenangkan kompetisi ini melalui program inovasi RS Keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Demikinan rilis ini dibuat semoga bermanfaat.
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, 25 Januari 2016. Seiring dengan masuknya musim penghujan yang berhubungan dengan peningkatan kasus DBD maka sejak bulan Oktober 2015 telah disebarkan logistik penanggulangan DBD berupa inseksitisida cair (bahan pengasapan) dan bubuk larvasida (Abate) sebagai berikut :
No Kabupaten/Kota Insektisida (Dalam liter) Larvasida (Dalam Kg)
1 Tulang Barat Barat 80 200
2 Bandar Lampung 200 500
3 Pesisir Barat 60 60
4 Way Kanan 10 60
5 Tulang Bawang 50 200
6 Lampung Tengah 120 120
7 Lampung Utara 100 200
8 Tanggamus 60 0
9 Pesawaran 0 60
10 Metro 0 200
11 Lampung Barat 0 100
  Jumlah 680 1.700
Dalam 1 liter cairan insektisida dapat melakukan pengasapan hingga 50 rumah sehingga apabila telah dikeluarkan 680 liter maka ada 34.000 rumah yang bisa diasapi dengan logistik dari Pemerintah Provinsi Lampung. Dalam 1 kg larvasida dapat digunakan oleh 200 bak mandi (asumsi 1 bak mandi berukuran 1m3) bila telah didistribusikan sejumlah 1.700 kg maka bak mandi yang dapat menggunakan logistik dari Pemerintah Provinsi 340.000 bak mandi Hingga saat ini Bufer Logistik Insektisida dan Larvasida Pemerintah Provinsi Lampung adalah 660 liter insektisida dan 2300 kg larvasida Demikinan rilis ini dibuat semoga bermanfaat .
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampungdr. AsihHendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, Februari 2016 – Poliomyelitis atau penyakit polio adalah penyakit yang sangat menular disebabkan oleh infeksi virus polio, terutama pada anak-anak. Virus ini ditularkan dari orang ke orang, menyebar melalui kontak dengan makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan kotoran (tinja) atau sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Virus ini akan menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan. Gejala awal polio adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri tungkai. Dalam sebagian kecil kasus bisa mengalami kelumpuhan. Tidak ada obat untuk mengobati polio, akan tetapi dengan kebersihan pribadi yang baik dan sanitasi publik yang baik dapat membantu mencegah penularan penyakit polio, disamping itu langkah terbaik pencegahan polio adalah dengan vaksinasi atau imunisasi polio. Agar Polio “hilang” di masyarakat, yang harus kita lakukan adalah mensukseskan program imunisasi. Setiap bayi harus mendapatkan imunisasi dasar diantaranya adalah Polio. Idealnya imunisasi Polio diberikan 4 kali pada umur 0, 2, 4 dan 6 bulan, dan dapat diulang (booster) pada usia 18-24 bulan serta usia 5 tahun. Berdasarkan penilaian resiko yang dilakukan WHO sejak 2011 - 2014 menunjukkan bahwa 20% kasus non polio AFP tidak mendapatkan imunisasi polio lengkap. Gambaran ini serupa dengan keadaan pada tahun 2005 pada saat terjadi KLB Polio di Indonesia sehingga Indonesia direkomendasikan untuk melaksanakan PIN (Pekan Imunisasi Nasional). Pada tahun ini PIN Polio akan dilaksanakan serentak di 34 Provinsi di Indonesia pada tanggal 8 hingga 15 Maret 2016. PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan Polio kepada kelompok sasaran imunisasi anak dibawah 5 tahun (anak usia 0 s.d 59 bulan) untuk mendapatkan imunisasi Polio tanpa memandang status imunisasi yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi. Tujuan PIN Polio sendiri adalah untuk dapat menghilangkan/eradikasi Polio di dunia pada tahun 2020 dengan memastikan tingkat imunitas terhadap Polio di populasi dengan cakupan > 95% dan memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 0 s.d 59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus Polio yang disebabkan oleh virus Polio sabin. Dalam rangka PIN Polio, akan dibuatkan Pos PIN yang terletak di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Pustu, Klinik Swasta, Rumah Sakit dan tempat-tempat umum seperti terminal, pelabuhan dan bandara. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung bekerjasama dengan lintas sektor terkait seperti Kanwil Kemenag, Disdik, Diskominfo, Biro Binsos, Biro Hukum, Bappeda, Badan PP dan PA, BPMPD, KKP, Kepolisian, TP PKK, IDI, IDAI, PRSSI, ARSADA, IAKMI, PPNI, IBI telah melakukan pertemuan pendahuluan dan telah dibentuk kelompok kerja (Pokja) dengan program awal adalah penyebarluasan informasi pelaksanaan PIN Polio, persiapan logistik, dan pencanangan PIN Polio oleh Gubernur untuk tingkat Provinsi dan oleh Bupati/Walikota untuk tingkat Kabupaten/Kota. Untuk Provinsi Lampung direncanakan pencanangan dilakukan pada tanggal 8 Maret 2016 di Lapangan Waydadi Sukarame yang akan langsung dihadiri oleh Bapak Gubernur M. Ridho Ficardo dan Ketua TP PKK Ibu Yustin Ficardo. Pada saat yang sama di Kabupaten/Kota juga dilakukan pencanangan oleh para Bupati/Walikota masing-masing. “Untuk Provinsi Lampung, jumlah Pos PIN yang disediakan yaitu 8.450 pos dengan 38.974 kader yang terlibat. Sasaran PIN Polio tahun ini usia 0 s.d 59 bulan adalah 788.992 jiwa dan jumlah vaksin yang disiapkan sebanyak 47.000 vial, dimana 1 vial dapat digunakan untuk 17 sasaran”, disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, ibu dr. Hj. Reihana, M.Kes. Pemberian imunisasi Polio ini dengan cara di tetes, tiap balita mendapatkan 2 tetes vaksin Polio. Tidak ada efek samping dari pemberian vaksin ini, akan tetapi ada beberapa kondisi dimana balita tidak boleh diberikan vaksin ataupun harus ditunda pemberian vaksin Polionya. Dalam siaran di radio ASN tanggal 12 Februari 2016 kemarin, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga menyatakan harapan beliau agar seluruh balita usia 0 s.d 59 bulan yang ada di Provinsi Lampung mendapatkan vaksin Polio untuk mencapai eradikasi Polio (bebas Polio) pada akhir tahun 2020. “Kepada para orangtua agar membawa putra putrinya yang berusia 0 s.d 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 untuk mendapatkan vaksin Polio”, tambah beliau.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, Maret 2016 – Besok Pos PIN Polio yang terletak di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Pustu, Klinik Swasta, Rumah Sakit dan tempat-tempat umum seperti terminal, pelabuhan dan bandara dapat didatangi orang tua yang memiliki anak usia 0-59 bulan untuk mendapatkan imunisasi polio GRATIS yang dilaksanakan serentak di 34 Provinsi di Indonesia pada tanggal 8 hingga 15 Maret 2016. Di Provinsi Lampung, jumlah Pos PIN yang disediakan sebanyak 8.810 pos dengan 39.765 kader yang terlibat. Sasaran PIN Polio tahun ini usia 0 s.d 59 bulan adalah 784.736 jiwa dan jumlah vaksin yang disiapkan sebanyak 46.750 vial, dimana 1 vial dapat digunakan untuk 17 sasaran. Polio merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus poliomyelitis yang menyebabkan kelumpuhan pada otot terutama otot tungkai bawah dan tidak bisa disembuhkan, selain itu dapat juga menyerang otot lain seperti otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak, ditularkan dari orang ke orang, dan menyebar melalui kontak dengan makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan kotoran (tinja) atau sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Gejala awalnya antara lain demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri tungkai. Dalam sebagian kecil kasus bisa mengalami kelumpuhan. Tidak ada obat untuk mengobati polio, akan tetapi dengan kebersihan pribadi yang baik dan sanitasi publik yang baik dapat membantu mencegah penularan penyakit polio, disamping itu langkah terbaik pencegahan polio adalah dengan vaksinasi atau imunisasi polio. Idealnya imunisasi Polio diberikan 4 kali pada umur 1, 2, 3 dan 4 bulan, dan dapat diulang (booster) pada usia 18-24 bulan serta usia 5 tahun. Tujuan PIN Polio sendiri adalah untuk dapat menghilangkan/eradikasi Polio di dunia pada tahun 2020 dengan memastikan tingkat imunitas terhadap Polio di populasi dengan cakupan > 95% dan memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 0 s.d 59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus Polio yang disebabkan oleh virus Polio sabin, sehingga diharapkan semua sasaran mendatangi Pos PIN tanpa memandang apakah sudah pernah di vaksin polio ataupun belum divaksin. Pemberian imunisasi Polio ini dengan cara di tetes, tiap balita mendapatkan 2 tetes vaksin Polio. Tidak ada efek samping dari pemberian vaksin ini, akan tetapi ada beberapa kondisi dimana balita harus ditunda pemberian vaksin Polionya seperti sakit diare atau muntah, ataupun kondisi balita yang tidak boleh diberikan vaksin seperti memiliki penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh contohnya HIV AIDS. Untuk Provinsi Lampung direncanakan pencanangan dilakukan esok hari pada tanggal 8 Maret 2016 di Lapangan Waydadi Sukarame yang rencananya akan dihadiri oleh Bapak Gubernur M. Ridho Ficardo dan Ketua TP PKK Ibu Yustin Ficardo. Pada saat yang sama di Kabupaten/Kota juga dilakukan pencanangan oleh para Bupati/Walikota masing-masing. Demi terwujudnya generasi Lampung yang sehat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyampaikan harapan beliau agar seluruh balita usia 0 s.d 59 bulan yang ada di Provinsi Lampung mendapatkan vaksin Polio untuk mencapai eradikasi Polio (bebas Polio) pada akhir tahun 2020. “Saya harapkan dukungan dari organisasi masyarakat, organisasi profesi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh unsur masyarakat agar mendukung para orangtua untuk membawa putra putrinya yang berusia 0 s.d 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 untuk mendapatkan vaksin Polio”, himbau beliau.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, Maret 2016, Kemarin Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes membuka pertemuan Prarakerkesnas Provinsi Lampung 2016 yang dihadiri oleh seluruh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, Direktur Rumah Sakit Umum Provinsi dan Kabupaten/Kota, dan organisasi profesi. Tujuan kegiatan ini adalah menggalang koordinasi dalam rangka identifikasi permasalahan dan inovasi daerah yang nantinya akan dipergunakan sebagai masukan substansi pembahasan tingkat nasional. Sepuluh (10) topik yang menjadi substansi Rakerkesnas (Rapat Kerja Kesehatan Nasional) yang harus disiapkan adalah : Penguatan puskesmas dalam mendukung upaya promotif dan preventif; Penguatan peran serta lintas sektor secara terintegrasi untuk mendukung masyarakat sehat; Upaya pencapaian target akreditasi Puskesmas dan RS; Pemenuhan, pemerataan, retensi dan pendayagunaan SDM Kesehatan; Sinkronisasi dan integrasi SDM Kesehatan; Sinkronisasi struktur organisasi dan tata kerja (SOTK) sesuai Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014; Pengendalian dan peningkatan kewaspadaan penyakit serta penanggulangan resiko Kejadian Luar Biasa (KLB); Kesiapan bidang kesehatan dalam penertiban tenaga kesehatan WNA (Warga Negara Asing) dalam pelayanan kesehatan; Pengawalan penggunaan anggaran Dana Alokasi Khusus (DAK); dan Mendukung pelaksanaan JKN dengan mempersiapkan fasilitas kesehatan yang bermutu. Prarakerkesnas Provinsi Lampung 2016 ini dihadiri oleh dr. Anung Sugihantono, M. Kes., Dirjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan RI sebagai keynote speaker dengan materi Pendekatan Keluarga Sehat dalam rangka menyongsong Indonesia Sehat serta paparan empat (4) mahasiswa doktoral Universitas Andalas tentang penelitian inovasi yang dilakukan di Lampung yaitu Simulator Permata Bunda dalam Prediksi Resiko Bawah Garis Merah Pada Balita, Model Regita dalam Pencegahan Komplikasi Kehamilan dan Persalinan, Model Puzzle Budi dalam Peningkatan ASI Eksklusif, dan Model Promosi Kesehatan Ayla dalam Pengendalian Penyakit Malaria di Daerah Endemis. Pada Prarakerkesnas Lampung 2016 ini juga diadakan lomba poster kesehatan bagi puskesmas se-Provinsi Lampung dan lomba twitter bagi seluruh peserta prarakerkesnas yang hadir di Hotel Novotel. Adapun pemenang lomba poster adalah : juara 1 Puskesmas Branti Lampung Selatan dengan tema Periode Emas, juara 2 Dinkes Way Kanan dengan tema Stop Merokok, juara 3 Puskesmas Buay Nyerupa Lampung Barat dengan tema Waspada TB/Tuberkulosis, harapan 1 adalah Dinkes Way Kanan tema Posyandu, harapan 2 Puskesmas Biha Pesisir barat dengan tema Ayo Makan Ikan, dan harapan 3 Puskesmas Margojadi Mesuji dengan tema Stop Pasung.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Tahun ini kembali setiap tanggal 24 Maret kita peringati Hari Tuberkulosis Sedunia sebagai momen untuk membangun kesadaran masyarakat akan bahaya Tuberkulosis sebagai penyakit infeksi saluran napas yang paling sering dijumpai di Indonesia termasuk di Provinsi Lampung. Jumlah penderita TB di Provinsi Lampung sebanyak ….. orang. Banyaknya jumlah penderita TB (TB aktif maupun yang sudah pernah tertular dan kumannya ‘tidur’), ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan sehingga tidak sembuh tuntas, keterlambatan dalam menegakkan diagnosa, timbulnya masalah baru yang mempersulit eliminasi TB (yaitu MDR TB, TB HIV, TB DM, TB rokok dan TB pada anak), kemudian kejadian tuberkulosis juga berhubungan dengan situasi sosio ekonomi yang belum baik menjadi penyebab mengapa tuberkulosis belum dapat tuntas dieliminasi di Indonesia bahkan Dunia. Tema global pada tahun ini adalah Unite To End TB. Sedangkan tema nasional adalah Gerakan Keluarga Menuju Indonesia Bebas TB melalui Gerakan Temukan TB, Obati Sampai Sembuh (TOSS TB). Kuman TB sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, tapi sampai sekarang belum ada satu negara pun di dunia yang bebas tuberkulosis. Sebenarnya apakah TB itu? TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain seperti: kelenjar getah bening (limfadenitis TB), tulang belakang (Spondilitis TB), selaput otak (meningitis TB), perut (peritonitis TB), kulit, dan tenggorokan (laryngitis TB) dan ditularkan dari orang ke orang. Diagnosanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Gejala lain adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, dada terasa nyeri, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. Penyakit TB dapat menyebabkan kematian jika tidak diberi obat. Setelah dinyatakan positif TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai tuntas selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, 1 (satu) bulan sebelum masa pengobatan berakhir, dan akhir pengobatan. Obat TB diberikan secara gratis dan dapat diperoleh di puskesmas/rumah sakit. Kepala Dinas Kesehatan menyampaikan keprihatinannya, “Yang patut kita waspadai adalah bertambahnya pasien tuberkulosis yang resisten alias kebal atau pasien MDR TB, kemudian pasien TB –HIV, pasien TB-Diabetes Mellitus, TB dikalangan perokok juga kasus TB pada anak-anak”. MDR TB atau Multi Drug Resistent Tuberculosis dimana MDR TB memiliki kekebalan terhadap obat anti TB utama, yaitu rifampisin dan INH. Pengobatan MDR TB pun lebih sulit, obatnya lebih banyak yang harus diminum, waktu pengobatannya lebih lama sampai sekitar dua tahun dan memiliki efek samping yang lebih sering. Menurut data Kemenkes, ada sekitar 6800 kasus MDR TB dan Indonesia menduduki peringkat ke 10 yang merupakan MDR TB terbanyak di dunia. Untuk pelayanan TB MDR, di Provinsi Lampung sudah mulai beroperasional pada bulan Juni di Rumah Sakit Abdul Moeloek. Untuk suspek MDR selama tahun 2014 sebanyak 162 suspek MDR yang telah diperiksa menggunakan alat Genexpert. Dengan 39 kasus positif MDR, dan baru 17 kasus yang bersedia di obati. Provinsi Lampung telah melaksanakan strategi DOTS sejak lebih dari satu dasawarsa, dimana DOTS adalah metode pengawasan untuk meningkatkan ketaatan pasien menuntaskan pengobatan. Di Puskesmas misalnya, pasien TB wajib minum obat di depan petugas kesehatan. Pada tahun 2015, angka kesembuhan dicapai sebesar 86,05 % dengan succes rate sebesar 91,96 % merupakan salah satu hasil dari upaya-upaya yang dilakukan secara sistematis dan terstruktur oleh Program TB Paru di Provinsi Lampung. Dalam memerangi penyebaran TB terutama pada anak anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya, Pemerintah Indonesia telah memasukkan imunisasi BCG (untuk mencegah TB berat misalnya : TB selaput otak dan TB paru berat) sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasonal beserta dengan 4 jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT, dan campak. dr. Hj. Reihana, M.Kes menambahkan, “Penderita TB berpotensi menularkan penyakit pada orang disekitarnya, termasuk keluarga dan lingkungan kerja. Oleh karena itu sangat penting untuk menemukan dan mengobati seluruh penderita TB sampai sembuh”. Perlu kesadaran bagi masyarakat bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka harus hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan, tidak membuang ludah sembarangan tetapi meludah di tempat tertentu seperti kaleng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol. Buanglah dahak tersebut ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian. Sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tisu, menutup mulut pada waktu batuk dan bersih, menelan obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh, cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung/mulut pada waktu batuk dan bersin, ventilasi yang cukup, sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah, mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur, serta menjemur alat-alat tidur sesering mungkin karena kuman TB mati oleh sinar matahari. “Masyarakat juga perlu memberikan dukungan moril kepada penderita TB agar berobat sampai sembuh tuntas dan tidak bersikap diskriminatif terhadap pasien TB serta melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)”, pesan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Bandar Lampung, 29 Januari 2016 - Sehubungan dengan maraknya penyakit yang terkait dengan virus zika maka kami kirimkan hal hal yang sering ditanyakan seputar penyakit tersebut. PERTANYAAN SEPUTAR PENYAKIT VIRUS ZIKA 1. Apakah virus Zika itu? Virus Zika merupakan salah satu virus dari jenis Flavivirus. Virus ini memiliki kesamaan dengan virus dengue, berasal dari kelompok arbovirus. 2. Bagaimana cara penularan virus Zika? Virus Zika ditularkan melalui gigitan nyamuk. Nyamuk yang menjadi vektor penyakit Zika adalah nyamuk Aedes, dapat dalam jenis Aedes aegypti untuk daerah tropis, Aedes africanus di Afrika, dan juga Aedes albopictus pada beberapa daerah lain. Nyamuk Aedes merupakan jenis nyamuk yang aktif di siang hari, dan daoat hidup di dalam maupun luar ruangan. Virus zika juga bisa ditularkan oleh ibu hamil kepada janinnya selama masa kehamilan. 3. Siapa yang berisiko terinfeksi virus Zika? Siapapun yang tinggal atau mengunjungi area yang diketahui terdapat virus Zika memiliki risiko untuk terinfeksi termasuk ibu hamil. 4. Apa saja gejala infeksi virus Zika? 1 diantara 5 orang yang terinfeksi virus zika menunjukkan gejala. Adapun gejala infeksi virus zika diantaranya demam, kulit berbintik merah, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, sakit kepala, kelemahan dan terjadi peradangan konjungtiva. Pada beberapa kasus zika dilaporkan terjadi gangguan saraf dan komplikasi autoimun. Gejala penyakit ini menyebabkan kesakitan tingkat sedang dan berlangsung selama 2-7 hari. Penyakit ini kerap kali sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan medis. Pada kondisi tubuh yang baik penyakit ini dapat pulih dalam tempo 7-12 hari. 5. Apakah ada komplikasi yang ditimbulkan dari infeksi virus Zika? Pada beberapa kasus suspek Zika dilaporkan juga mengalami sindrom Guillane Bare. Namun hubungan ilmiahnya masih dalam tahap penelitian. 6. Apa jenis pemeriksaan virus Zika untuk ibu hamil? Pada minggu pertama demam, virus Zika dapat dideteksi dari serum dengan pemeriksaan RT-PCR. 7. Apakah sudah ada vaksin atau obat untuk virus Zika? Belum ada vaksin atau pengobatan spesifik untuk virus ini, sehingga pengobatan berfokus pada gejala yang ada. 8. Apa yang harus dilakukan jika terinfeksi virus Zika? Jika terinfeksi virus Zika, maka lakukan hal-hal sebagai berikut: • Istirahat cukup • Konsumsi cukup air untuk mencegah dehidrasi • Minum obat-obatan yang dapat mengurangi demam atau nyeri • Jangan mengkonsumsi aspirin atau obat-obatan NSAID (non stereoid anti inflmation) lainnya. • Cari pengobatan ke pelayanan kesehatan terdekat. 9. Bagaimana cara pencegahan penularan virus Zika? Pencegahan penularan virus ini dapat dilakukan dengan: • menghindari kontak dengan nyamuk • melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) 3M Plus (menguras dan menutup tempat penampungan air, serta memanfaatkan atau melakukan daur ulang barang bekas, ditambah dengan melakukan kegiatan pencegahan lain seperti menabur bubuk larvasida, menggunakan kelambu saat tidur, menggunakan obat nyamuk atau anti nyamuk, dll) • melakukan pengawasan jentik dengan melibatkan peran aktif masyarakat melalui Gerakan Satu Rumah Satu Juru Pemantau Jentik (Jumantik) • meningkatkan daya tahan tubuh melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) seperti diet seimbang, melakukan aktifitas fisik secara rutin, dll. pada wanita hamil atau berencana hamil harus melakukan perlindungan ekstra terhadap gigitan nyamuk untuk mencegah infeksi virus Zika selama kehamilan, misalnya dengan memakai baju yang menutup sebagian besar permukaan kulit, berwarna cerah, menghindari pemakaian wewangian yang dapat menarik perhatian nyamuk seperti parfum dan deodoran. 10. Negara manasajakah yang melaporkan keberadaan kasus penyakit virus Zika? Beberapa negara yang pernah melaporkan keberadaan kasus penyait virus Zika adalah Barbados, Bolivia, Brasil, Cap Verde, Colombia, Dominican Republic, Ecuador, El Salvador, French Guiana, Guadeloupe, Guatemala, Guyana, Haiti, Honduras, Martinique, Mexico, Panama, Paraguay, Puerto Rico, Saint Martin, Suriname, Venezuela, dan Yap 11. Apakah efek yang bisa ditimbulkan pada ibu hamil yang terinfeksi virus Zika? Selama ini belum ada bukti yang kuat bahwa ibu hamil lebih berisiko atau mengalami penyakit yang lebih berat selama masa kehamilan. Selain itu juga belum diketahui bahwa ibu hamil lebih berisiko terhadap sindrom guillan barre. 12. Apakah ada hubungan antara infeksi virus Zika dengan kejadian mikrosefalus kongenital? Hubungan infeksi virus Zika pada ibu hamil dengan kejadian mikrosefalus pada bayi yang dilahirkan belum terbukti secara ilmiah, namun bukti ke arah itu semakin kuat. 13. Apa yang harus dipertimbangkan ibu hamil yang akan bepergian ke area terjangkit virus Zika? Sebelum pergi ke area terjangkit virus Zika dianjurkan untuk melakukan konsultasi dengan dokter. Selain itu pada masa selama berada di area terjangkit diharapkan melakukan perlidungan ekstra terhadap gigitan nyamuk. 14. Ibu hamil yang bagaimanakah yang harus dilakukan pemeriksaan virus Zika? Ibu hamil yang harus diperiksa untuk virus zika adalah yang memiliki riwayat perjalanan dari area terjangkit dan juga memiliki 2 atau lebih gejala dari infeksi virus Zika. Demikinan rilis ini dibuat semoga bermanfaat .
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Jakarta, 13 Maret 2016 Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Indonesia pada bulan Januari-Februari 2016 sebanyak 13.219 orang penderita DBD dengan jumlah kematian 137 orang. Proporsi penderita terbanyak yang mengalami DBD di Indonesia ada pada golongan anak-anak usia 5-14 tahun, mencapai 42,72% dan yang kedua pada rentang usia 15-44 tahun, mencapai 34,49%. Melihat banyaknya kasus DBD pada anak usia sekolah, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Oscar Primadi mengimbau sekolah untuk meningkatkan aktivitas fisik khususnya pada pukul 09.00 -10.00 dimana waktu nyamuk aedes aegypty biasa menggigit. Anak-anak bisa berolah raga atau bergerak di kelas pada jam 09.00 10.00, terang Oscar, di Jakarta (13/3). Kejadian penyakit demam berdarah dengue di Indonesia cenderung meningkat pada pertengahan musim penghujan sekitar Januari, dan cenderung turun pada Februari hingga ke penghujung tahun. Hingga bulan maret ini belum ditemukan kembali kasus baru penderita DBD, meskipun begitu masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap penyakit DBD.

logo

VISI

Lampung Maju dan Sejahtera

MISI

Meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan IPTEK dan inovasi, budayamasyarakat dan toleransi kehidupan beragama

MOTO

Sehat Modal Utama Menuju Lampung Sehat Maju & Sejahtera

JANJI/MAKLUMAT PELAYANAN

Melayani Masyarakat agar Sehat dan Mandiri

PENYELENGGARAAN PELAYANAN PUBLIK

  1. Pelaksanaan Pelayanan
  2. Pengelolaan Pengaduan masyarakat
  3. Pengelolaan Informasi
  4. Pengawasan Internal
  5. Penyuluhan pada Masyarakat
  6. Pelayanan Konsultasi
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/standar-pelayanan-publik-dinkes-lampung.pdf"]
Download dokumen ALKESMAK disini
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/ANEKA.pdf"]
Bapelkes Provinsi Lampung Jl. Soekarno Hatta No.7, Bandar Lampung. (0721)704550, 787277 Jl. Way Pisang No.4, Pahoman, Bandar Lampung. (0721) 267458       bapelkes1  
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-Perizinan-Kosmetika.pdf" title="SOP Perizinan Kosmetika"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-Perizinan-UKOT.pdf" title="SOP Perizinan UKOT"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-SBR-TPKA.pdf" title="SOP SBR-TPKA"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-STRTTK.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Seksi%20KOSKESTRAD.pdf"]
[catlist categorypage="yes"]
  1. Surat permohonan permintaan obat dan perbekalan kesehatan yang menyebutkan atau melampirkan dengan nama dan jumlah obat dan perbekalan kesehatan ditujukan ke Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
  2. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi meneruskan surat permintaan tersebut melalui Sekretaris
  3. Surat kemudian diolah oleh Kepala Bidang Bina Farmasi dan Alat Kesehatan
  4. Kepala Bidang Bina Farmasi dan Alat Kesehatan mendisposisikan berkas permintaan ke Kepala Seksi Obat dan NAPZA untuk ditindaklanjuti
  5. Kepala Seksi Obat dan NAPZA menugaskan JFU Seksi Obat dan NAPZA untuk melakukan telaah dan analisis berkas permintaan obat dan perbekalan kesehatan dengan mempertimbangkan ketersediaan dan tanggal kadaluarsa
  6. JFU Seksi Obat dan NAPZA menyampaikan hasil telaah ke Kepala Bidang Bina farmasi dan Alat Kesehatan melalui Kepala Seksi Obat dan NAPZA
  7. Hasil telaah yang menyatakan persetujuan atas jumlah dan jenis obat yang diberikan, dikembalikan ke JFU Seksi Obat dan NAPZA untuk menjadi dasar keluarnya obat dari Gudang Farmasi
  8. Obat yang akan diterimakan ke pemohon didokumentasikan pada Surat Bukti Barang Keluar (SBBK)
  9. Obat/Perbekkes diserahkan kepada pemohon
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/FLOW-CHART-PBF.pdf" title="FLOW CHART PBF"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/CHECK-LIST-DOKUMEN-IZIN-PEDAGANG-BESAR-FARMASI.pdf" title="CHECK LIST DOKUMEN IZIN PEDAGANG BESAR FARMASI"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/PERMOHONAN-LOLOS-BUTUH-APOTEKER.pdf" title="PERMOHONAN LOLOS BUTUH APOTEKER"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-Pelayanan-data-Perencanaan.pdf" title="SOP Pelayanan data Perencanaan"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/ALUR-LOGISTIK-SEKSI-P2-permintaan-OBAT.pdf" title="ALUR LOGISTIK SEKSI P2 - permintaan OBAT"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/SOP-KONSULTASI-PROGRAM-PENGENDALIAN-PENYAKIT.pdf" title="SOP KONSULTASI PROGRAM PENGENDALIAN PENYAKIT"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/SOP%20Permintaan%20Logistik%20Penyehatan%20Lingkungan.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/SOP%20Seksi%20Penyehatan%20Lingkungan.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/SOP%20Pembiayaan%20dan%20Jaminan%20Kesehatan.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Kebijakan%20dan%20progres%20implementasi%20program%20jaminan%20kesehatan%20nasional.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/ALUR%20PERMOHONAN%20IZIN%20OPERASIONAL%20RUMAH%20SAKIT%20TIPE%20B.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/SOP%20Penerbitan%20Surat%20Rekomendasi%20Kelas%20RS.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/TATA%20CARA%20PENGURUSAN%20STR.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Form%20SOP-Flowchartt%20STR.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Alur%20TUBEL.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/DASAR%20HUKUM%20TUGAS%20BELAJAR%20DAN%20IZIN%20BELAJAR.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/FORM-PERMOHONAN-PELAYANAN-PUBLIK.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Profil%20Kesehatan%20Provinsi%20Lampung%202010.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Profil%20Kesehatan%20Provinsi%20Lampung%20Tahun%202014.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/doc/Data%20Evaluasi%20Pembangunan%20Kesehatan%20Provinsi%20Lampung%20Tahun%202014.pdf"]

lampung

Tugas Pokok dan Fungsi Dinas Kesehatan Provinsi Lampung berdasarkan Pergub Lampung No. 32 Tahun 2010

  1. Dinas Kesehatan mempunyai tugas melaksanakan urusan Pemerintahan Provinsi dibidang Kesehatan berdasarkan asas otonomi yang menjadi wewenang, tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang diberikan Pemerintah kepada Gubernur serta tugas lain sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan oleh Gubernur berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
  2. Untuk menyelenggarakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Dinas Kesehatan mempunyai fungsi:
  • Perumusan kebijakan kesehatan skala Provinsi, pengaturan, perencanaan dan penetapan standar/pedoman;
  • Pengelolaan dan pemberian rekomendasi pertimbangan teknis izin sarana dan prasarana Kesehatan khusus seperti Rumah Sakit Jiwa, Rumah Sakit Kusta dan Rumah Sakit Kanker;
  • Pelaksanaan Sertifikasi Teknologi Kesehatan dan Gizi;
  • Pelaksanaan Surveilans Epidemiologi serta penanggulangan wabah penyakit menular dan tidak menular dan Kejadian Luar Biasa;
  • Penempatan tenaga kesehatan strategis, pemindahan tenaga kesehatan tertentu antar Kabupaten/Kota serta penyelenggaraan pendidikan tenaga dan pelatihan kesehatan;
  • Pembinaan, pengendalian, pengawasan dan koordinasi bidang Kesehatan;
  • Penyelenggaraan upaya kesehatan berskala Provinsi dan yang belum dapat diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota;
  • Pelayanan administratif; dan
  • Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Gubernur sesuai dengan tugas dan fungsinya.
 
Hari ini 18 Maret 2016 adalah hari terakhir sweeping PIN Polio 2016 di Provinsi Lampung. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan, “PIN Polio berlangsung pada tanggal 8 sampai dengan 15 Maret 2016 dan dilanjutkan dengan 3 (tiga) hari sweeping yaitu mencari balita sasaran ke rumah-rumah bila belum mendatangi POS PIN selama sepekan sebelumnya”. Sasaran PIN Polio Provinsi Lampung adalah balita usia kurang dari 59 bulan sejumlah 786.031 jiwa. Hasil laporan yang diterima Posko PIN Polio Dinas Kesehatan Provinsi Lampung hingga pukul 19.00 WIB kemarin (17 Maret 2016), jumlah balita yang mendapatkan imunisasi Polio selama PIN dan sweeping adalah 811.526 orang (103,24%) dimana target yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI sebesar 95%. Adapun rincian untuk Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut: Lampung Barat 28.144 balita (102,12%), Tanggamus 59.199 balita (104,97%), Lampung Selatan 106.621 balita (102,26%), Lampung Timur 94.153 balita (98,47%), Lampung Tengah 113.847 balita (103,22%), Lampung Utara 60.362 balita (105,47%), Way Kanan 49.028 balita (104,78%), Tulang Bawang 49.202 balita (100,41%), Pesawaran 41.274 balita (107,3%), Pringsewu 34.052 balita (111,41%), Mesuji 21.417 balita (99,48%), Tulang Bawang Barat 26.495 balita (103,01%), Pesisir Barat 15.126 balita (97,56%), dan Bandar Lampung 94.268 balita (105,78%). Jumlah logistik vaksin PIN Polio yang disiapkan adalah 44.140 vial, dimana yang digunakan sebanyak 43.736 vial, rasio penggunaan adalah 18,55 berarti penggunaan vaksin dianggap sesuai perencanaan karena 1 vial vaksin PIN Polio berisi 20 dosis.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
Sehatnegeriku.com - Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia, setelah HIV sehingga harus ditangani dengan serius. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap tahunnya. Penyakit TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara, dari satu orang ke orang lainnya, biasanya melalui percikan dahak seseorang yang telah mengidap TB. Ketika bakteri TB masuk ke dalam tubuh, maka bakteri tersebut bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu, sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Bakteri tersebut akan menyerang paru-paru dan menyebabkan penderita mengalami batuk berdahak secara terus menerus, biasanya selama lebih dari tiga minggu. Bahkan kadang-kadang, pengidap TB juga akan mengalami batuk berdarah. Pengidap TB juga akan cenderung cepat merasa lelah, kehilangan nafsu makan, berkeringat di malam hari, dan mengalami demam tinggi. Faktor tertentu juga akan meningkatkan risiko seseorang terkena TB. Berikut adalah sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan: Sistem imun yang lemah, dapat menyebabkan seseorang dengan mudah terkena bakteri TB. Penyakit seperti HIV/AIDS, diabetes, kanker, dan penyakit ginjal akan membuat bakteri TB dengan mudah menyerang tubuh. Lingkungan tinggal atau kerja. Kontak secara terus menerus dengan pengidap TB akan meningkatkan peluang seseorang terkena TB. Jika Anda mengetahui ada pengidap TB di lingkungan sekitar, kenakanlah masker dan cuci tangan sesering mungkin. Orang-orang yang bekerja di rumah sakit, rumah perawatan, atau panti jompo cenderung tertular TB karena kurangnya ventilasi, sehingga bakteri dengan mudah menular melalui udara. Kemiskinan dan penggunaan zat berbahaya. Jika seseorang tinggal di daerah terpencil dan padat penduduk, maka ia akan dengan mudah terserang TB karena kurangnya ruang atau udara bersih. Kemiskinan juga identik dengan kurangnya akses terhadap perawatan medis, sehingga akan sulit untuk mendiagnosa dan mengobati TB. Penyalahgunaan zat berbahaya dalam jangka panjang seperti alkohol atau narkoba juga akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat orang rentan terkena TB. Perjalanan dari/ke negara dengan tingkat TBC tinggi. Risiko terkena TB akan lebih tinggi pada orang-orang yang tinggal di atau melakukan perjalanan ke negara-negara yang memiliki tingkat tuberkulosis yang tinggi, seperti Afrika, India, Cina, Meksiko, dan pulau-pulau di Asia Tenggara. Kementrian Kesehatan, melalui Program Nasional Pengendalian TB bersama dengan WHO bekerja sama untuk mengendalikan TB dengan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang terdiri dari lima komponen, yaitu Komitmen pemerintah untuk mendukung pengawasan tuberkulosis, Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik sputum. Biasanya dilakukan pada orang-orang yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan paru-paru dan pernapasan, Melakukan pengobatan standar selama 6-8 bulan untuk semua kasus dengan pemeriksaan sputum positif, kemudian dilakukan pengawasan pengobatan secara langsung, Penyediaan obat-obatan anti tuberkulosis secara teratur, menyeluruh, dan tepat waktu. Pencatatan dan pelaporan yang baik, sehingga memudahkan penilaian terhadap hasil pengobatan dan evaluasi program penanggulangan TB. Selain itu pemerintah juga mencanangkan Gerakan Temukan TB Obati, Sampai Sembuh (TOSS). Dengan #TOSSTB diharapkan dapat menggerakkan masyarakat, dimulai dari dalam keluarga untuk aktif terlibat dalam mendorong dan memberikan dukungan orang di sekitarnya yang memiliki gejala TB untuk datang memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat, menjadi Pengawas Menelan Obat bagi mereka yang membutuhkan dan sebagainya. Gerakan #TOSSTB juga mendorong petugas kesehatan, layanan kesehatan memberikan layanan berkualitas sesuai standar dan juga mengajak semua pihak untuk secara bersama ambil bagian dalam upaya pencegahan dan pengendalian TB.
sehatnegeriku.com - Pemenuhan gizi merupakan daya ungkit yang kita perlukan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas Breastfeeding (menyusui) bukan hanya fisik, kecerdasan IQ namun juga kesehatan mental. Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016 di Jakarta Selatan, Selasa (22/3). Menurut Menkes, memberi ASI itu bukan hanya sekedar memberi makan, namun juga stimulasi. Karena tentu pasti ada interaksi kasih sayang yang terbangun di antara ibu dan anak. “Menggendong, kemudian membelai itu memberi kedamaian pada jiwa anak. Saya kira ada korelasinya, dengan kasih sayang ini bisa terjadi. Tapi tanpa ASI, disajikan dalam botol, dan yang memberikan juga bukan ibunya, bagaimana tali kasih bisa terjadi”, tutur Menkes. Terkait hal tersebut, Menkes menyatakan beliau teringat perbincangan bersama dr. Utami Rusli bahwa ada keterkaitan antara menyusui dengan kesehatan mental anak. Terlebih bila dikaitkan dengan peluang bonus demografi di tahun-tahun ke depan, pemberian air susu ibu (ASI) menjadi penting untuk menciptakan generasi yang baik. “ASI ini merupakan jasa para wanita untuk menjadikan generasi negara kita menjadi generasi yang baik nantinya, generasi yang bisa berkompetisi di dunia dan negara lain di kancah global”, tutur Menkes. Menkes juga menambahkan bahwa keberhasilan ASI Eksklusif di Indonesia merupakan keberhasilan dari semua pihak. Namun bagaimanapun juga dukungan dan upaya keras tetap harus ditingkatkan. Selain itu, Menkes juga menyerukan kepada para wanita bahwa ASI tetap yang terbaik. “Saya mendorong dan sangat berterima kasih kepada semua pejuang-pejuang ASI yang telah berupaya untuk memperbaiki generasi kita”, tandas Menkes. Setiap ibu dan anak di manapun dan dalam situasi apapun, akan memperoleh manfaat dari praktek menyusui yang optimal. Publikasi riset terbaru di The Lancet semakin memperkuat bukti yang ada tentang manfaat menysui yang sangat besar bagi anak-anak dan wanita di negara maju dan berkembang. Hal tersbeut kabar gembira bagi para ibu di Indonesia, jurnal The Lancet Breastfeeding Series 2016 mempublikasikan bahwa ASI Eksklusif di Indonesia telah mencapai 65%. Di kebanyakan negara angka menyusui eksklusif bagi bayi usia di bawah 6 bulan masih jauh di bawah 50%, yang merupakan target World Health Assembly (WHA) untuk 2025. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomorhotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat e- mail kontak@kemkes.go.id.
sehatnegeriku.com - Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyatakan status gizi Indonesia saat ini lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek (stunting) di Indonesia. “Dunia kini mengakui, Lancet Breastfeeding Series 2016 menyebutkan ASI Eksklusif kita meningkat dari sebelumnya 38% (Riskesdas, 2013) naik menjadi 65%”, ujar Menkes kepada media usai membuka kegiatan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016 di Jakarta Selatan, Selasa siang (22/3). Sementara itu, keberhasilan lainnya adalah Indonesia berhasil menurunkan angka stunting yang sebelumnya mencapai 37,2% (Riskesdas, 2013) menjadi 29,0% berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di 496 Kabupaten/Kota dengan melibatkan 165.000 Balita sebagai sampelnya. Hasil ini diperkuat juga dengan data UNICEF yang melakukan intervensi selama tiga tahun sejak 2011-2014 di tiga Kabupaten di Indonesia (Sikka, Jayawijaya, Klaten) dan berhasil menurunkan angka stunting sebesar 6%. “Jadi stunting mulai turun, artinya intervensi kita tepat”, kata Menkes. Perlu diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Menkes menerangkan bahwa anak dengan stunting memiliki kelemahan dan berkorelasi terhadap: IQ yang rendah, tinggi badan dan berat badan tidak sesuai grafik perkembangan, serta rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, masyarakat utamanya para remaja harus mengerti dan memahami bagaimana merencanakan keluarga, utamanya mengenai nutrisi. Bagaimana kesiapannya untuk menikah, hamil dan memiliki anak, serta bagaimana agar dapat menjaga kecukupan nutrisi anak tersebut dan dirinya sendiri. “Mulai kapan perbaikan gizi dilakukan? Berdasarkan daur kehidupan, kebutuhan nutrisi harus terpenuhi sejak bayi hingga Manula. Namun yang juga penting adalah para remaja”, tutur Menkes. Menkes menambahkan bahwa upaya perbaikan gizi seyogyanya dilakukan melalui pendekatan continuum of care dengan fokus yang diutamakan adalah 1000 hari pertama kehidupan, yaitu mulai dari masa kehamilan sampai anak berumur 2 tahun. “Nutrisi ini penting, karena ini merupakan daya ungkit untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas”, tutur Menkes. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faks (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.
Pengelolaan Air Minum Rumah Tangga (PAMRT) salah satu poin penting dari STBM, Air merupakan kebutuhna yang sangat penting, jaga kebersihannya dan harus benar pengelolaannya, agar hidup sehat, hidup bahagia. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=5hT7A6EThWs[/embed]
[embed]https://www.youtube.com/watch?v=5yB0DnfojHE[/embed] Hai Perkenalkan...! Kami Sahabat Sehat Digital, Kader kesehatan di dalam dunia digital, Nama kami unik lho dengan khas asli panggilan Masyarakat Lampung, yaitu : Kyay Husada, Atu Bakti, Adin Yandu, Bang Gemar, dan Ses Desi. Kami adalah Maskot milik Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Kami siap mengajak teman - teman semua untuk hidup bersih & sehat, kami ingin lebih dekat dengan teman - teman, ayo kunjungi kami di : Facebook Page : Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Twitter : @dinkes_lampung Website : www.dinkes.lampungprov.go.id e-mail : humas.kesehatanlampung@gmail.com
Iklan Layanan Masyarakat (dalam Bentuk Suara - Radio Spot) bertujuan untuk mengajak dan menghimbau masyarakat khususnya di Provinsi Lampung untuk mengikuti Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio Tahun 2016, yang dilaksanakan pada 8 - 15 Maret 2016 di Pelayanan Kesehatan Terdekat. Ayo bawa Bayi atau Balita anda yang berumur 0 - 59 Bulan. GRATIS ..!!!! [embed]https://www.youtube.com/watch?v=NB8bQF1UZUU[/embed] Facebook Page : Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Twitter : @dinkes_lampung Website : www.dinkes-lampungprov.net e-mail : humas.kesehatanlampung@gmail.com
Rumah Sakit Keliling adalah salah satu terobosan untuk tercapainya kualitas pelayanan kesehatan rujukan dan spesialistik (pelayanan Dokter Spesialis) yang bermutu, merata dan terjangkau terutama kabupaten/kota Daerah Otonomi Baru (DOB) yang belum memiliki rumah sakit, masyarakat di daerah tertinggal dan perbatasan. Rumah Sakit Keliling ini juga dapat digunakan sebagai sarana kesehatan spesialistik pada daerah rawan bencana. RS Keliling merupakan suatu program inovasi dengan tujuan untuk mendekatkan akses pelayanan kesehatan rujukan kepada masyarakat yang di wilayahnya belum terdapat Rumah Sakit. Terdapat Jenis - Jenis Rumah Sakit keliling yang disesuaikan dengan fungsinya, seperti : Mobil RS Keliling, Mobil Radiologi, dan Mobil Recovery serta mobil angkutan medis. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=OagTQbk4tBg[/embed] Facebook Page : Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Twitter : @dinkes_lampung Website : www.dinkes-lampungprov.net e-mail : humas.kesehatanlampung@gmail.com
Kampanye Kesehatan dengan tema PIN POLIO , bertujuan untuk mengajak dan menghimbau masyarakat lampung ikut serta mengajak bayi atau balita umur 0 sampai dengan 59 bulan untuk di imunisasi polio, agar terhindar dari risiko penyakit polio. [embed]https://www.youtube.com/watch?v=WUFlLIg8qW8[/embed] Sehat Maju Sejahtera Facebook Page : Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Twitter : @dinkes_lampung Website : www.dinkes-lampungprov.net e-mail : humas.kesehatanlampung@gmail.com
  Mobile Clinic (RS Keliling) Prov Lampung mnerima penghargaan TOP 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik dr Menteri PAN-RB.
Bandar Lampung, Apr 2016 – 24 Maret adalah Hari Tuberkulosis Sedunia. Kuman TB sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, akan tetapi sampai sekarang belum ada satu negarapun di dunia yang bebas tuberkulosis. Bahkan Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang paling sering dijumpai di Indonesia. toss3 Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization Global Report, 2014) melaporkan bahwa pada tahun 2014 terdapat sekitar 9 juta kasus TB baru di dunia. Di Indonesia kasus TB telah mengalami penurunan, dibandingkan dengan tahun 1990 maka prevalensi TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 38%, sedangkan insidensi TB mengalami penurunan sebesar 12% dan angka kematian TB mengalami penurunan sebesar 37% sampai tahun 2014. Data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir 2015 jumlah orang yang diduga TB yang diperiksa adalah 1.210.659 orang, dan jumlah kasus TB ternotifikasi sebanyak 324.020 kasus termasuk di antaranya kasus TB anak sebanyak 23.080 kasus. TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, masih dikenal sampai sekarang dengan sebutan TBC atau penyakit 3 huruf juga sakit flek. TB bukanlah penyakit bawaan, bukan pula penyakit keturunan ataupun guna-guna, juga bukan disebabkan oleh kelainan genetik apalagi kutukan Tuhan. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain seperti : kelenjar getah bening (limfadenitis TB), tulang belakang (Spondilitis TB), selaput otak (meningitis TB), perut (peritonitis TB), kulit, dan tenggorokan (laryngitis TB). Diagnosanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lainnya. toss4Kuman TB dapat ditularkan pada orang lain melalui udara, yang disebabkan oleh batuk ataupun bersin-bersin dari pasien TB. Lewat batuk dan bersin dari pasien TB tersebut, percik renik (percik dahak yang sangat kecil) yang mengandung kuman TB dari dalam paru akan keluar, terbawa ke udara bebas dan dapat dihirup oleh orang di sekitar. Orang yang menghirup kuman TB tersebut, bisa jadi terinfeksi TB (infeksi laten) akan tetapi belum tentu sakit TB. Namun, kuman TB yang berterbangan di udara tersebut akan mati jika terkena sinar matahari dan sebaliknya, kuman TB akan bertahan lama jika berada pada ruangan yang lembab ataupun ruangan tertutup yang ber-AC. Daya tahan tubuh setiap orang sangat mempengaruhi resiko penularan kuman TB hingga menjadi sakit TB. Penyakit TB ini juga dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, maupun status sosial. Namun ada beberapa faktor yang memiliki resiko penularan TB lebih besar, contohnya mereka-mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB yang belum terobati atau sedang menjalankan pengobatan fase awal, yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti bayi, anak-anak dan orang lanjut usia. Mereka-mereka yang memiliki kekebalan tubuh lemah karena adanya faktor penyakit lain seperti HIV/AIDS (ODHA) dan penyandang penyakit Diabetes Melitus. Dan juga perokok, karena lebih dari 20 persen kasus TB di dunia disebabkan oleh orang yang aktif merokok. Banyaknya jumlah penderita TB (TB aktif maupun yang sudah pernah tertular dan kumannya ‘tidur’), ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan sehingga tidak sembuh tuntas, keterlambatan dalam menegakkan diagnosa, timbulnya masalah baru yang mempersulit eliminasi TB (yaitu MDR TB, TB HIV, TB DM, TB rokok dan TB pada Perempuan), kemudian kejadian tuberkulosis juga berhubungan dengan situasi sosio ekonomi yang belum baik menjadi penyebab mengapa Tuberkulosis belum dapat tuntas dieliminasi di Indonesia bahkan Dunia. Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Gejala lain adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, dada terasa nyeri, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. Gejala untuk TB pada anak adalah batuk-batuk yang cukup lama yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih dan biasanya intensitasnya tinggi atau tidak pernah reda, demam yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas, biasanya disertai dengan keringat malam dan umumnya tidak terlalu tinggi, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas atau dalam 1 bulan tidak mengalami kenaikan dengan penanganan gizi yang adekuat. Nafsu makan menurun atau susah makan dan menjadi lesu atau anak jadi kurang aktif untuk bermain juga merupakan salah satu gejala TB pada anak. Penyakit TB dapat menyebabkan kematian jika tidak diberi obat. Setelah dinyatakan positif TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai TUNTAS selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, 1 (satu) bulan sebelum masa pengobatan berakhir, akhir pengobatan. Obat TB diberikan secara GRATIS dan dapat diperoleh di puskesmas/rumah sakit. Di Indonesia saat ini mulai dikenal TB Resisten Obat (TB RO) atau MDR TB yaitu Multi Drug Resistent Tuberculosis atau dikenal dengan tuberkulosis yang resisten alias kebal, dimana MDR TB memiliki kekebalan terhadap obat anti TB utama, yaitu rifampisin dan INH, juga disertai dengan resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Pengobatan MDR TB pun lebih sulit, obatnya lebih banyak yang harus diminum, waktu pengobatannya lebih lama sampai sekitar dua tahun dan memiliki efek samping yang lebih sering. Perkiraan kasus TB Resisten Obat di Indonesia per tahun adalah 6.800 kasus. Jumlah terduga TB MDR tahun 2015 yang diperiksa sebanyak 15.246 dimana jumlah kasus TB MDR yang diobati tahun 2015 sebanyak 1.547 kasus. Saat ini layanan bagi TB resisten telah tersedia 34 RS Rujukan TB MDR di 26 Provinsi, 13 RS Sub Rujukan dan 1050 Fasyankes Satelit. Untuk pelayanan TB MDR di Provinsi Lampung ada di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, sedangkan Rumah Sakit Rujukan Nasional untuk kasus TB RO atau MDR TB adalah RSU Persahabatan Jakarta. Akses layanan TB semakin meningkat, sejumlah 9.075 Puskesmas (95%) dan 999 Rumah Sakit (62%) telah menyediakan layanan TB sesuai standar program. Akses layanan ini semakin ditingkatkan melalui penguatan jejaring layanan yang melibatkan swasta dalam skema public-private mix dan dimasukkannya pelayanan TB didalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam memerangi penyebaran TB terutama pada anak anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya, Pemerintah Indonesia telah memasukkan imunisasi BCG (untuk mencegah TB berat misalnya : TB selaput otak dan TB paru berat) sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasonal beserta dengan 4 jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT, dan campak. Adapun capaian indikator untuk menggambarkan keberhasilan program pengendalian TB yaitu Case Notification Rate (CNR) dan Treatment Success Rate (TSR). Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, ibu dr. Hj. Reihana, M.Kes, menyampaikan, “Untuk di Provinsi Lampung, angka penemuan kasus sudah mencapai strategi nasional yaitu CNR 99/100.000 penduduk, sedangkan angka keberhasilan pengobatan TB (TSR) yang telah mencapai target di atas 90 % adalah kabupaten Pesawaran, Tanggamus, dan Waykanan”. Oleh sebab itu perlu kesadaran masyarakat bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan, tidak membuang ludah sembarangan tetapi meludah di tempat tertentu seperti lakeng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol. Buanglah dahak tersebut ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian. Sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue, menutup mulut pada waktu batuk dan bersih, menelan obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh, cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung/mulut pada waktu batuk dan bersin, ventilasi yang cukup sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah, mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur, menjemur alat-alat tidur sesering mungkin, karena kuman TB mati oleh sinar matahari. “Saya sangat mengharapkan agar masyarakat Lampung peduli Gerakan TOSS TB, Temukan TB Obati Sampai Sembuh, berikan dukungan moril dengan mengajak penderita TB berobat sampai sembuh tuntas, tidak bersikap diskriminatif terhadap pasien TB, dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga Indonesia Bebas TB 2050 dapat tercapai”, pesan dr. Hj. Reihana, M.Kes.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
  Bandar Lampung, 25 April 2016 – Hari Malaria se-Dunia (HMS) selalu diperingati setiap tahun pada tanggal 25 April, HMS tahun 2016 memiliki tema global “End Malaria for Good”, sementara itu tema nasional adalah “Bebas Malaria Prestasi Bangsa” dengan sub tema “Penemuan dini dan pengobatan tepat, langkah awal menuju eliminasi” dan “Bersama warga, menuju Desa bebas malaria”. Di Indonesia, sekitar 35 persen penduduknya tinggal di daerah berisiko terinfeksi malaria dan dilaporkan sebanyak 38 ribu orang meninggal per tahun karena malaria berat akibat plasmodium falciparum. Wabah malaria hampir terjadi setiap tahun di berbagai wilayah endemik Indonesia. Beberapa wilayah telah dikategorikan sebagai daerah zona merah penderita malaria. Angka kesakitan malaria di Provinsi Lampung tahun 2015 sebesar 0,24 per 1.000 penduduk dengan sebaran endemisitas yang berbeda-beda setiap kabupaten/kota, tahun 2016 kategori endemisitas malaria adalah 5 (lima) kabupaten/kota telah eliminasi malaria yaitu Way Kanan, Tulang Bawang, Pringsewu, Tulang Bawang Barat, dan Kota Metro, 7 (tujuh) Kabupaten/Kota endemis rendah malaria yaitu Tanggamus, Lampung Tengah, Lampung Utara, Mesuji, Lampung Timur, Lampung Barat, dan Kota Bandar Lampung, 2 (dua) Kabupaten endemis sedang malaria yaitu Pesisir Barat dan Lampung Selatan, 1 (satu) kabupaten endemis tinggi malaria yaitu Pesawaran dengan annual parasite incidence (API) 5,6. Startegi spesifik yang telah dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung untuk menekan kasus malaria pada daerah endemis tinggi adalah dengan melakukan Akselerasi pengendalian dengan cakupan seluruh wilayah (universal coverage) seperti kampanye kelambu berinsektisida secara massal, indoor residual spraying (IRS) di desa dengan API > 40 ‰, dan penemuan Dini serta pengobatan tepat dan komplit. Guna mewujudkan eliminasi malaria secara bertahap hingga tahun 2030, dilakukan kegiatan-kegiatan utama seperti 1) Peningktan kualitas dan akses terhadap penemuan dini dan pengobatan malaria, 2) Penjaminan kualitas diagnosis malaria melalui pemeriksaan laboratorium maupun rapid diagnostic test (RDT), 3) Perlindungan terhadap kelompok rentan terutama ibu hamil dan balita di daerah endemis tinggi, 4) Penguatan penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan surveilans kasus malaria, 5) Intervensi vektor termasuk survei vektor, dan 6) Penguatan sistem pengelolaan logistik malaria. Tak kalah pentingnya adalah gerakan masyarakat (Germas) untuk membudayakan gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) di seluruh wilayah. [mark]#sehatmajusejahtera[/mark]
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688)email: humas.kesehatanlampung@gmail.com.
WEB ROKOK 2016
WEB TB 2016
Bandar Lampung, Mei 2016 –P4K Di telapak kaki ibu, disitulah surga kita berada. Kata-kata ini sering sekali kita dengar dan baca yang menunjukkan bahwa betapa berharganya seorang ibu dengan perjuangannya selama mengandung, melahirkan, dan membesarkan anak, tanpa mengurangi peran penting ayah tentunya. Oleh karena itu, perlu kesadaran, perhatian, dan kepedulian seluruh elemen masyarakat terhadap masalah kesehatan ibu terutama kematian ibu. Penurunan angka kematian ibu menjadi indikator dan hasil dari pembangunan suatu negara. Kematian ibu dimaksud diatas adalah kematian ibu yang berkaitan dengan melahirkan, yaitu kematian terjadi pada saat hamil sampai dengan masa nifas yaitu 42 hari setelah melahirkan dimana kematian terjadi karena kehamilannya atau pengelolaannya, bukan karena sebab-sebab lain seperti kecelakaan, terjatuh dll. Di Provinsi Lampung sendiri sampai dengan bulan November 2015 kemarin tercatat ada 115 kasus kematian ibu, yang sebenarnya terus menunjukkan tren penurunan dibanding tahun-tahun sebelumnya (tahun 2014 tercatat 130 kasus kematian, tahun 2013 158 kasus kematian, tahun 2012 178 kasus kematian).Target Nasional sendiri, angka kematian ibu tahun 2015 sebesar 102 kematian per seratus ribu kelahiran. Pemerintah sendiri mengeluarkan berbagai kebijakan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu salah satunya adalah Program Perencanaan Kehamilan danPencegahan Komplikasi yang disingkat P4K. P4K merupakan kegiatan yang difasilitasi oleh bidan desa dalam rangka peningkatan peran aktif suami, keluarga, dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk perencanaan dan penggunaan KB pasca persalinan dengan menggunakan stiker sebagai media notifikasi sasaran dalam rangka meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan bagi ibu dan bayi baru lahir. Pemasangans tiker P4K dilakukan sebagai pendataan jumlah ibu hamil di wilayah desa dimana sebelumnya bidan desa kontak dengan ibu hamil dan keluarganya dalam pengisian stiker sebelum dipasang sehingga ibu hamil, keluarga, dan masyarakat dapat mengetahui kapan perkiraan waktu kelahiran, dimana dan siapa tenaga kesehatan yang akan membantu proses kelahiran, calon donor darah, dan kendaraan yang akan digunakan untuk membawa ibu hamil kefasilitas kesehatan yang sudah dipilih termasuk jika ada kegawatdaruratan yang terjadi sehingga perlu dirujuk kefasilitas kesehatan tingkat selanjutnya. Selainitu, ada beberapa hal yang sangat dianjurkan untuk dilakukan oleh ibu hamil dan suami didampingi keluarga, antara lain dengan merencanakan persalinan di fasilitas kesehatan, melakukan pemeriksaan minimal 4 kali selama masa kehamilan (1x pada usia kandungan sebelum 3 bulan, 1x pada usia kandungan 4-6 bulan, 2x pada usia kandungan 7-9 bulan), istirahat cukup dan melakukan aktivitas fisik yang dianjurkan antara lain dengan mengikuti kelas ibu hamil di bidan atau puskesmas atau fasilitas kesehatanlainnya, minum vitamin atau tablet tambah darah, memperhatikan gizi dan kesehatan selama kehamilan, serta menjaga kebersihan pribadi dan lingkungan. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes berpesan, “Agar ibu dan bayi sehat dan selamat, mohon ibu untuk merencanakan persalinannya, memeriksakan kehamilannya secara teratur ketenaga kesehatan yang ibu nyaman untuk berkonsultasi, tentunya juga harus didampingi bapak beserta keluarga. Bahkan juga masyarakat sekitar juga turut waspada sehingga bila terjadi kegawatdaruratan”.
Bandar Lampung, Juni 2016 Bulan Suci Ramadhan 1437 H hanya menunggu hitungan hari. Ramadhan merupakan bulan istimewa karena penuh berkah, pengampunan, dan pembebasan dari api neraka. Oleh karenanya, umat muslim menyambut gembira kedatangan Bulan Suci Ramadhan dan berlomba-lomba untuk mendapatkan semua keutamaan di Bulan Ramadhan tersebut dengan melakukan berbagai ibadah dan amal salih. Agar tetap sehat dan bugar saat menjalani ibadah dan aktivitas di bulan puasa, ada baiknya umat muslim memperhatikan asupan makanan dan minuman saat sahur dan berbuka. Berikut beberapa tips agar puasa tetap bugar dan produktivitas kerja juga tetap maksimal: 1. Saat sahur, perbanyak konsumsi sayur dan buah karena kandungan serat pada sayur dan buah dapat membuat proses pencernaan lebih lambat sehingga menahan rasa lapar lebih lama. Selain itu, batasi pula konsumsi minuman atau makanan yang manis-manis karena membuat cepat lapar di siang hari. 2. Saat berbuka, segera minum cairan yang manis agar kebutuhan tubuh akan glukosa dan cairan dapat segera terpenuhi. Hindari makan dan minum terlampau banyak saat berbuka karena dapat membebani kerja lambung. Jangan langsung berbuka puasa dengan makanan berkalori tinggi seperti kolak, cendol, nasi dan lauk pauknya karena proses pencernaan makanan tersebut menguras banyak energi. Buka puasa yang paling baik yaitu dengan makan buah karena saat mencerna buah, tubuh tidak membebani kerja sistem pencernaan. Gula buah juga sangat mudah dicerna dan cepat diserap tubuh sehingga cepat mengembalikan energi setelah berpuasa seharian. Selama puasa, sebaiknya makan dengan menu yang sederhana, namun lengkap gizinya, seperti nasi dengan kombinasi 1 menu sayuran dan 1 menu lauk. Semakin sederhana jenisnya, semakin ringan untuk pencernaan. 3. Aturlah agar konsumsi air putih tetap 8 gelas sehari. 4. Hindari minuman bersoda karena membuat pencernaan tak berfungsi secara normal. 5. Hindari makanan yang dingin, asam, pedas, dan bersantan karena dapat merangsang asam lambung keluar lebih banyak. 6. Kurangi makanan yang mengandung lemak agar cadangan lemak yang disimpan oleh tubuh dapat dipecah terlebih dulu 7. Saat puasa (terutama saat sahur) sebaiknya kurangi porsi minum teh karena teh bersifat diuretik, yaitu membuat lebih sering buang air kecil, sehingga membuat tubuh kekurangan cairan/dehidrasi. 8. Untuk meningkatkan kebugaran tubuh saat berpuasa, umat muslim dapat melakukan olahraga low impact seperti bersepeda santai, yoga, atau jalan cepat selama 30 menit sebanyak tiga kali seminggu. Adapun waktu yang tepat untuk berolahraga adalah tiga jam setelah sahur atau satu jam sebelum berbuka puasa. Setelah sahur, tubuh masih menyimpan banyak energi untuk berolahraga, sedangkan olahraga menjelang berbuka mencegah terjadinya dehidrasi dan anjloknya gula darah. 9. Agar bugar saat berpuasa, makanlah karbohidrat kompleks saat sahur seperti ubi, jagung, singkong, oatmeal, roti gandum, atau nasi merah karena kadar gulanya rendah dan dapat menahan kenyang lebih lama hingga 6 jam. Selain tips di atas, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar puasa dapat berjalan dengan lancar bagi umat muslim yang memiliki kondisi khusus sebagai berikut: 1. Ibu hamil atau menyusui Meskipun ada keringanan untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil maupun menyusui, ada kalanya seorang wanita hamil atau menyusui ingin tetap berpuasa. Mengingat kondisi tiap wanita berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi ibu hamil atau menyusui yang ingin berpuasa: a. Konsultasikan dengan dokter mengenai kemungkinan berpuasa dalam kondisi hamil atau menyusui. Seorang dokter akan memberikan nasihat sesuai dengan kondisi masing-masing ibu. Adakalanya tidak diperbolehkan karena kondisi ibu yang memang tidak memungkinkan, ada yang diperbolehkan tapi tentu saja dengan beberapa catatan. b. Mantapkan tekad terlebih dahulu, karena keyakinan akan sanggup berpuasa bisa menghilangkan was-was atau kekhawatiran akan kondisi ibu maupun anak. c. Penuhi kebutuhan gizi sehari-hari ibu hamil atau menyusi. Pada dasarnya, berpuasa hanya menggeser waktu makan, sehingga ibu hamil atau menyusui tidak perlu khawatir dirinya akan makan lebih sedikit dari biasanya. Cara memenuhi kebutuhan kalori pada saat sedang hamil atau menyusui tapi tetap ingin berpuasa, salah satunya adalah dengan makan lagi setelah sholat tarawih. Tentu saja, makanan yang disantap tidak harus makanan berat, tapi bisa juga camilan padat gizi yang menyehatkan atau kudapan berbahan sayur dan buah (misalnya salad). Dengan begitu, seorang ibu hamil atau menyusui tetap makan 3 kali dalam sehari. d. Bagi ibu menyusui, dalam menu sahur dan berbuka hendaknya ditambah makanan yang merangsang produksi ASI seperti daun katuk dan daun pepaya, serta diusahakan banyak minum air hangat. Biasanya, pola menyusui akan berubah. ASI pada siang hari lebih sedikit dibandingkan malam hari. Usahakan menyusui setelah sahur lebih lama dan segera susui bayi setelah berbuka. e. Tetap konsumsi suplemen khusus bagi ibu hamil atau menyusui (zat besi, kalsium, asam folat, dan lain-lain). f. Jangan memaksakan diri dan usahakan untuk mengukur kemampuan diri sendiri. Jangan sampai hanya karena ingin seperti ibu lain yang sanggup berpuasa ketika hamil atau menyusui, kemudian memaksakan diri untuk tetap berpuasa. Jika tubuh terasa lemas, pusing, atau berkunang-kunang, segera saja batalkan puasa. 2. Orang tua berusia lanjut/lansia yang ingin berpuasa Pada dasarnya, tidak ada larangan bagi lansia untuk berpuasa. Tentu saja dengan catatan kondisi fisiknya masih kuat (tidak lemah) dan tidak sedang sakit berat. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh lansia yang ingin berpuasa : • Pastikan bahwa kondisi fisik masih kuat dan mampu untuk melaksanakan puasa. Dalam hal ini bisa dipastikan dengan memeriksakan diri ke dokter. Selain memeriksa fisik, biasanya seorang dokter juga akan meminta dilakukan pemeriksaan laboratorium (darah, urin) untuk mengetahui beberapa penanda yang mengarah pada penyakit atau kelainan tertentu, seperti kadar gula, kolesterol, asam urat, dan lain-lain. Selanjutnya, banyak berkonsultasi dan minta nasehat terkait dengan kondisi kesehatan tubuh jika nantinya melakukan puasa. • Hendaknya lansia yang ingin berpuasa tidak sedang mengalami penyakit komplikasi dan penyakit infeksi yang berat. • Terapkan pola makan sehat, minum air putih 1,5 – 2 liter sehari dan jangan hanya mengandalkan suplemen. Disamping mengonsumsi makanan bergizi seimbang, perhatikan pula besarnya porsi sajian, pilih aneka ragam makanan padat gizi, karena kita tidak dapat menggantikan makanan bergizi seimbang dengan suplemen apapun. Ada beberapa hal penting seputar makanan yang harus diperhatikan oleh para lansia, antara lain : banyak mengonsumsi makanan berserat, minum banyak cairan, kurangi lemak dan kolesterol, batasi garam, dan jauhi minuman keras. • Tetap berolahraga dan aktif secara fisik. Sesuaikan dengan kemampuan fisik, mengingat dari segi usia yang sudah tidak muda lagi. Konsultasikan dengan dokter sebelum memulai olah raga, karena termasuk kategori aktivitas berat.
Bandar Lampung, Apr 2016 – GERAKAN TOSS TB, TEMUKAN TB OBATI SAMPAI SEMBUH. 24 Maret adalah Hari Tuberkulosis Sedunia. Kuman TB sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, akantetapi sampai sekarang belum ada satu negarapun di dunia yang bebas tuberkulosis. BahkanTuberkulosis (TB) masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang paling sering dijumpai di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization Global Report,2014) melaporkan bahwapada tahun 2014 terdapat sekitar 9 juta kasus TB baru di dunia. Di Indonesia kasus TB telah mengalami penurunan, dibandingkan dengan tahun 1990 maka prevalensi TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 38%, sedangkan insidensi TB mengalami penurunan sebesar 12% dan angka kematian TB mengalami penurunan sebesar 37% sampai tahun 2014. Data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir 2015 jumlah orang yang diduga TB yang diperiksa adalah 1.210.659 orang, dan jumlah kasus TB ternotifikasi sebanyak 324.020 kasus termasuk di antaranya kasus TB anak sebanyak 23.080 kasus. TB adalah penyakitinfeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, masih dikenal sampai sekarang dengan sebutan TBC atau penyakit 3 huruf juga sakitflek. TB bukanlah penyakit bawaan, bukan pula penyakit keturunan ataupun guna-guna, juga bukan disebabkan oleh kelainan genetik apalagi kutukanTuhan. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain seperti : kelenjar getah bening (limfadenitis TB), tulang belakang (Spondilitis TB), selaput otak (meningitis TB), perut (peritonitis TB), kulit, dan tenggorokan (laryngitis TB).Diagnosanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lainnya. Kuman TB dapatditularkanpada orang lain melalui udara, yang disebabkan oleh batuk ataupun bersin-bersin dari pasien TB. Lewat batuk dan bersin dari pasien TB tersebut, percik renik (percik dahak yang sangat kecil) yang mengandung kuman TB dari dalam paruakan keluar, terbawa ke udara bebas dan dapat dihirup oleh orang di sekitar. Orang yang menghirup kuman TB tersebut, bisa jadi terinfeksi TB (infeksi laten) akan tetapi belum tentu sakit TB. Namun, kuman TB yang berterbangan di udara tersebut akan mati jika terkena sinar matahari dans ebaliknya, kuman TB akan bertahan lama jika berada pada ruangan yang lembab ataupun ruangan tertutup yang ber-AC. Daya tahan tubuh setiap orang sanga tmempengaruhi resiko penularan kuman TB hingga menjadi sakit TB. Penyakit TB ini juga dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, maupun status sosial. Namun ada beberapa faktor yang memiliki resiko penularan TB lebih besar, contohnya mereka-mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB yang belum terobati atau sedang menjalankan pengobatan faseawal, yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti bayi, anak-anak dan orang lanjut usia. Mereka-mereka yang memiliki kekebalan tubuh lemah karena adanya faktor penyakit lain seperti HIV/AIDS (ODHA) dan penyandang penyakit Diabetes Melitus. Dan juga perokok, karenalebihdari 20 persen kasus TB di dunia disebabkan oleh orang yang aktif merokok. Banyaknya jumlah penderita TB (TB aktif maupun yang sudah pernah tertular dan kumannya ‘tidur’), ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan sehingga tidak sembuh tuntas, keterlambatan dalam menegakkan diagnosa, timbulnya masalah baru yang mempersulit eliminasi TB (yaitu MDR TB, TB HIV, TB DM, TB rokok dan TB pada Perempuan),kemudian kejadian tuberkulosis juga berhubungan dengan situasi sosio ekonomi yang belum baik menjadi penyebab mengapa Tuberkulosis belum dapat tuntas dieliminasi di Indonesia bahkan Dunia. Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Gejala lain adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, dada terasa nyeri, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik. Gejala untuk TB pada anak adalah batuk-batuk yang cukup lama yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih dan biasanya intensitasnya tinggi atau tidak pernah reda, demam yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas, biasanya disertai dengan keringat malam dan umumnya tidak terlalu tinggi, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas atau dalam 1 bulan tidak mengalami kenaikan dengan penanganan gizi yang adekuat.Nafsu makan menurun atau susah makan dan menjadi lesu atau anak jadi kurang aktif untuk bermain juga merupakan salah satu gejala TB pada anak. Penyakit TB dapat menyebabkan kematian jika tidak diberi obat. Setelah dinyatakan positif TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai TUNTAS selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, 1 (satu) bulan sebelum masa pengobatan berakhir, akhir pengobatan. Obat TB diberikan secara GRATIS dan dapat diperoleh di puskesmas/rumah sakit. Di Indonesia saat ini mulai dikenal TB Resisten Obat (TB RO)atauMDR TB yaitu Multi Drug Resistent Tuberculosis atau dikenal dengan tuberkulosis yang resisten alias kebal, dimana MDR TB memiliki kekebalan terhadap obat anti TB utama, yaitu rifampisin dan INH, juga disertai dengan resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Pengobatan MDR TB punlebih sulit, obatnya lebih banyak yang harus diminum, waktu pengobatannya lebih lama sampai sekitar dua tahun dan memiliki efek samping yang lebih sering. Perkiraan kasus TB Resisten Obat di Indonesia per tahun adalah 6.800 kasus. Jumlah terduga TB MDR tahun 2015 yang diperiksa sebanyak 15.246 dimana jumlah kasus TB MDR yang diobati tahun 2015 sebanyak 1.547 kasus.Saat ini layanan bagi TB resisten telah tersedia 34 RS Rujukan TB MDR di 26 Provinsi, 13 RS Sub Rujukan dan 1050 Fasyankes Satelit.Untuk pelayanan TB MDR di Provinsi Lampungada di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, sedangkanRumah Sakit Rujukan Nasional untuk kasus TB RO atau MDR TB adalah RSU Persahabatan Jakarta. Akses layanan TB semakin meningkat, sejumlah 9.075 Puskesmas (95%) dan 999 Rumah Sakit (62%) telah menyediakan layanan TB sesuai standar program. Akses layanan ini semakin ditingkatkan melalui penguatan jejaring layanan yang melibatkan swasta dalam skema public-private mix dan dimasukkannya pelayanan TB didalam program Jaminan Kesehatan Nasional. Dalam memerangi penyebaran TB terutama pada anak anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya, Pemerintah Indonesia telah memasukkan imunisasi BCG (untuk mencegah TB berat misalnya : TB selaput otak dan TB paru berat) sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasonal beserta dengan 4 jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT, dan campak. Adapuncapaianindikatoruntukmenggambarkankeberhasilan program pengendalian TB yaituCase Notification Rate (CNR) danTreatment Success Rate (TSR). KepalaDinasKesehatanProvinsi Lampung, ibu dr. Hj. Reihana, M.Kes, menyampaikan, “Untuk di Provinsi Lampung, angkapenemuankasussudahmencapaistrateginasionalyaitu CNR 99/100.000 penduduk, sedangkanangkakeberhasilanpengobatan TB (TSR) yang telah mencapai target di atas 90 % adalahkabupaten Pesawaran, Tanggamus, dan Waykanan”. Oleh sebab itu perlu kesadaran masyarakat bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan, tidak membuang ludah sembarangan tetapi meludah di tempat tertentu seperti lakeng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol. Buanglah dahak tersebut ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian. Sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue, menutup mulut pada waktu batuk dan bersih, menelan obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh, cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung/mulut pada waktu batuk dan bersin, ventilasi yang cukup sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah, mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur, menjemur alat-alat tidur sesering mungkin, karena kuman TB mati oleh sinar matahari. “Sayasangatmengharapkan agar masyarakat Lampung peduli Gerakan TOSS TB, Temukan TB ObatiSampaiSembuh, berikan dukungan moril denganmengajakpenderita TB berobat sampai sembuh tuntas, tidak bersikap diskriminatif terhadap pasien TB, dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga Indonesia Bebas TB 2050 dapattercapai”, pesan dr. Hj. Reihana, M.Kes.
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/06/PROFIL-KESEHATAN-LAMPUNG-2015.pdf"]
Upaya Peningkatan PHBS melalui UKBM
Capaian Bidang Kesehatan : 2 Tahun Kepemimpinan Gubernur & Wakil Gubernur Lampung
Kesehatan Gigi & Mulut sangatlah penting, khususnya bulan Ramadan ini. Yuk kita liat di Leaflet Kesehatan Gigi & Mulut agar lebih tahu informasinya..LEAFLET KESGILUT DEPANLEAFLET KESGILUT BELAKANG
Jakarta, 24 Juni 2016 Kementerian Kesehatan menyampaikan rasa prihatin atas pemalsuan vaksin yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal ini terkait dengan ditangkapnya pelaku pembuat vaksin palsu dibeberapa tempat di sekitar Jakarta. Vaksin yang tidak diketahui kandungannya selain tidak memberikan manfaat untuk ketahanan tubuh juga bisa membahayakan bagi anak yang menerima vaksin tersebut. Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan Kemenkes RI, dra. Maura Linda sitanggang, Ph.D, mengatakan  Kemenkes telah mengeluarkan surat edaran ke Dinkes seluruh Indonesia serta rumah sakit negeri dan swasta berupa pemantauan dan himbauan untuk menggunakan vaksin yang benar. Pengadaan vaksin yang dilakukan oleh fasilitas kesehatan sebaiknya dibeli dari produsen dan distributor yang resmi, ujar dra. Maura dalam konferensi pers di Jakarta (24/06). Menurut dra. Linda mayoritas vaksin palsu yang terindikasi beredar adalah vaksin yang tidak wajib diberikan kepada anak atau hanya pelengkap. Hal ini karena vaksin reguler  yang digunakan di fasilitas kesehatan adalah vaksin program sehingga peredaran dari vaksin palsu hanya bersifat minoritas. Sebagian besar vaksin dapat dibeli melalui e-catalog dan resmi dari pemerintah, sementara para pelaku kejahatan memanfaatkan celah pasar dari vaksin yang bukan bagian dari program pemerintah untuk diproduksi dan diperjualbelikan. Vaksin yang ada di Indonesia disediakan oleh sektor swasta dan pemerintah sehingga rumah sakit dan Puskesmas milik pemerintah tidak membeli vaksin karena diberikan gratis oleh Kemenkes, tetapi Rumah Sakit swasta boleh memilih untuk mendapatkan dari Kemenkes atau membeli. Masyarakat yang menggunakan JKN pasti mendapatkan vaksin yang asli karena hanya boleh menggunakan vaksin dari pemerintah, tetapi bila tidak menggunakan fasilitas JKN maka itu hak dari masyarakat untuk memillih vaksin yang disediakan pemerintah atau membeli dari swasta, pungkasnya. Sementara itu Direktur Produksi Produk Terapetik BPOM Dra. Togi Juice Hutajulu, Apt., MHA mengimbau fasilitas kesehatan tidak tergiur dengan vaksin yang berharga murah namun ternyata palsu. Rumah sakit atau klinik dihimbau untuk tidak membeli produk mencurigakan. Nomor izin edar asli atau palsu bisa di cek di website BPOM: www.pom.go.id, ujar Dra. Togi
Kecelakaan lalulintas di jalan raya merupakan penyebab kematian yang cukup tinggi, keinginan masyarakat untuk merayakan hari raya di kampung halaman dengan kendaraan pribadi baik kendaraan bermotor roda dua maupun roda empat masih sangat tinggi, untuk itu perlu membudayakan keselamatan di jalan raya pada setiap masyarakat pengguna kendaraan bermotor. Agar terhindar dari kecelakaan lalulintas maka diperlukan menjadi pengemudi 'Hebat' artinya H adalah hindari berkendara saat kondisi tubuh tidak sehat, ngantuk, dan kelelahan. E adalah enyahkan asap rokok dan alkohol jika berkendara. Sedangkan B adalah beri pertolongan segera bila terjadi kecelakaan. A adalah ayo beristirahat jika mengantuk atau kelelahan saat mengemudi dan T adalah tetapi ingat, penumpang mempunyai risiko akibat kecelakaan yang sama dengan pengendara. Berikut tips gerakan mengemudi sehat:
  1. Siapkan fisik yang sehat dan prima sebelum mudik.
  2. Gunakan masker dan lindungi diri anda dari asap, debu dan polusi..
  3. Cuci tangan pakai air sabun dan air mengalir sesering mungkin.
  4. Konsumsi makanan dan minuman yang bersih dan layak, perbanyak makan buah dan sayur.
  5. Tidak memakai narkoba atau minuman keras ketika mengemudi.
  6. Tidak buang air kecil/besar sembarangan gunakan dan jaga toilet umum agar bersih, sehat, dan nyaman serta buang sampah pada tempatnya.
  7. Beristirahat tiap 4 jam perjalanan, jangan memaksakan mengemudi bila lelah/mengantuk.
  8. Manfaatkan posko kesehatan atau tempat istirahat untuk bisa melakukan olah raga kecil dan bisa melakukan gerakan relaksasi khususnya kaki, tangan dan leher.
  9. Jangan lupa  membawa obat-obatan sederhana antara lain obat anti diare, obat sakit kepala, obat anti alergi, obat anti mual-muntah khususnya untuk mencegah mabuk perjalanan serta obat sakit maag.
  10. Jangan lupa membawa obat2 rutin dikonsumsi untuk penderita penyakit kronis misal penderita kencing manis, hipertensi, penderita asma, kolesterol tinggi dan asam urat.
  11. Disiplin dan patuhi rambu - rambu lalu lintas. Kurangi kecepatan kendaraan anda saat turun hujan/cuaca buruk. Waspada kondisi jalan sempit, bergelombang atau rusak. Periksa kondisi kelayakan kendaraan Kendaraan tidak melebihi muatan dan tidak menyalahi peruntukan kendaraan (pilihlah kendaran yang tepat). Berhati-hatilah dan selalu waspada agar terhindar dari kejahatan selama dalam perjalanan.
Utamakan keselamatan daripada kecepatan, Jadilah masyarakat bijak di jalan Raya. Salam Sehat
POSKO MUDIK 2016 Dalam rangka menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1437 H dan mengantisipasi arus mudik serta arus balik di Provinsi Lampung, Jajaran Kesehatan Provinsi Lampung membentuk posko pelayanan sebanyak 65 Posko  selama 16 hari (H-7 s.d H+7)  yang terdiri dari:
  1. Posko 24 jam yang didirikan Provinsi yang juga dilengkapi dengan Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunktur di lokasi Rajabasa dan Pasir Putih, serta Memberdayakan RS Keliling (Mobile Clinic) untuk  mendukung posko pelayanan yang ada. Posko Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunktur ini bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan akibat kelelahan dalam perjalanan mudik, dengan petugas sebanyak 5 orang, 3 orang dokter, 1 orang perawat, dan 1 orang pengobat tradisional serta didampingi dan diawasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Persyaratan pasien yang dapat diberikan layanan pijat akupressure dan akupunktur ini antara lain : berusia di atas 12 tahun, tidak dalam keadaan hamil,  tidak menderita penyakit kelainan pembekuan darah, tidak sedang mengkonsumsi obat pengencer darah, tidak dalam kondisi gawat darurat, tidak sedang membutuhkan tindakan operasi, tidak sedang menderita tumor ganas, tidak sedang dalam kondisi terlalu kenyang atau terlalu lapar, tidak menderita penyakit infeksi dan kadar gula < 200 mg/dl. Posko Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunktur ini juga berada di jalur Lintas Barat (Kab. Pringsewu) dan Lintas Timur (Kab. Lampung Tengah).
  2. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga melaksanakan kegiatan pemantauan Posko 3 kali dalam sehari dengan menggunakan Ambulance. Laporan juga kami sampaikan ke Kementerian Kesehatan RI di Jakarta secara online setiap hari pada jam 8 pagi. Koordinator posko kordinator kesehatan: WAYAN ARIAWATI, SKM.,M.Kes  [081279428911], dr. LUSI DARMAYANTI, MPH  [085269086644], APRIAN, S.Kep  [08127934943].
  3. 61 Posko  yang tersebar di 15 Kabupaten Kota se-Provinsi Lampung sepanjang jalur mudik. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kegiatan, baik Puskesmas yang terletak di jalur arus mudik/balik maupun Puskesmas lain yang diperbantukan termasuk RS Pemerintah dan Swasta di wilayah kerjanya.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688) email: humas.kesehatanlampung@gmail.com

 
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/1.RENSTRA-DINAS-KESEHATAN-PROVINSI-LAMPUNG-2015-2016.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/4.RKT-DINKES-PROV-LAMPUNG-2015.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/5.RKT-DINKES-PROV-LAMPUNG-2016.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/6.IKU-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015-2019.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/7.LAKIP-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian1.pdf"] [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/7.LAKIP-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian2.pdf"] [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/7.LAKIP-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian3.pdf"] [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/7.LAKIP-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian4.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/2.PK-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian1.pdf"] [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/2.PK-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2015_bagian2.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/3.PK-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2016_bagian1.pdf"] [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/07/3.PK-DINKES-PROVINSI-LAMPUNG-2016_bagian2.pdf"]

Bandar Lampung,  Agustus 2016. Persentase penduduk miskin di Provinsi Lampung periode Maret Tahun 2016 sebesar 14,29 % atau tertinggi ke-3 se-Sumatera, setelah Provinsi Aceh dan Bengkulu. Sedangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung Tahun 2015 sebesar 66,95 peringkat ke-10 di Sumatera dan peringkat ke-25 dari 34 provinsi se-Indonesia. IPM sendiri merupakan PR besar kita bersama termasuk dunia kesehatan, selain pendidikan dan ekonomi, untuk terus memperbaiki kinerja berperan aktif mewujudkan masyarakat Lampung yang sehat, maju, dan sejahtera.

Untuk itu sangat perlu kebijakan publik berwawasan kesehatan yang dapat mendukung dan menjaga status kesehatan sejak dalam kandungan, bayi, balita, remaja, usia produktif sampai usia lanjut (life cycle) melalui paradigma sehat, penguatan pelayanan kesehatan dan penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional serta penguatan infrastruktur di bidang kesehatan dan penataan SDM agar diarahkan untuk tercapainya tujuan pembangunan kesehatan yang akan berdampak pada perbaikan tingkat kesejahteraan masyarakat. Tak lupa integrasi, koordinasi, dan sinergisme dengan lintas program, lintas sektor dan seluruh pemangku kepentingan akan sangat mendukung percepatan pembangunan khususnya di Provinsi Lampung.

Untuk mendukung salah satu prioritas dan unggulan Gubernur Lampung khususnya dalam pelayanan publik di bidang kesehatan maka agenda rutin Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) pun digelar selama dua hari di Hotel Novotel Bandar Lampung pada tanggal 5 sampai dengan 6 Agustus 2016. Mengambil tema “Keluarga Sehat Pilar Utama Bangsa yang Kuat“ dan substansi diskusi tentang penguatan pelayanan kesehatan terkait dengan pelaksanaan akreditasi di tingkat Puskesmas maupun di RSUD serta implementasi pelaksanaan keluarga sehat dan penggunaan DAK di daerah, Rakerkesda pada tahun ini diselenggarakan untuk menggalang koordinasi, sinergisme penyelenggaraan pembangunan kesehatan baik di jajaran pemerintahan maupun dengan pihak swasta dan stake holder terkait termasuk organisasi profesi, perguruan tinggi terkait dan beberapa Puskesmas terpilih.

Kegiatan Rakerkesda ini dilaksanakan 2 (dua) hari efektif bersamaan dengan kunjungan kerja Ibu Menteri Kesehatan, Prof. Dr. dr. Nina Farid Moeloek, Sp. M (K), dengan agenda sbb: Hari-1 Pembukaan Rakerkesda dilanjutkan dengan paparan Sekretaris Jenderal dan Kepala Badan Litbangkes Kemenkes RI, kemudian pada malam hari dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Pemprov Lampung dengan Badan Litbangkes Kemenkes RI serta paparan materi dilanjutkan dialog interaktif dengan Ibu Menteri Kesehatan. MoU antara pemprov Lampung dengan Badan Litbang Kemenkes RI ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan untuk memperbaiki upaya dan status kesehatan di Provinsi Lampung, mengembangkan jejaring penelitian dan pengembangan kesehatan secara nasional, dimana ruang lingkup Kesepakatan Bersama ini adalah penyelenggaraan penelitian dan pengembangan bidang kesehatan di wilayah Provinsi Lampung, pengembangan model intervensi pengendalian masalah kesehatan secara terpadu di wilayah Provinsi Lampung, pengembangan program tindak lanjut dan implementasi hasil penelitian dan pengembangan di Provinsi Lampung, dan kegiatan lain terkait penelitian dan pengembangan kesehatan. Hari-2 Diskusi Kelompok (Sidang Kelompok), membahas: 1) Penguatan Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Akreditasi) 2) Impementasi Keluarga Sehat 3) Pemanfaatan DAK bidang Kesehatan

Dalam sambutannya pada saat penandatangan MoU dengan Kemenkes RI, bapak Wakil Gubernur Lampung Bahtiar Basri, SH, MM mewakili Gubernur Lampung menyampaikan dukungannya atas kesepakatan bersama tentang penelitian dan pengembangan kesehatan di Provinsi Lampung karena untuk melanjutkan pembangunan sangat memerlukan perencanaan yang baik dan berkualitas, berbasis wilayah dan bukti, “Saya sangat mendukung adanya kesepakatan bersama tentang penelitian dan pengembangan kesehatan di Provinsi Lampung. Kepada Ibu Menteri Kesehatan dan jajaran, kami harapkan agar dapat memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan khususnya di Lampung sai bumi ruwa jurai ini, Badan Penelitian dan Pengembangan Inovasi Daerah (Balitbangnovda) juga akan mendukung pelaksanaan kegiatan litbangkes di daerah”.

Ibu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Reihana, M. Kes, dalam kesempatan ini juga menyampaikan beberapa program unggulan pembangunan kesehatan di instansi yang beliau pimpin, “Program unggulan kesehatan di Provinsi Lampung diarahkan untuk peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan antara lain dengan pembangunan RS Komunitas di Daerah Otonomi Baru (DOB), operasional Mobile Clinic (RS Keliling), pembangunan RS Bandar Negara Husada di Kota Baru (lanjutan), pelayanan Puskesmas PONED dan Rumah Sakit PONEK, mendukung penyediaan alat kontrasepsi, pemberian MP-ASI dan PMT Bumil KEK, peningkatan Puskesmas Plus, dan menguatkan Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Selain itu juga Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat), Kabupaten/Kota Sehat, Penyediaan Kelambu dan Alat Fogging, Posbindu, dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok”.

“Dengan Rakerkesda ini, saya harap dapat menghasilkan komitmen yang lebih implementatif untuk kesinambungan pembangunan kesehatan di Provinsi Lampung, kabupaten/kota agar kiranya dapat mengembangkan program inovasi sesuai dengan kebutuhan di daerah masing-masing, sehingga sinergis antar lintas sektor serta berjenjang dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan Nasional”, tambah beliau.

  POSYANDU 2016 web 2
dbd-new-2016-web-1
web-fktp-2
web-ks-4
web-hkn-2016-2

Upacara Hari Kesehatan Nasional ke-52 Provinsi Lampung di Lapangan Saburai Bandar Lampung "Masyarakat (Lampung) Hidup Sehat, Indonesia Kuat

2

Pemberian Penghargaan kepada Tenaga Kesehatan Teladan Provinsi Lampung oleh Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo, M.Si pada upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 Provinsi Lampung di Lapangan Saburai Bandar Lampung "Masyarakat (Lampung) Hidup Sehat, Indonesia Kuat

10

Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo, M.Si beramah tamah kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes dan Sahabat Sehat Digital (SSD) Maskot Dinkes Prov. Lampung usai upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 Provinsi Lampung di Lapangan Saburai Bandar Lampung "Masyarakat (Lampung) Hidup Sehat, Indonesia Kuat

11

Gubernur Lampung M.Ridho Ficardo, M.Si foto bersama Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes dan anggota Saka Bakti Husada (SBH) Pramuka Lampung usai upacara Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 Provinsi Lampung di Lapangan Saburai Bandar Lampung "Masyarakat (Lampung) Hidup Sehat, Indonesia Kuat

8

[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/KMK-No-1278-Tahun-2009-ttg-TB-dan-HIV.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/KMK-No.-996-ttg-Pedoman-Penyelenggaraan-Sarana-Pelayanan-Rehab-Penyalahgunaan-NAPZA.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/KMK-No.-1076-ttg-Penyelenggaraan-Pengobatan-Tradisional.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/KMK-No.-293-ttg-Eliminasi-Malaria-Di-Indonesia.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/KMK-No.-830-ttg-Pedoman-Pelaksanaan-Penyediaan-Obat-Dan-Vaks.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-28-ttg-Pedoman-Pelaksanaan-Program-JKN.pdf"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-30-ttg-Standar-Pelayanan-Kefarmasian-di-Puskesmas.pdf"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-46-ttg-Akreditasi-Puskesmas-Klinik-Pratama-Tempat-Praktik-Mandiri-Dokter-dan-Dokter-Gigi.zip"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-41-ttg-Pedoman-Gizi-Seimbang.zip"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-42-ttg-Penyelenggaraan-Imunisasi.zip"]
[gview file="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-53-ttg-Pelayanan-Kesehatan-Neonatal-Esensial.zip"]
[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/PMK-No.-65-ttg-Pemberdayaan-Masyarakat-Bidang-Kesehatan.pdf"]
Download PMK tentang Pelayanan Kesehatan pada JKN
Download KMK tentang Pukesmas
Download Penggunaan KMS bagi Balita
Download Persyaratan Kualitas Air Minum
Download SOP Izin Praktik Perawat
 Izin Praktik Bidan
Download PP tentang Pemberian ASI Eksklusif
KMK-No.-679-ttg-Registrasi-Dan-Izin-Kerja-Apoteker

Bandar Lampung, November 2016 – Indonesia Cinta Sehat dan Masyarakat Hidup Sehat, Indonesia Kuat merupakan tema dan subtema Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-52 yang diperingati pada tanggal 12 November setiap tahunnya. Makna HKN ini sejalan dengan program Presiden yaitu Program Indonesia Sehat melalui Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Dinas Kesehatan Provinsi Lampung sendiri akan melaksanakan kegiatan puncak upacara HKN pada tanggal 17 November 2016 di lapangan Korem Gatam Saburai, Enggal, Bandar Lampung dengan Inspektur Upacara Gubernur Lampung Bapak M. Ridho Fichardo. Pada upacara Hari Puncak HKN ini juga diserahkan penghargaan kepada tenaga kesehatan teladan Tingkat Provinsi Lampung dan dapat memeriksakan atau cek kesehatan seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol.

GERMAS merupakan kegiatan promotif dan preventif yang sangat efektif untuk mencegah kematian dan kesakitan akibat penyakit baik menular maupun tidak menular yaitu dengan melakukan aktivitas fisik, mengonsumsi sayur dan buah serta memeriksa kesehatan secara rutin.

Kesehatan merupakan sebuah nikmat terbesar yang dianugerahkan Tuhan sebagai elemen terpenting dalam kehidupan. Kesehatan merupakan kebutuhan sejak janin terbentuk di dalam kandungan hingga masa lanjut usia (lansia) menjelang. Kesehatan juga merupakan investasi, sebuah aset yang bernilai tinggi, sehingga tidak ada satuan harga yang mampu membeli. Setiap orang berhak atas kesehatan, namun juga berkewajiban untuk berperilaku sehat guna mempertahankan serta meningkatkan derajat kesehatan. Mengingat pencegahan penyakit akan sangat tergantung pada perilaku individu yang didukung oleh kualitas lingkungan, ketersediaan sarana dan prasarana serta dukungan regulasi untuk hidup sehat, sehingga diperlukan keterlibatan aktif seluruh komponen baik pemerintah pusat dan daerah, sektor non-pemerintah, dan masyarakat.

“Sekarang ini banyak usia muda yang sakit atau bahkan sampai meninggal karena stroke, diabetes, hipertensi dsb karena perubahan trend perilaku hidup yang tidak sehat.sehingga sangat mengancam produktivitas dan kontribusi pembangunan kita. Oleh karena itu ayo masyarakat Lampung, kita rubah perilaku kita menjadi perilaku sehat untuk mewujudkan Lampung maju sejahtera”, pesan  Gubernur Lampung, M. Ridho Fichardo, S.Pi, M.Si dalam pidatonya.

Sesuai dengan tupoksinya maka untuk mewujudkan Target RPJMD Prov Lampung dan Renstra Dinkes Provinsi Lampung 2015-2019, pada tahun kedua yaitu tahun 2016 ini maka Program Kegiatan Prioritas Bidang Kesehatan Provinsi Lampung yang sudah dan sedang berjalan adalah sebagai berikut :

  1. Pembangunan lanjutan Rumah Sakit Bandar Negara Husada di Kota Baru Lampung sebagai tahap akhir (finishing) sehingga diharapkan awal Tahun 2017 dapat operasional untuk Pelayanan di Kelas 3.
  2. Menyediakan dan memberikan obat pelayanan kesehatan dasar dan obat program serta perbekalan kesehatan sebagai Buffer Stock kepada seluruh Kabupaten/Kota se Provinsi Lampung.
  3. Menyediakan Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) bagi Bayi dan Anak Balita dan Pemberian Makanan Tambahan bagi Ibu Hamil Kurang Energi Kronik (KEK) di 15 Kabupaten/Kota bagi sejumlah 5.000 Bayi, 18.000 Balita dan 5.000 Ibu Hamil KEK selama 90 hari berturut-turut.
  4. Bantuan Kalibrasi Alat Kesehatan Puskesmas, Rumah Sakit serta Laboratorium Kesehatan.
  5. Dukungan sarana dan prasarana serta pembinaan pelayanan kesehatan pada sasaran Gerbang Desa Saburai.
  6. Pengadaan Food Model, Tripod Posyandu dan Pengukur Panjang Badan bagi Posyandu dan Puskesmas.
  7. Pengadaan alat kontrasepsi jangka panjang untuk mendukung pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB).
  8. Pengadaan Ambulans untuk RS Bandar Negara Husada dan Kabupaten Daerah Otonomi Baru.
  9. Penyediaan sarana dan prasarana untuk penanggulangan penyakit menular dan tidak menular, alat kesehatan untuk pemeriksaan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan surveilans serta sarana penyimpanan vaksin imunisasi.
  10. Pengadaan logistik program dan vaksin serta insektisida untuk penanggulangan TBC, DBD, Malaria dan HIV/AIDS serta penyakit menular lainnya.
  11. Peningkatan Sarana Pengolahan Limbah dengan Penyediaan IPAL, Incinerator dan Penghancur Jarum Suntik bagi RSUD Komunitas (Pratama) Kabupaten Pesisir Barat dan RSUD Bandar Negara Husada di Kota Baru.
  12. Stimulasi Sarana Sanitasi dan Penyediaan Air Bersih bagi Masyarakat melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
  13. Operasional Rumah Sakit Keliling (Mobile Clinic) beserta Unit Pendukungnya di Daerah Otonomi Baru (DOB) maupun pada Situasi Khusus.

Dalam kesempatan ini, Kepala Dinas Kesehatan, DR. dr. Hj. Reihana, M.Kes juga menyampaikan harapannya agar seluruh masyarakat Lampung, termasuk DPRD, FOKORPIMDA, SKPD turut mendukung kegiatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat atau GERMAS ini. “Kegiatan GERMAS ini cukup dengan melakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, mengonsumsi sayur dan buah setiap hari, memakan makanan yang bergizi seimbang, batasi asupan GGL/Gula Garam Lemak dalam makanan kita, menjaga kebersihan lingkungan, serta rajin mengecek kesehatan secara rutin seperti mengontrol tekanan darah, gula darah, serta kolesterol dengan datang ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat”, demikian pesan beliau.

 
KMK-No.-370-ttg-Standar-Profesi-Ahli-Teknologi-Laboratorium-Kesehatan
KMK-No.-1277-ttg-Tenaga-Akupunktur
SK-Kemenkes-tentang-Komisi-Akreditasi
PROFIL-PEJABAT-DINKES-PDFNYA
Kebijakan-Terkait-PHBS-Di-Provinsi-Lampung-s.d.-Tahun-2014
Contoh-MoU-Dinkes-Prov-Lpg-Chandra-PDF-1
 

Bandar Lampung, 24 November 2016 - Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2016 diinisiasi oleh Oase-KK (Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Kerja) dan didukung oleh Kementerian Kesehatan, TP PKK, BPJS, Kementerian Pendidikan dan Pemprov Lampung dilakukan gerakan nasional ini, yang dicanangkan hari ini oleh ibu Sri Mega Darmin Eko Sanjoyo(istri Menteri Desa PDTT dan ibu Marifah Hanif Dhakiri (istri Menteri ketenagakerjaan) dan ibu (anggota OASE-KK) di GSG SMAN 2 Tanjung Karang.

Setiap tahun 12 juta orang di dunia menderita kanker dan 7,6 juta diantaranya meninggal dunia. Prevalensi kanker di Indonesia 1,4 per 1000 penduduk. Kanker tertinggi pada wanita di Indonesia adalah kanker payudara (40 per 100.000 perempuan) dan kanker leher rahim (17 per 100.000 perempuan).

Pada tahun 2014 ada 2.119 kasus kanker payudara dan 383 kasus kunjungan dan rawat inap untuk kanker leher rahim di Provinsi Lampung. Dari 294 puskesmas di Provinsi Lampung tersedia 227 puskesmas yang terlatih untuk melakukan deteksi dini, dengan rincian ada 432 tenaga kesehatan yaitu 175 dokter dan 257 bidan namun jumlah yang mengakses layanan deteksi dini masih rendah yaitu 12.057 orang (10%) dari 121.095 orang yang ditargetkan di 2016 ini

Upaya deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan SADARI (periksa payudara sendiri) yang dilakukan pada hari ke 7 sampai 10 siklus menstruasi (dihitung dari hari pertama menstruasi) yaitu setiap bulan dengan jalan memperhatikan apakah payudara asimetris, ada permukaan kulit payudara yang berkerut, keluar cairan dari puting . Apabila ditemukan ada kelainan ataupun ada keluhan maka segera mendatangi puskesmas terdekat untuk mendapatkan SADANIS (periksa payudara klinis)

Deteksi dini kanker leher rahim dilakukan dengan metode IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat), dengan metode ini apabila terjadi kelainan sel pada dinding leher rahim akan terlihat perubahannya sehingga dapat diintervensi sejak dini.

[pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/11/Rilis-HKN-Nov-2016.pdf"]

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung diwakili oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes (Rabu, 30/11) bertindak sebagai Koordinator Lomba Kesatuan Gerak PKK KB Kesehatan Provinsi Lampung Tahun 2016 di Pekon Sido Katon Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus. Dalam sambutan yang dibacakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Pelaksanaan kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan merupakan rangkaian kegiatan yang dimulai dengan kegiatan Bakti Sosial TNI-KB-Kesehatan terpadu sampai bulan Oktober, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan pada bulan Oktober s.d. Desember, dan berkaitan dengan Hari Kesehatan Nasional (HKN) tanggal 12 November, Hari Kesatuan Gerak PKK yang sekarang ditetapkan menjadi tanggal 04 Maret serta Hari Keluarga tanggal 29 Juni.

Dengan dukungan keterpaduan lintas sektor, kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan akan bertumpu pada kegiatan-kegiatan kelompok swadaya masyarakat, PKK dan institusi KB-Kesehatan di desa, dengan para kader sebagai ujung tombak serta keluarga sebagai sasaran utama. Sebagai upaya memberikan penghargaan terhadap berbagai usaha yang telah dilaksanakan, sesuai dengan petunjuk yang disampaikan tim pusat, maka pelaksanaan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan tahun 2016 akan dilakukan penilaian terhadap 4 (empat) jenis kegiatan, yaitu 1) Pelaksana terbaik kegiatan Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan, 2) Pelaksana terbaik Posyandu, 3) Pelaksana terbaik PHBS di Rumah Tangga, 4) Pelaksana terbaik Lingkungan Bersih dan Sehat. Penilaian dilakukan secara berjenjang mulai dari tingkat kecamatan, kabupaten/kota, provinsi dan nasional dalam kategori kabupaten dan kota. Ketua TP PKK Provinsi Lampung Yustin Ficardo, S.Sos juga berharap melalui Kesatuan Gerak PKK-KB-Kesehatan ini juga dioptimalkan promosi kesehatan tentang penanggulangan Kanker Servik/leher rahin yang dapat terlihat dengan banyaknya kaum perempuan yang mengetahui tentang kanker serviks dan cara penanggulangannya, serta peningkatan jumlah yang melakukan deteksi dini, terutama melalui pemeriksaan IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat). Diakhir sambutan Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes berharap Kabupaten/Kota yang nantinya terpilih mewakili Provinsi Lampung di Tingkat Nasional mendapat nominasi-nominasi terbaik.

Bandar Lampung,  November 2016 - Sebanyak 17 orang tenaga kesehatan yang tergabung dalam Tim Nusantara Sehat Batch 5 Periode III Tahun 2016 untuk Provinsi Lampung hari ini Kamis (01/12) diterima oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes di Auditorium Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Selanjutnya Tim Nusantara Sehat ini akan dibagi menjadi 3 (tiga) dan ditempat kapada 3 (tiga) puskesmas yang berbeda yaitu Puskesmas Way Dente Kabupaten Tulang Bawang, Puskesmas Pagar Dewa Kabupaten Tulang Bawang Barat, dan Puskesmas Gisting Jaya Kabupaten Way Kanan.

Dalam acara serah terima Tim Nusantara Sehat yang dihadiri oleh Jajaran Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDM Kesehatan, BKD Provinsi Lampung, Bappeda Provinsi Lampung, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, dan Way Kanan, Kadinkes menyampaikan bahwa Fokus kebijakan Kementerian Kesehatan RI untuk periode 2015-2019 adalah penguatan Pelayanan Kesehatan Primer. Prioritas ini didasari oleh permasalahan kesehatan yang mendesak seperti angka kematian ibu dan bayi yang masih tinggi, angka gizi buruk, serta angka harapan hidup yang sangat ditentukan oleh kualitas pelayanan primer. Penguatan Pelayanan Kesehatan Primer mencakup tiga hal, yaitu: Fisik (pembenahan infrastruktur), Sarana (pembenahan fasilitas), dan Sumber Daya Manusia (penguatan tenaga kesehatan). Program Nusantara Sehat merupakan salah satu bentuk kegiatan yang dicanangkan oleh Kemenkes dalam upaya mewujudkan fokus kebijakan tersebut. Program ini dirancang untuk mendukung pelaksanaan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang diutamakan oleh Pemerintah guna menciptakan masyarakat sehat yang mandiri dan berkeadilan.

Program Nusantara Sehat bertujuan untuk menguatkan layanan kesehatan primer melalui peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan dasar di DTPK (Daerah Terpencil Perbatasan dan Kepulauan) dan DBK (Daerah Bermasalah Kesehatan) dan tujuan- tujuan yang terkait dengan keberlangsungan pelayanan kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan pelayanan kesehatan yang terintegrasi serta meningkatkan retensi tenaga kesehatan yang bertugas di DTPK. Kepada Kementerian Kesehatan RI, Kami sekali lagi sampaikan rasa terima kasih atas penempatan Tim Nusantara Sehat di Provinsi Lampung. Kami berharap pada periode selanjutnya kami masih diberikan untuk penempatan Tim Nusantara Sehat pada puskesmas- puskesmas lainnya yang SDMKnya belum memenuhi standar.

Kepada Pemerintah Daerah Kabupaten, Kami berharap adanya dukungan dan komitmen bagi keberlangsungan program Nusantara Sehat ini dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pada tatanan puskesmas. Keberlangsungan pelayanan kesehatan primer pasca penugasan Tim Nusantara Sehat, kiranya menjadi pertimbangan Pemerintah Daerah. Disamping itu, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga berkomitmen untuk menyediakan data dan informasi SDMK di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan dan jaringannya serta UPTD berdasarkan metode analisis beban kerja dan metode standar ketenagaan minimal. Hal ini sebagai dasar pertimbangan untuk pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di daerah.

Kami atas nama Pemerintah Provinsi Lampung dengan bangga dan penuh rasa syukur menerima kehadiran dan bakti Saudara sekalian di Provinsi Lampung. Kami mengucapkan "Selamat Bertugas" di Provinsi Lampung, "Sai Bumi Ruwai Jurai". Kami berharap, Saudara sekalian betah dan mempunyai kesan yang positif pada daerah yang akan ditempati, dapat menyelesaikan penugasan ini sampai waktunya. Pada kesempatan ini, Saya berpesan kepada Saudara sekalian, 1) Mengatasi masalah kesehatan akan lebih mudah bila dilakukan secara tim, oleh karena itu jadilah tim yang solid dan handal, 2) Kesulitan-kesulitan yang akan ditemui di lapangan jangan dijadikan sebagai suatu hambatan, tetapi anggaplah sebagai suatu tantangan yang perlu di atasi. Karena itulah, Kementerian Kesehatan menugaskan Saudara sekalian untuk tugas yang mulia ini 3) Hormatilah adanya kearifan dan budaya lokal, berinteraksi dengan petugas kesehatan dan masyarakat di tempat saudara bertugas, 4) Bekerjalah sesuai dengan kewenangan masing-masing profesi, dan memperhatikan standar-standar pelayanan.

Tak lupa Dr. dr, Hj. Reihana, M.Kes mengucapkan selamat bertugas kepada Tim Nusantara Sehat yang di tempatkan di Provinsi Lampung, semoga diberi kemudahan dan kesehatan dalam melaksanakan tugas.

cropped-BH.png- Kunjungan Kerja Ketua TP PKK ke Ruang PONEK Terstandar Nasional -

Bandar Lampung, 15/01/2017, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr Hj Reihana, M.Kes beserta Direktur Utama dr Herry Joko,  M.Kes mendanpingi Ketua TP PKK Ny Yustin Ficardo melakukan kunjungam kerja ke  Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Ruang Delima) RSUDAM untuk melihat fasilitas  PONEK  (Pelayanan Obstetri dan Neonatus Emergensi Komprehensif). Dr. Reihana mendampingi Ibu Yustin Ficardo melakukan kunjungan ke ruang persalinan, ruang operasi dan selanjutnya ke  ruang perawatan dan  berbincang bincang dengan seorang ibu yang dirawat di salah satu ruang  kelas III. Ruang perawatan di Instalasi ini  memiliki 55  tempat tidur yaitu 30 tempat tidur untuk pasien kelas III (1 ruangan untuk 5 pasien),  16  tempat tidur kelas II(1 kamar 3 pasien), 6 tempat tidur kelas I (1 kamar 2 tempat tidur), 3 tempat tidur untuk VIP . "Saya sangat bangga kita memiliki fasilitas kesehatan yang lengkap untuk ibu dan anak, semoga dapat menurunkan AKI dan AKB di Provinsi Lampung," kesan beliau setelah mengunjungi fasilitas yang ada.

Hal ini ditegaskan pula oleh Dr. Reihana yang mengatakan bahwa, " agenda *SDG's*(Sustainable Development Goal's) adalah komitmen  untuk penurunan AKI dan AKB dimana Provinsi Lampung memiliki 62 RS baik pemerintah dan swasta yang mampu PONEK namun baru RSUDAM yang memiliki fasilitas PONEK terlengkap." Prinsip PONEK adalah memberikan pelayanan segera dalam 30 menit harus sudah ada tindakan sehingga apabila memerlukan tindakan operasi, ruang persalinan telah terintegrasi dengan ruang operasi Instalasi Kebidanan dan Penyakit Kandungan (Ruang Delima) memiliki 1  ruangan operasi, dengan 7 dokter spesialis Kebidanan dan Penyakit  Kandungan, 5 dokter  Spesialis Anak , dan 2 dokter umum.

Berita ini disiarkan oleh Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, info lebih lanjut dapat menghubungi SMS/WA  082177016688. Website www.dinkes.lampungprov.go.id

  ____________________________________________________________________________________________ Bandar Lampung, 22 Februari 2017 Sehubungan dengan terjadinya bencana banjir di Kabupaten Pesawaran, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menurunkan Tim Rapid Health Assesment (RHA) guna membantu penggulangan bancana khususnya tentang potensi gangguan kesehatan pasca banjir. Tim RHA tersebut diturunkan atas arahan secara lisan  Gubernur Lampung M. Ridho Ficardo kepada Kepala Dinas Kesehatan DR. dr. Hj. Reihana, M.Kes pada hari Senin 20 Februari 2017 lalu. “Segera lakukan koordinasi dengan Kabupaten/Kota yang sedang mengalami bencana alam dan berikan bantuan terbaik dari Pemerintah Provinsi kepada masyarakat Lampung yang sedang terkena musibah,” ujar Kadinkes Provinsi menyampaikan arahan Gubernur tersebut kepada jajarannya Selasa, 21 Februari 2017 saat memberikan breafing pada tim RHA. Tim RHA ditugaskan untuk melakukan penilaian tanggap darurat dan mitigasi gangguan kesehatan pasca bencana, hingga saat ini bantuan logistik kesehatan telah diberikan kepada Kota Bandar Lampung berupa larvasida dan Kabupaten Pesawaran berupa Obat obatan, kaporit dan Hygiene Kit. Adapun laporan terakhir yang masuk ke Dinkes Provinsi Lampung terkait bencana banjir adalah Kabupaten Pesawaran. Hasil assesment Tim RHA di Kabupaten Pesawaran adalah 1. H1,  21/02/2017 : Berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Pesawaran terkait potensi jenis penyakit yang timbul, estimasi jumlah penduduk yang mengalami gangguan kesehatan, estimasi jumlah Bayi dan Balita yang memerlukan MP ASI 2. H2, 22/02/2017 : Menurunkan Tim RHA yang terdiri dari (Dokter, Apoteker,Perawat, Bidan, Sanitarian, Ahli Gizi) untuk melakukan penilaian masalah kesehatan lingkungan serta menyerahkan bantuan obat obatan, kaporit dan Hygine Kit *Hasil pemantauan sementara* 1.  terdapat 8 kecamatan yang tertimpa bencana yaitu Way Lima, Gedong Tataan, Way Khilau, Padang Cermin, Teluk Pandan, Marga Punduh, Negeri Katon dan Kedondong dimana terdapat 6.243 KK yang rumahnya terendam banjir, kelompok umur yang rentan masalah kesehatan yaitu 518 bayi, 315 balita dan 279 ibu hamil. 2. Data awal didapatkan 2 korban meninggal, 2 orang dirawat dengan hipotermi 3. Posko kesehatan tambahan sebayak 14 posko rerata kunjungan di tiap posko sekitar 200 orang yang umumnya mengeluhkan Diare, ISPA, Luka akibat terkena benda tumpul dan tajam. Pemerintah Provinsi Lampung khususnya bidang kesehatan siap membantu memberikan logistik obat obatan, larvasida, insektisida dan kaporit *Masalah yang perlu diinventarisasi* adalah 1. Sistem rujukan pasien 2. Penyakit potensi KLB  pasca banjir adalah Diare, DBD, Malaria, Keracunan Makanan Instruksi Kadinkes Provinsi setelah mendapatkan laporan dari Tim RHA,"Inventarisasi kebutuhan logistik dan SDM Kesehatan yang dimiliki Kabupaten Kota yang terkena musibah, distribusikan buffer stok yang dimiliki provinsi, bila yang diperlukan kita akan memobilisasi petugas kesehatan bila perlu karena bisa jadi  petugas kesehatan yang ada di sana juga menjadi korban." Berita ini disampaikan oleh Humas Dinas Kesehatan Provinsi, informasi lebih lanjut dapat menghubungi Jubir Dinkes dr Asih Hendrastuti, M.Kes (Ponsel 082177016688)
[accordions ] [accordion title="Apa dasar pelaksanaan Reformasi Birokrasi?" load="show"]Dasar pelaksanaan Reformasi Birokrasi adalah Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2010 tentang Grand Design Reformasi Birokrasi 2010-2025 dan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 20 Tahun 2010 tentang Road Map Reformasi Birokrasi 2010-2014. Secara teknis kedua kebijakan tersebut dilengkapi dengan berbagai pedoman yang termuat dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 7 s.d 15 Tahun 2011.[/accordion] [accordion title="Apa itu BPJS?" load="hide"]BPJS adalah Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, yaitu badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenaga kerjaan.[/accordion] [accordion title="Apa itu FAQ ?" load="hide"]Frequently Asked Questions (FAQ) adalah daftar kumpulan pertanyaan dan jawaban yang sering di pertanyakan tentang berbagai hal.[/accordion] [accordion title="Apa pengertian Daerah Bermasalah Kesehatan?" load="hide"]Daerah bermasalah Kesehatan Khusus adalah kabupaten atau kota yang mempunyai masalah khusus seperti terkait dengan :
  • Geografi, yaitu daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan
  • Sosial budaya, yaitu tradisi atau adat kebiasaan yang mempunyai dampak buruk terhadap kesehatan
  • Penyakit tertentu yang spesifik di daerah tersebut
  • [/accordion] [accordion title="Bagaimana cara memperoleh informasi Jamkesmas" load="hide"]Untuk dapat memperoleh informasi jamkesmas dpt membuka www.ppjk.depkes.go.id[/accordion] [/accordions]
    Tim Provinsi Lampung dijadwalkan turun ke Kabupaten Lampung Barat untuk verifikasi lapangan menindaklanjuti dokumen yang dikirimkan Dinas Kesehatan Lambar awal Maret lalu. Kegiatan verifikasi berkas/dokumen tersebut merupakan salah satu kegiatan penilaian untuk meraih penghargaan tertinggi di bidang kesehatan yaitu penghargaan Swasti Saba Wiwerda dengan kreterianya adalah memenuhi empat indikator sehat melalui Forum Kabupaten Sehat (FKS) 2017. Menurut rencana tim verifikasi dokumen dari provinsi itu dijadwalkan pada 4 April mendatang akan turun langsung ke lapangan,&rdquo; jelas Kabid Bina Kesehatan Dinas Kesehatan Lambar, Agus Darma Putra, mendampingi Plt. Kepala Dinas Kesehatan Paijo,kepala Lampost.co, Jumat (31/3/2017). Agus menambahkan Lambar tahun 2015 lalu berhasil meraih penghargaan Swasti Saba Padapa karena berhasil memenuhi kreteria dua tatanan kesehatan. Karena itu pihaknya menargetkan tahun ini Lambar dapat meraih penghargaan Swasti Saba Wiwerda yang memenuhi empat indikator sehat melalui forum kabupaten sehat pada 2017. Apabila hasil verifikasi dari tim provinsi menyatakan bahwa Lambar layak, maka Gubernur akan merekomendasikan dan mengikutsertakan Lambar menjadi peserta penilaian di tingkat nasional untuk mendapatkan penghargaan skala nasional. Jika hasil verifikasi provinsi menyatakan Lambar bagus maka dokumen akan dikirim ke pusat untuk dilakukan verifikasi ditingkat pusat,&quot; jelasnya. Agus menjelaskan, ada beberapa tingkatan penghargaan Swasti Saba atau anugerah bidang kesehatan yaitu Swasti Saba Padapa atau penghargaan kepada daerah yang mampu memenuhi dua tatanan yaitu pemukiman dan fasilitas umum dinyatakan sehat serta sarana dan prasarana juga sehat. Kemudian penghargaan lebih tinggi yaitu Swasti Saba Wiwreda karena memilki empat tatanan. Untuk meraih penghargaan Swasti Saba Wiwerda itu, lanjut dia, maka daerah harus memenuhi empat tatanan yaitu pemukiman sehat, sarana dan prasarana sehat, pariwisata sehat serta perkantoran sehat.
    Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menghimbau agar masyarakat Lampung mengantisipasi serta mengurangi perilaku tidak sehat yang merupakan faktor penyebab resiko kanker. Kepala Dinkes, Reihana, menjelaskan pihaknya bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Cabang Utama Lampung, Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Lampung, Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Lampung, Pergerakan Anggota Muda IAKMI (IAMI) Lampung beserta jajaran Polresta Bandar Lampung yang dipimpin Kapolresta Bandar Lampung, Kombes Pol Murbani, menyelengarakan aksi simpatik memperingati Hari Kanker Sedunia pada 4 Februari di Bundaran Tugu Adipura, Selasa (7/2/2017). “Tema Hari Kanker Sedunia tahun 2016-2018 adalah Kita Bisa, Aku Bisa (We Can, I Can) yaitu untuk menyebarkan pesan bahwa setiap orang baik secara bersama maupun individual bisa mengambil peran dalam mengurangi beban dan permasalahan kanker,” kata Reihana dalam keterangan tertulisnya, Menurutnya, penyakit kanker merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan adanya sel/jaringan abnormal yang bersifat ganas, tumbuh cepat tidak terkendali dan dapat menyebar ke tempat lain dalam tubuh penderita. “Prevalensi kanker di Indonesia sebesar 1,4 per 1000 penduduk dan penyebab kematian nomor 7 di Indonesia dengan kejadian 5,7% dari seluruh penyebab kematian menurut Riskesdas 2013 dan WHO memprediksikan 17 juta orang akan meninggal yang disebabkan kanker di tahun 2030,” jelas dia. Data nasional menurut Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS,2010) terdapat 12.014 orang (28,7%) menderita kanker payudara, kanker leher rahim 5.349 orang (12,8%) menderita kanker leher rahim, 4.324 orang (10,4%) menderita leukemia, 3.486 orang (8,3%) menderita lymphoma dan 3.244 orang (7,8%) menderita kanker paru. Berdasarkan data Riskesdas 2013 proporsi konsumsi tembakau di Provinsi Lampung adalah 32,8 %, poporsi aktivitas fisik cukup hanya 26,5%. Dia juga mengatakan, bahwa kanker bisa menyerang siapa saja baik pria maupun wanita, anak-anak maupun dewasa, tapi kanker yang sering menyerang pada pria yaitu kanker paru, kolorektal, prostat, hati dan nasofaring. Jenis kanker yang sering dialami wanita adalah kanker payudara, leher rahim, kolorektal, ovarium dan paru. Sedangkan kanker yang sering dialami anak anak adalah kanker bola mata (Retinoblastoma) dan kanker darah (Leukemia). Stadium awal kanker tumbuh setempat dan tidak menimbulkan keluhan ataupun gejala. Hal ini menyebabkan orang yang sudah terkena kanker tidak menyadarinya. Ada 7 gejala yang perlu diperhatikan dan diperiksa lebih lanjut ke dokter untuk memastikan ada tidaknya kanker dengan waspada. Waspada yang di maskud waktu buang air besar atau kecil ada perubahan kebiasaan atau gangguan alat pencernaan terganggu atau susah menelan, suara serak atau batuk tidak sembuh sembuh, payudara atau tempat lain ada benjolan, andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifat jadi gatal dan membesar, darah atau lendir yang abnormal keluar dari tubuh, adanya koreng atau borok yang tidak sembuh sembuh. Adapun faktor resiko terjadinya kanker yaitu, kata dia, seperti diet tidak seimbang dan rendah serat, kurang aktifitas fisik, merokok dan paparan asap rokok, paparan lingkungan berbahaya, konsumsi alkohol, perilaku seksual yang beresiko, paparan sinar ultra violet dan keturunan.
    BANDAR LAMPUNG – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr, Hj. Reihana, M.Kes diwakili Kepala Bidang Pencegahan & Penanggulangan Penyakit, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, drg. Anita Andriyani turut menghadiri dan menyampaikan sambutan pada Pelantikan Pengurus HAKLI Provinsi Lampung dan HAKLI Kabupaten/Kota se- Provinsi Lampung Periode Tahun 2017 – 2021 di Hotel Aston, Bandarlampung, Sabtu (11/3). [caption id="attachment_1263" align="alignleft" width="300"] drg. Anita Andriyani, saat memberikan sambutan[/caption] Dihadapan anggota Profesi Kesehatan Lingkungan yang dilantik, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dalam sambutannya menyatakan bahwa eksistensi Organisasi Profesi dirasakan semakin diperlukan, hal ini dikarenakan tantangan pembangunan diera sekarang membutuhkan peran Organisasi yang berbasis kopetensi serta dikelola secara baik. Dikatakannya juga bahwa isu kesehatan lingkungan sudah menjadi perhatian Nasional dan Internasional sehingga dengan kondisi seperti HAKLI sebagai Organisasi Profesi dapat merevitalisasi diri serta mengambil peran secara aktif sehingga dapat berkonstribusi dalam pembangunan kesehatan lingkungan yang berkelanjutan. Sebagai penanggung jawab pembangunan di bidang kesehatan di Provinsi Lampung, saya berharap Kepengurusan HAKLI periode 2017-2021 dapat bekerjasama, berkoordinasi serta bersinergi secara baik dengan pemangku kebijakan di setiap level administrasi” ujar Dr.dr. Hj. Reihana, M.Kes. Pelantikan Pengurus HAKLI Provinsi Lampung dilakukan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat HAKLI, Bambang Wahyudi, SKM, MM dilanjutkan pelantikan Pengurus HAKLI Kabupaten Kota se- Provinsi Lampung oleh Ketua HAKLI Provinsi Lampung, Agus Setyo Widodo, SKM, MKM. [caption id="attachment_1264" align="aligncenter" width="300"] Pengurus HAKLI Provinsi Lampung[/caption] Usai acara Pelantikan  diselenggarakan juga Lokakarya Pedoman Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan Tenaga Kesehatan Lingkungan (P2KBTKL). Sekitar 500 orang tenaga kesehatan lingkungan se- Provinsi Lampung turut hadir mengikuti kegiatan ini. Menurut Ketua Panitia Effendi, SKM, M.Kes kegiatan Lokakarya ini dimaksudkan untuk memberi pemahaman kepada anggota tentang Profesi Kesehatan Lingkungan, sebagaimana diatuir dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2017 Tentang Tenaga Kesehatan. “Kita berharap melalui kegiatan ini tenaga kesehatan lingkungan memahami kopetensinya sehingga memudahkan mereka dalam melaksanakan kegiatannya sebagai seorang tenaga kesehatan” ungkap Effendi. [caption id="attachment_1265" align="alignnone" width="300"] Pengurus HAKLI Kabupaten/Kota se Provinsi Lampung[/caption]
    SehatNegeriku.com - Pagi itu, gedung sujudi kementerian kesehatan Nampak berbeda dari biasanya. Puluhan tanaman berjejer sebegitu rapi di pojokan lobi, di meja juga. Seolah membawa nuansa alam di gedung yang serba beton tersebut. Ialah zodia, tanaman hijau muda berbatang kayu itu mampu mengusir nyamuk. Dari luar, Nampak menteri Kesehatan Prof. Nila Moeloek bergegas menuju ruang rapat. Belum saja sampai, ia berhenti di sederetan zodia itu. Ia lantas menunjukkan ketertarikannya dengan mengusap daun yang panjangnya sekitar 20 centimeter. “silakan lanjutkan,” kata Prof. Nila Moeloek kepada penjaga di sana sambil melanjutkan perjalanan menuju ruang rapat, Jumat (5/5). Selain Prof. Nila Moeloek, banyak juga orang lewat yang tertarik melihat zodia. “Ini tanaman hias yang dapat menjadi alternatif lain untuk mengusir nyamuk-nyamuk di rumah,” kata pelopor budidaya zodia H.R. Koeswara. Sejalan dengan Kemenkes untuk eliminasi malaria, Koeswara bersama kelompok tani di Tangerang mendistribusikan zodia kepada masyarakat di sana. Hasilnya mampu mengurangi nyamuk sampai 98% di lingkungan tersebut. Pun dengan Desa Ngade, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Orovinsi Maluku Utara, penggunaan tanaman pengusir nyamuk, zodia di antaranya, dapat menurunkan kasus malaria. Pemanfaatan tanaman tersebut ditargetkan pada akhir Tahun 2017 semua rumah telah dipagari oleh tanaman pengusir nyamuk. Daun zodia mengandung zat linanool dan a-pinene yang sangat tidak disukai nyamuk. Bentuk dan warna tanaman zodia tidak kalah cantiknya dengan bunga Geranium. Di Papua, tanaman asli Indonesia ini menjadi andalan penduduk untuk mengusir nyamuk. Selain zodia, ada pula beberapa tanaman lain yang mampu mengusir nyamuk, di antarnya lavender, tapak dara, marygold, sereh, kemangi, dan kecombrang. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567,SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Oscar Primadi, MPH NIP.196110201988031013
    Konsep Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) kali ini sangat istimewa, karena berbarengan dengan peringatan Isra Mi'raj, demikian disampaikan Gubernur Lampung, M.Ridho Ficardo dalam sambutannya yang diwakili oleh Asisten III Ir. Amartoni Ahadis, M.M, saat membuka Germas dan peringatan Isra Mi'raj, di Lapangan Desa Tritunggal, Kec. Waway Karya, Kabupaten Lampung Timur, Rabu (26/04/2017). Dalam kegiatan yang juga dihadiri Ny. Agustina Toha, ibunda dari Gubernur M.Ridho Ficardo, Ridho juga mengucapkan terimakasih kepada seluruh panitia, dinas terkait, serta masyarakat yang telah berperan aktif dalam menyukseskan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat di Kabupaten Lampung Timur, khususnya Kecamatan Waway Karya. Tidak lupa Ridho juga mengajak seluruh masyarakat, dengan menjadikan peringatan Isra Mi'raj sebagai momentum yang tepat untuk refleksi diri dan lebih dekat kepada Allah SWT. Lebih lanjut, dalam sambutannya yang diwakili oleh Asisten III Ir.Amartoni Ahadis, Ridho menyatakan bahwa Germas Kali ini adalah Germas Syariah "Ada yang istimewa dalam konsep germas kali ini, karena dibarengi dengan pengajian dan Tausiyah dalam rangka peringatan Isra Mi'raj. Jadi tidak hanya sehat jasmani, tapi juga rohani. ini namanya Germas Syariah" papar Ridho. Sementara itu, Bupati Lampung Timur Hj.Chusnunia Chalim,M.Si. yang diwakili oleh Staf Ahli Bidang Ekonomi Pembangunan, Dr.Ir.Arisuwandi M.M, menyampaikan bahwa, pelaksanaan hidup sehat harus dimulai dari diri sendiri dan kelompok terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Chusnunia mengapresiasi dan siap mendukung serta melaksanakan program-program Provinsi Lampung khususnya yang dilaksanakan di Kabupaten Lampung Timur. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr. Reihana,M.Kes, sebagai ketua Pelaksana melaporkan, dalam kegiatan Germas kali ini tidak hanya diisi dengan makan buah bersama, tapi juga ada Khitanan Massal dan pemberian bantuan 20 bowl bagi peningkatan program sanitasi total berbasis masyarakat dari Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Selain itu, ada beberapa program bantuan dari Pemerintah Provinsi Lampung untuk Pemerintah Kabupaten Lampung Timur berupa : 1. Program perbaikan gizi masyarakat, berupa MP ASI bagi bayi dan balita BGM, serta PMT bagi Bumil KEK sebesar Rp.519.760.000 2. Program obat dan pembekalan kesehatan sebesar Rp.352.381.785 3. Program pemberantasan penyakit berupa paket Buffer stock insektisida, Alkes, dan Logistic P2 sebesar Rp.75.000.000 4. Program sanitasi total berbasis masyarakat berupa 15 paket fiberglass ferornce plastik (FRP) plastik sebesar Rp.270.000.000. 5. Program pelayanan kesehatan perorangan berupa pelayanan RS keliling senilai Rp.85.486.000. 6. Program promosi dan pemberdayaan masyarakat Rp.962.200.000 7. Program kesehatan kerja olahraga berupa pengukuran kebugaran jasmani bagi 200 calon jamaah haji dan pembina pos UKK sebesar Rp.56.828.000 8. Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang kesehatan tahun anggaran 2017 sebesar Rp.60.880.825.000 9.Program pencegahan dan pengendalian penyakit tidak menular berupa penggerakan masyarakat sehat peduli kanker dan media informasi PTM sebesar Rp.15.559.000. (RG)
    MATERI ORIENTASI PROMOSI KESEHATAN DI PUSKESMAS TAHUN 2017 SILAHKAN UNDUH SELURUH MATERI INI : MATERIORIENTASIPROMKES1 MATERIORIENTASIPROMKES2 MATERIORIENTASIPROMKES3 MATERIORIENTASIPROMKES4 MATERIORIENTASIPROMKES5 MATERIORIENTASIPROMKES6
    Dinas Kesehatan Provinsi Lampung persiapkan berbagai kegiatan dalam rangka HARGANAS XXIV Tahun 2017 Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mendukung penuh pelaksanaan Harganas 2017, hal tersebut ditegaskan Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dalam rapat lanjutan kesiapan Harganas (Senin,29/05) bertempat di Auditorium Husada, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. “Kita akan berpartisipasi untuk beberapa kegiatan diantaranya Sunatan Masal, Rekor Muri Senam Germas, Pengobatan Gratis serta Seminar Nasional” lanjut Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Didampingi Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Dra. Hj. Paulina JS, MM, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr.dr. Hj. Reihana, M.Kes berharap kegiatan yang akan ditampilkan dari jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Lampung  dapat memberikan konstribusi bagi kesuksesan acara Harganas yang bakal dihelat di Provinsi Lampung. Sebagaimana diinformasikan bahwa Provinsi Lampung, bersiap menjadi tuan rumah HARGANAS ke XXIV Tahun 2017. Rencananya acara tersebut akan mengundang Bapak Presiden Joko Widodo, Para Menteri, Bupati dan Walikota se Indonesia
    Bandar Lampung, 06 Juni 2017
    Hari ini Provinsi Lampung mendapatkan 75 orang Dokter Interenship yang akan mengabdi memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu di Rumah Sakit dan Puskesmas di Provinsi Lampungyang dilakukan oleh Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Badan PPSDM Kemenkes RI yaitu Dra. Oos Fatimah Rosyati, M.Kes kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung DR. Dr Hj. Reihana , M.Kes mewakili Pemerintah Daerah Provinsi Lampung. Program Internsip Dokter Indonesia (PIDI) merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan Program pembangunan kesehatan yang menekankan pada kesinambungan dan seluruh tahapan siklus kehidupan manusia. PIDI merupakan tahap pelatihan keprofesian pra-registrasi berbasis kompetensi pelayanan primer guna memahirkan kompetensi yang telah mereka capai setelah memperoleh kualifikasi sebagai dokter melalui pendidikan kedokteran dasar. Program ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor: 299/Menkes/Per/IV/2010 tentang Penyelenggaraan Program Internsip dan Penempatan Dokter Pasca Internsip. Program ini diikuti oleh para dokter yang telah memiliki Surat Tanda Registerasi (STR) Internsip yang dikeluarkan Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). PIDI dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan yang telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan dan disyahkan oleh KIDI Pusat sebagai wahana internsip. Melalui program tersebut diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga dokter di Kabupaten / Kota Provinsi Lampung. Dengan demikian masyarakat akan semakin mudah untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan derajat kesehatan akan semakin menjadi lebih baik. Pada sambutannya kepada seluruh peserta PIDI Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes menghimbau,”Kepada para peserta program ini, kiranya dapat melaksanakan tugas dokter internsip dengan sungguh-sungguh dimanapun saudara ditempatkan sesuai dengan kewenangannya dan selalu menjalin komunikasi profesional dengan dokter pendamping yang akan mendampingi tugas saudara”. PIDI di Provinsi Lampung sudah berlangsung sejak tahun 2012 dengan jumlah peserta 189 orang (th. 2012),170 orang (th.2011), 90 orang(th. 2014), 117 orang (th.2015), 170 orang (th.2016), dan untuk tahun ini adalah 75 orang. Pada Program Internsip angkatan II periode Juni 2017 s.d. Juni 2018 peserta PIDI berjumlah 77 orang tetapi 2 orang mengundurkan diri karena sudah diterima sebagai tenaga kesehatan di Fasilitas Kesehatan TNI yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran dari FK Universitas Lampung (40 orang), FK Universitas Malahayati (21 orang), FK Universitas Sriwijaya (1 orang), FK Universitas Mataram (1 orang), FK Univ. Islam Indonesia (2 orang), FK Univ. Kristen Duta Wacana (1 orang), FK Universitas Syiah Kuala (1 orang), FK Universitas Yarsi (1 orang), FK Universitas Batam (1 orang), FK Universitas Trisakti (1 orang), FK Univ. Muhammadiyah Malang (1 orang). Para peserta program internsip ini akan ditugaskan selama 1 (satu) tahun, yakni 8 (delapan) bulan di rumah sakit dan 4 (empat) bulan di Puskesmas Kabupaten / Kota sesuai dengan wahana penugasannya. Adapun rumah sakit yang menjadi wahana PIDI pada periode ini, yaitu RS. Dadi Djokrodipo, RSUD Bob Bazar Kalianda, RS. Demang Sepulau Raya, RSUD Pringsewu. Sedangkan wahana Puskesmas, yaitu : Puskesmas Simpur (Bandar Lampung), Puskesmas Panengahan (Lampung Selatan), Puskesmas Bandar Jaya (Lampung Tengah), dan Puskesmas Pringsewu (Pringsewu).
    Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Juru Bicara Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr Asih Hendrastuti, M.Kes Ponsel 082177016688, email : humas.kesehatanlampung@gmail.com, www.dinkes.lampungprov.go.id
    Bandar Lampung, Juni 2017 - Dalam rangka menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1438 H dan mengantisipasi arus mudik serta arus balik di Provinsi Lampung, bersama ini kami sampaikan kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan oleh Jajaran Dinas Kesehatan Provinsi  sebagai berikut : Membentuk posko pelayanan sebanyak 74 Posko  selama 16 hari (H-7 s.d H+7)  yang terdiri dari  :
      • Posko 24 jam yang didirikan Provinsi yang juga dilengkapi dengan Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunktur di lokasi Rajabasa dan Pasir Putih, serta Memberdayakan RS Keliling (Mobile Clinic) untuk  mendukung posko pelayanan yang ada.
      • Posko Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunktur ini bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan akibat kelelahan dalam perjalanan mudik, dengan petugas sebanyak 5 orang, 3 orang dokter, 1 orang perawat, dan 1 orang pengobat tradisional serta didampingi dan diawasi oleh Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Persyaratan pasien yang dapat diberikan layanan pijat akupressure dan akupunktur ini antara lain : berusia di atas 12 tahun, tidak dalam keadaan hamil, tidak menderita penyakit kelainan pembekuan darah, tidak sedang mengkonsumsi obat pengencer darah, tidak dalam kondisi gawat darurat, tidak sedang membutuhkan tindakan operasi, tidak sedang menderita tumor ganas, tidak sedang dalam kondisi terlalu kenyang atau terlalu lapar, tidak menderita penyakit infeksi dan kadar gula < 200 mg/dl. Posko Pelayanan Pijat Akupressure dan Akupunkturini juga berada di jalur Lintas Barat (Kab. Pringsewu) dan Lintas Timur, Rumah sakit Bandar Jaya (Kab. Lampung Tengah)
      • Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga melaksanakan kegiatan pemantauan Posko 3 kali dalam sehari dengan menggunakan Ambulance. Laporan juga kami sampaikan ke Kementerian Kesehatan RI di Jakartasecara online setiap hari pada jam 8 pagi. Koordinator posko kesehatan : UKI BASUKI SKM M.Kes [ 0812 73839917 ], IRMAN THAMRIN SKM, M.Kes  [0813 79395130].
      • 74 Posko  yang tersebar di 15 Kabupaten Kota se-Provinsi Lampung sepanjang jalur mudik. Dinas Kesehatan Kab/Kota bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan kegiatan, baik Puskesmas yang terletak di jalur arus mudik/balik maupun Puskesmas lain yang diperbantukan termasuk RS Pemerintah dan Swasta di wilayah kerjanya.
    Berdasarkan laporan yang masuk di tahun 2016. Angka kunjungan masyarakat yang memanfaatkan posko mudik yang ada sejumlah  3.024 orang, dengan rincian kasus tersering adalah : 1. Kelelahan = 46 % (sebesar 1.392 orang) 2. Diare & Gangguan Pencernaan = 17 % (sebesar 514 orang) 3. Hipertensi / Darah Tinggi = 10 % ( sebesar 453 orang) 4. ICLL =   5 % ( sebesar 151 orang) 5. Dan lain lain =  17 % ( sebesar 514 orang) Dengan proses rujukan 1,8 % (sebesar 57 orang), yang disebabkan oleh ICLL, Hipertensi/Darah Tinggi.  
    TIPS GEMES (GERAKAN MENGEMUDI SEHAT)
    1. Siapkan fisik yang sehat dan prima sebelum mudik.
    2. Gunakan masker dan lindungi diri anda dari asap, debu dan polusi..
    3. Cuci tangan pakai air sabun dan air mengalir sesering mungkin.
    4. Konsumsi makanan dan minuman yang bersih dan layak, perbanyak makan buah dan sayur.
    5. Tidak memakai narkoba atau minuman keras ketika mengemudi.
    6. Tidak buang air kecil/besar sembarangan gunakan dan jaga toilet umum agar bersih, sehat, dan nyaman serta buang sampah pada tempatnya.
    7. Beristirahat tiap 4 jam perjalanan, jangan memaksakan mengemudi bila lelah/mengantuk. Manfaatkan posko kesehatan atau tempat istirahat untuk bisa melakukan olah raga kecil dan bisa melakukan gerakan relaksasi khususnya kaki, tangan dan leher.
    8. Jangan lupa  membawa obat-obatan sederhana antara lain obat anti diare, obat sakit kepala, obat anti alergi, obat anti mual-muntah khususnya untuk mencegah mabuk perjalanan serta obat sakit maag.
    9. Jangan lupa membawa obat2 rutin dikonsumsi untuk penderita penyakit kronismisal penderita kencing manis, hipertensi, penderita asma, kolesterol tinggi dan asam urat.
    10. Disiplin dan patuhi rambu – rambu lalu lintas. Kurangi kecepatan kendaraan anda saat turun hujan/cuaca buruk. Waspada kondisi jalan sempit, bergelombang atau rusak. Periksa kondisi kelayakan kendaraan Kendaraan tidak melebihi muatan dan tidak menyalahi peruntukan kendaraan (pilihlah kendaran yang tepat).
    11. Berhati-hatilah dan selalu waspada agar terhindar dari kejahatan selama dalam perjalanan.
     
    TIPS MENOLONG ORANG PINGSAN
    1. Mengembalikan kesadaran dengan bau - bauan yang menyengat seperti minyak wangi, minyak angin, dll.
    2. Jika wajah orang yang pingsan pucat maka sebaiknya badan lebih tinggi dari kepala dengan disanggah sesuatu agar darah dapat mengalir ke kepala korban.
    3. Jika wajah orang yang pingsan itu merah maka sanggah kepalanya dengan bantal atau sesuatu agar darah di kepalanya bisa mengalir ketubuhnya secara normal.
    4. Apabila korban pingsan muntah, maka sebaiknya miringkan kepalanya agar muntah orang itu bisa keluar dan jalur pernafasan lancer kembali.
    5. Jika orang pingsan sudah sadar, bisa diberi minum.
    6. Apabila korban tidak sadar dan membaik maka bawa kepusat pelayanan terdekat.
    7. Perhatikan orang lain disekitar korban, jangan sampai harta benda milik korban raib digondol maling.
    Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com
    Download Materi Pertemuan Perencanaan 2017 - Hotel Emersia Pertemuan Perencanaan 2017
    Berita Pers

    BAKTI SOSIAL DALAM RANGKA HARGANAS XXIV 2017

    Bandar Lampung, 6 Juli 2017. Harganas (Hari Keluarga Nasional) XXIV 2017 tahun ini diselenggarakan di Provinsi Lampung, yang mana merupakan pengulangan sejarah. Harganas pertama kali dicanangkan di Provinsi Lampung pada tanggal 29 Juni 1993 di Lapangan Pusat Kegiatan Olah Raga (PKOR) Way Halim Bandar Lampung. Tujuan peringatan Harganas adalah untuk mengingatkan kepada seluruh masyarakat akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan negara, keluarga akan selalu menghidupkan, memelihara dan memantapkan serta mengarahkan kekuatan tersebut sebagai perisai dalam menghadapi persoalan yang terjadi. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, DR. dr. Hj Reihana, M.Kes. selaku ketua panita Baksos melaporkan bahwa, ”Jajaran Kesehatan ikut berperan aktif dalam penyelenggaraan Harganas XXIV 2017.” Adapun rangkaian kegiatan tersebut adalah:
    1. Bakti Sosial yang dilakukan pada tanggal 6 dan 7 Juli 2017 di RS DKT Bandar Lampung (Sunatan masal target 200 anak, Pemeriksaan Tes IVA dan Pelayanan KB dengan sasaran 400 orang).
    2. Kegiatan Donor Darah pada tanggal 6 dan 7 Juli 2017 di UTD Pembina PMI Provinsi Lampung (sasaran 200 orang).
    3. Pengobatan Massal pada tanggal 7 Juli 2017 di Lapangan Korpri Kompleks Pemprov Lampung (sasaran 200 orang)
    4. Seminar Nasional pada 13 Juli 2017 di Hotel Emersia Bandar Lampung, dengan tema Ciptakan Keluarga Sehat melalui Pendekatan Keluarga dan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat.
    5. Olah raga Keluarga berupa Jalan Sehat dan Senam Germas pada tanggal 14 Juli 2017 di Lapangan Korem 043 Garuda Hitam Enggal Bandar Lampung.
      Wakil Gubernur Lampung, H. Bachtiar Basri, SH, MM membuka rangkaian Bhakti Sosial dalam rangka Harganas XXIV pada hari ini 6 Juli 2017 di halaman RS DKT Bandar Lampung. Wagub berharap ,”Ayo berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat yang menjadi sasaran Bakti sosial ini dan mari kita praktikkan perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam kehidupan kita sehari-hari.” Dalam sambutannya, Wagub juga menyampaikan,”Melalui keluarga yang bermutu dan kuat menjadi wahana pembangunan bagi Provinsi Lampung yang sangat efektif.  Dengan demikian, keluarga merupakan bagian yang memiliki peran terpenting dan terdepan dalam pembangunan di Provinsi Lampung. Sebagaimana Kita ketahui, keluarga adalah bagian terkecil dari struktur organisasi di masyarakat, keluarga merupakan stage awal kehidupan individu manusia berasal. Keluarga merupakan cerminan dari kepribadian terhadap suasana pengetahuan dan ilmu yang dimiliki.  Oleh karena itu, seseorang dikatakan berhasil dalam hidupnya karena didukung oleh keluarga yang berhasil mengantarkan dirinya. Memperingati Hari Keluarga bukan saja merupakan peristiwa bersama dalam meneguhkan upaya meningkatkan komitmen melanjutkan dan mengembangkan pembangunan keluarga kecil bahagia, tetapi juga harus dijadikan momentum strategis menguatkan budaya silaturahmi dan kebersamaan sebagai sebuah keluarga.”   Berita disiarkan oleh Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Juru Bicara  Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes melalui no Hp. 082177016688, atau email humas.kesehatanlampung@gmail.com, website dinkes.lampungprov.go.id dan twitter @dinkes_lampung Rilis lebih lengkap silahkan downlod link dibawah ini : rilis baksos harganas 2017
    --sehatnegeriku.kemkes.go.id-- . Sebagai kebutuhan dasar setiap manusia, pembangunan di bidang kesehatan tidak hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat, tapi juga Pemerintah Daerah. Namun demikian mengingat kebutuhan kesehatan yang vital, unik dan kompleks, serta perbedaan kemampuan sumber daya Pemda di seluruh Indonesia, maka peran pemerintah di bidang kesehatan harus distandarisasi melalui Standar Pelayanan Minimal (SPM). “Salah satu prinsipnya adalah SPM merupakan kewajiban bagi Pemerintah Daerah untuk menjamin setiap warga negara memperoleh kebutuhan dasarnya”, terang Sekretaris Jenderal Kemenkes, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes saat memaparkan materi tentang SPM Bidang Kesehatan pada Rapat Kerja Kesehatan Daerah Tahun 2017 Provinsi Kepulauan Riau, di Batam (11/7). SPM merupakan ketentuan mengenai jenis dan mutu pelayanan dasar yang berhak diperoleh setiap warga negara secara minimal. Untuk pelaksanaan SPM tersebut, Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2016 tentang SPM Bidang Kesehatan yang memuat 12 jenis pelayanan dasar yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten/Kota. Permenkes ini sudah mengakomodir konsep baru SPM sebagaimana diatur dalam Undang Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah. Konsep SPM yang baru ini mengalami perubahan yang cukup mendasar dari konsep SPM sebelumnya. Pada SPM yang lalu pencapaian target-target SPM lebih merupakan kinerja program kesehatan maka pada SPM ini pencapaian target-target tersebut lebih diarahkan kepada kewenangan dan kinerja Pemerintah Daerah. Untuk mencapai SPM kesehatan perlu sinergi peran Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. “Pemerintah Pusat wajib menyiapkan kebijakan, meningkatkan sumber daya dan mengkoordinasikan peran lintas sektor. Sementara peran Daerah selain melaksanakan SPM yang menjadi tanggung jawabnya, juga melakukan pembinaan dan monev di wilayahnya”, tegas Sesjen. Selain peranan Daerah, keberhasilan SPM juga didukung oleh adanya Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK). Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kemenkes, dr. Bambang Wibowo, Sp.OG (K), MARS yang juga hadir sebagai pemateri pada Rakerkesda Prov. Kepri ini menjelaskan keterkaitan antara SPM dan PIS-PK. Yang dimaksud dengan Pendekatan Keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran dan mendekatkan atau meningkatkan akses pelayanan kesehatan dengan mendatangi keluarga. Sehingga Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan kesehatan di dalam gedung saja, melainkan juga ke luar gedung dengan mengunjungi keluarga di wilayah kerjanya. “Jika pendekatan keluarga ini dilaksanakan dengan baik maka akan meningkatkan capaian SPM kabupaten/kota. SPM ini merupakan hal penting karena merupakan nilai kinerja dari Kepala Daerah. Hal ini dapat digunakan sebagai media advokasi kepada Kepala Daerah untuk mendukung pendekatan keluarga ini”, kata dr. Bambang. Pada kesempatan tersebut, dr. Untung juga menyampaikan penjelasan tentang Dana Alokasi Khusus Bidang Kesehatan (DAK). Sejak 2016 DAK terus mengalami peningkatan, khususnya DAK afirmasi yang disalurkan ke Puskesmas. “Dulu semua Puskesmas se-Indonesia hanya mendapatkan DAK sekitar 700 miliar, tahun ini seluruh Puskesmas akan mendapatkan dana lebih dari 5,4 triliun rupiah terdiri dari Rp. 2.2 trilyun untuk DAK Afirmasi dan Rp. 3.2 trilyun untuk DAK Reguler Dasar. Semestinya Puskesmas sekarang semakin baik”, jelas Sesjen.
    Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan email kontak@depkes.go.id. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Oscar Primadi, MPH
    --sehatnegeriku.kemkes.go.id--   Adanya seruan Pemerintah untuk menggalakkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) disambut baik oleh Pemerintah Daerah. Provinsi Kepulauan Riau menjadi salah satu daerah yang mendukung penuh pelaksanaan GERMAS tersebut. Dukungan ini ditunjukkan pada penyelenggaraan Rapat Kerja Kesehatan Daerah (Rakerkesda) Tahun 2017 di Batam (11/7). Pada penyelenggaraan Rakerkesda Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2017 ini, Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M(K) menyaksikan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) pelaksanaan GERMAS oleh seluruh Kepala Daerah di Provinsi Kepri. MoU dilakukan antara Gubernur Kepri dan 7 Walikota dan Bupati se-Provinsi Kepri yaitu Walikota Batam, Bupati Tanjung Pinang, Bupati Bintan, Bupati Karimun, Bupati Lingga, Bupati Natuna, dan Bupati Anambas. Komitmen ini berisi instruksi dari Gubernur kepada para Walikota dan Bupati untuk melakukan Peningkatan aktivitas fisik; Perilaku hidup sehat; Penyediaan pangan sehat; Perbaikan gizi masyarakat; Pencegahan dan deteksi dini penyakit; serta Peningkatan kualitas lingkungan dan edukasi hidup sehat di wilayahnya. Penandatanganan komitmen bersama tersebut merupakan bentuk dukungan berarti dari Pemerintah Daerah terhadap kebijakan pembangunan kesehatan di Indonesia. Sektor kesehatan memang tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan banyak pihak, baik itu dari lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha hingga masyarakat. Semua komponen bangsa diharapkan dapat berpartisipasi untuk terus menyehatkan bangsa. Kualitas hidup manusia Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan dan kesehatan. Dalam sambutan pembukaan Rakerkesda, Gubernur Kepri, Dr. H. Nurdin Basirun, S.Sos, M.Si, menyatakan pentingnya pembangunan sektor kesehatan di daerahnya. “Sektor yang lain boleh defisit, tapi kesehatan tidak boleh defisit satu persenpun. Kesehatan ini penting sekali karena kesehatan merupakan pondasi pembangunan”, kata Nurdin. Dalam pelaksanaannya, pembangunan kesehatan menghadapi pelbagai permasalahan. Kini Indonesia tengah mengalami perubahan pola penyakit yang sering disebut transisi epidemiologi. Perubahan ini ditandai dengan meningkatnya kasus kematian dan kesakitan akibat penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, diabetes atau kanker. Dampak meningkatnya kejadian PTM adalah meningkatnya pembiayaan pelayanan kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah; menurunnya produktivitas masyarakat; menurunnya daya saing negara yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi sosial ekonomi masyarakat itu sendiri. Oleh karenanya perlu adanya perubahan pola pikir dan perilaku masyarakat untuk lebih mengutamakan upaya promotif dan preventif. Situasi inilah yang melatarbelakangi pemerintah melahirkan GERMAS. Gerakan ini didasari oleh Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 yang memerintahkan kepada seluruh kementerian/lembaga dan pemerintah daerah untuk membuat kebijakan dan melakukan tindakan untuk membangun kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Saat ini GERMAS difokuskan pada: 1) melakukan aktivitas fisik, 2) mengonsumsi sayur dan buah, dan 3) memeriksakan kesehatan secara berkala. “Mari kita mulai bergeser ke promotif preventif. Di mana dimulainya dari masyarakat, juga dari Puskesmas. Oleh karenanya pendekatan keluarga ini penting sekali. Jadi saya terima kasih kepada puskesmas yang ada di Kepri yang menjadi ujung tombak”, ujar Nila Moeloek saat melakukan dialog interaktif dengan para peserta Rakerkesda. Menteri Kesehatan didampingi sejumlah pejabat Eselon I dan II Kementerian Kesehatan menghadiri Rakerkesda Provinsi Kepri. Melalui dialog interaktif, Menkes ingin mengetahui langsung perkembangan pembangunan kesehatan di daerah Kepri sekaligus memberi arahan dan solusi terhadap berbagai kendala dan hambatan yang dihadapi jajaran kesehatan. Rakerkesda merupakan forum tahunan seluruh pemangku kepentingan di sektor kesehatan untuk melakukan koordinasi dan sinkronisasi program dan kegiatan pembangunan kesehatan di daerah. Rakerkesda Provinsi Kepri Tahun 2017 yang mengangkat tema ‘Sinergitas Daerah dalam Implementasi Pendekatan Keluarga dan GERMAS di Provinsi Kepulauan Riau’ ini dihadiri oleh 200 peserta yang berasal dari dinas kesehatan provinsi, kabupaten, kota, rumah sakit, puskesmas dan instansi lintas sektor terkait di Kepri.
      Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, dan email kontak@kemkes.go.id.   Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Oscar Primadi, MPH
    Komitmen kuat dari Gubernur Lampung, M. Ridho Ficardo, M.Si untuk menindaklanjuti Instruksi Presiden No. 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dibuktikan dengan terbitnya Peraturan Gubernur No. 38 Tahun 2017 tentang Pedoman Pelaksanaan GERMAS di Provinsi Lampung, semoga Pergub ini bisa menjadi payung hukum bagi seluruh komponen masyarakat di Provinsi Lampung untuk melaksanakan GERMAS. Salam Sehat! Download PERGUB GERMAS di Provinsi Lampung  
     

    Untuk mensinergikan lintas sektor dalam pelaksanaan Pergub No. 38 Tahun 2017, maka dibentuk Forum Komunikasi Germas Tingkat Provinsi Lampung yg tertuang dalam SK No: G/487/V.02/HK/2017

     

    Download SK FORKOM GERMAS Tk. PROV. LAMPUNG

      Video Senam dalam rangka Hari Kesehatan Nasional ke - 53 tahun 2017 yang dilaksanakan serentak di Indonesia, yang bertujuan untuk mengajak masyarakat melakukan GERMAS yaitu bergerak aktif hidup sehat salah satunya dengan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari. www.kemkes.go.id www.dinkes.lampungprov.go.id Share & Download Link : https://youtu.be/MCZo9A2eo4Y

    Keberhasilan @dinkesprovlampung sebagai Juara I, Pemenang e-Aspirasi Tahun 2017, Kategori Pengelola Website Dinas Kesehatan Provinsi, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

    Hari Kesehatan Nasional Ke-53 tahun ini membawa kado berkesan bagi Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, pasalnya tepat di bulan November ini mendapatkan penghargaan sebagai Juara I Pemenang e-Aspirasi tahun 2017. Penghargaan sebagai pengelola terbaik Website Dinas Kesehatan Tingkat Provinsi yang diselenggarakan tiap tahun ini diberikan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kepada Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang telah berhasil mewujudkan beberapa kriteria kompetisi yang sudah ditentukan sebelumnya. Kompetisi e-Aspirasi di lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini sebagai wujud keterbukaan informasi publik, kemudahan akses, desain website, kemanan website, dan kemudahan pencarian informasi khususnya informasi kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Website dibidang kesehatan setidaknya memiliki 4 manfaat utama, yaitu pemenuhan hak publik terhadap informasi kesehatan, kemudahan bagi masyarakat untuk mengakses informasi, diseminasi informasi kesehatan terkini serta media komunikasi dan interaksi antar komunitas untuk penyebaran informasi kesehatan. Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr.dr.hj. Reihana, M.Kes mengapresiasi keberhasilan ini dan berharap keberadaan website Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dapat memberikan manfaat kepada seluruh lapisan masyarakat. Reihana juga mengingatkan jajaranya untuk senantiasa meningkatkan upaya pelayanan kepada masyarakat termasuk memberikan informasi yang benar kepada masyarakat. Apa kriteria pemenang kompetisi e-Aspirasi di lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia ini? Silahkan klik tautan ini : Kriteria e-Aspirasi 2017 sumber : http://www.wartapuskesmas.com/2017/11/13/dinkes-provinsi-lampung-juara-kompetisi-e-aspirasi-2017 Simak juga video apresiasi dari Ka.Pusdatin Kemenkes RI   [embed]https://www.youtube.com/watch?v=zJ1ZP-rY2bU&feature=youtu.be[/embed]
    Lampung dikabarkan mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri dengan terdapatnya satu kasus yang positif penyakit difteri. Kepala Dinas Kesehatan Lampung, Reihana, menanggapi kabar tersebut, menegaskan, sejauh ini belum terdapat kasus difteri di Lampung. "Alhamdulillah, sejauh ini tidak ditemukan kasus difteri di Lampung. Jajaran Kesehatan terus melakukan pemantauan secara ketat, dan Anti Difteri Serum (ADS) yang dimintakan dari Pusat sudah terkirim," Reihana di Bandar Lampung, Selasa (12/12). Media nasional pada edisi Selasa memberitakan, berdasarkan data yang bersumber dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan mengenai kasus KLB Difteri yang terjadi sejak Januari hingga November 2017, di Lampung terdapat 1 kasus dengan angka kematian nihil. Kasus KLB Difteri tertinggi di Jawa Timur dengan 265 kasus dan 11 kematian, disusul Jawa Barat dengan 117 kasus dan 10 kematian. Aceh 76 kasus dengan 3 kematian, hingga Banten dengan 57 kasus dan 3 kematian. Sedangkan DKI Jakarta 13 kasus dan 2 kematian. Reihana mengatakan, Dinas Kesehatan Lampung telah mengantisipasi dengan melakukan kewaspadaan terkait penyakit difteri tersebut. "Kami telah menginformasikan kepada seluruh tim Surveilans Epidemiologi, baik kabupaten, kota, hingga Puskesmas agar melakukan Kewaspadaan Penyakit Difteri," ujarnya. Dinas Kesehatan Lampung juga melayangkan surat ke Kementerian Kesehatan RI berupa permintaan bantuan ADS (Anti Difteri Serum) pada 29 Agustus 2017. Pada Selasa siang, paket ADS sejumlah 8 vial sudah dikirim ke Lampung. Reihana mengungkapkan, berdasarkan Laporan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), dengan sumber Laporan Surveilans dan Imunisasi Dinkes Lampung, terdapat lima kasus suspect (tersangka) selama 2017 ini. Pertama, pada 29 Mei 2017 anak usia 8 tahun dengan inisial AAW, alamat di Natar, Lampung Selatan, hasil lab negatif difteri. Kedua, pada 29 Agustus 2017, inisial R usia 49 tahun, alamat Negara Sakti, Lampung Timur, juga negatif difteri. Ketiga, pasien inisial SF, usia 39 tahun, dari Way Serdang Mesuji, namun tidak sampai diperiksa lab. Keempat, pada 11 Desember 2017, pasien A usia 7 tahun, alamat Kota Bumi, Lampung Utara, dengan imunisasi tidak lengkap, proses lab-nya sampel usap tenggorok dikirim pada Selasa (12/12). Kelima, pada 11 Desember 2017 pasien inisial S dengan usia 21 tahun, alamat Simpang Agung, Lampung Tengah, dengan imunisasi lengkap, proses lab-nya sampel usap tenggorok juga dikirim pada Selasa. Pada 2016, tidak ada kasus. Pada 2015, kasus tersangka difteri di Lampung adalah 3 kasus, dengan hasil Pemeriksaan Laboratorium negatif. Kemudian ada 1 kasus di tahun 2014 dan 2015 dengan hasil pemeriksaan laboratorium negatif. Difteri adalah penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh bakteri CorynebacteriumDiphteria. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat dan tepat. Penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap (dasar pada bayi, lanjutan pada anak usia dibawah dua tahun, anak usia sekolah dasar/sederajat). Ciri-ciri penyakit difteri adalah demam 38°C, munculnya pseudomembran putih, keabu-abuan, tidak mudah lepas dan mudah berdarah. Kemudian, sakit waktu menelan, leher membengkak seperti leher sapi, akibat pembengkakan kelenjar leher serta sesak nafas. Penyakit difteri dapat dicegah melalui imunisasi dengan jadwal saat masih bayi, usia 18-24 bulan, SD Kelas 1, dan SD Kelas 2.
    Pembangunan Rumah Sakit Umum Daerah Bandar Negara Husada (RSUD BNH) merupakan salah satu program unggulan yang digagas oleh Gubernur M.Ridho Ficardo dalam meningkatkan pelayanan kesehatan di Provinsi Lampung. RSUD BNH merupakan rumah sakit tanpa kelas pertama di Lampung. Meskipun rumah sakit ini bertipe C namun memiliki pelayanan dan fasilitas setara dengan kelas 1. Gubernur M. Ridho Ficardo berharap RSUD BNH dapat menjadi rumah sakit tanpa kelas terbaik di Indonesia. Meskipun berlokasi di wilayah administrasi Kabupaten Lampung selatan, rumah sakit BNH tidak hanya melayani masyarakat di sekitar Kota Baru saja, namun meliputi wilayah Lampung Selatan, Lampung Timur, dan Metro. Kehadiran RSUD BNH juga bertujuan untuk mendukung RSUD Abdoel Moeloek yang saat ini sering over capacity. Yakni dengan memberikan pelayanan cepat terpadu dengan diluncurkannya layanan penjemputan pasien bernama Sahabat Menuju Sehat (SMS) RSUD BNH saat ini memiliki 104 kamar pasien, enam dokter umum, 34 perawat, 70 petugas kesehatan, dan masing-masing satu dokter spesialis anak, kandungan, anestesi, bedah, dan penyakit dalam. Kemudian, dilayani 19 bidan, dua apoteker, tiga tenaga kefarmasian, satu sanitarian, tiga nutrisionis, dan dua analis laboratorium. RSUD BNH juga memiliki fasilitas seperti unit rawat jalan spesialis anak, bedah, penyakit dalam, kandung, dan gigi. Selain itu, terdapat unit rawat inap, gawat darurat, kebidanan, perinatologi, ICU, laboratorium, radiologi, gizi, laundry, farmasi, dan haemodialisa.
    Kesehatan jiwa sering tidak menjadi perhatian sebagai aspek kunci kesehatan bagi para pekerja, walaupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa depresi mendominasi penyebab penyakit dan kecacatan di seluruh dunia.   Depresi dapat diobati, namun akses terhadap pengobatan seringkali sulit didapatkan, dan stigma dapat mencegah orang mencari layanan bahkan saat layanan tersebut tersedia. Lingkungan kerja yang sehat memberi dampak positif bagi pekerja dan pemberi kerja.   “Depresi mempengaruhi seluruh orang dari berbagai lapisan usia sesuai siklus hidup manusia di seluruh dunia. Depresi menyebabkan penderitaan dan berdampak pada ketidakmampuan melaksanakan tugas bahkan tugas sehari-hari yang paling sederhana,” kata Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Eka Viora, Sp.KJ pada temu blogger di gedung Kemenkes, Rabu (4/10) terkait hari kesehatan jiwa di tempat kerja yang jatuh pada 10 Oktober setiap tahun.   Depresi juga dapat merusak hubungan dengan keluarga dan teman-teman. Selain itu, dapat menyebabkan ketidakmampuan untuk mencari nafkah. Lebih buruk lagi, depresi dapat mendorong orang untuk bunuh diri dimana saat ini bunuh dirimerupakan penyebab kematian nomor dua pada kelompok usia 15 – 29 tahun.   Menurut WHO’s Global Health Estimates tahun 2015, bunuh diri atau menyakiti diri sendiri adalah penyebab paling umum kedua kematian, setelah kecelakaan di jalan raya pada usia 15-29 tahun di wilayah Asia Tenggara.   Untuk mencegah hal itu terjadi, berikut tips cara mengelola stres dari Ketua Umum PP Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, dr. Eka Viora, Sp.KJ ;   • Hindari situasi yang mengancam • Ubah bagaimana anda melihat situasi • Buat prioritas • Control situasi • Kelola bagaimana stress mempengaruhi anda • Buat tujuan yang realistis • Relaksasi • Cari tahu apa yang lebih penting   Selai itu dapat juga dilakukan pengelolaan stres secara individu; • Berolahraga secara teratur • Berlatihlah untuk membiasakan perilaku sehat • Jadilah realistis • Merenungkan • Kembangkan dan gunakan keterampilan perencanaan • Kenali dan terima batasan pribadi • Kembangkan jejaring sosial • Fokus pada menikmati apa yang Anda lakukan • Beristirahat
    Permasalahan kesehatan dipengaruhi oleh berbagai aspek dan disparitas antar daerah yang dirasakan semakin besar dan kompleks. Untuk itu, dibutuhkan penanganan yang komprehensif dari hulu sampai hilir dengan melibatkan multi sektor. Salah satu upayanya adalah Kementerian Kesehatan menggalang kerjasama dengan dunia usaha dan lembaga non pemerintah. Penandatangan nota kesepahaman kerja sama dalam bidang kesehatan antara Kementerian Kesehatan dengan dunia usaha dan lembaga non pemerintah dilakukan oleh Sekretaris Jenderal Kemenkes RI, dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes, bertepatan dengan pembukaan Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) tahun 2018 di di International Convention Exhibition (ICE) BSD Tangerang, Selasa pagi (6/3). Perwakilan dari 4 dunia usaha dan 2 lembaga non pemerintah yang melakukan penandatanganan kerja sama guna mendukung pembangunan kesehatan tersebut, antara lain: 1) PT. Media Televisi Indonesia, yang diwakili oleh Suryo Pratomo, selaku Direktur Utama Metro TV, terkait nota kesepahaman tentang publikasi program kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran serta kepedulian publik terkait program kesehatan dalam mendukung pencapaian sustainable development goals (SDGs) bidang kesehatan. 2) PT. Gorry Gourmet Indonesia, yang diwakili oleh William Susilo Yunior, selaku Direktur Utama, tentang rekomendasi makanan dan minuman sehat dengan aplikasi Gorrywell dalam mendukung Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) melalui pemilihan makanan sehat. 3) PT. Darya Varia Laboratoria, Tbk, yang diwakili oleh Marlia Hayati Goestam, selaku Presiden Direktur, tentang program corporate social responsibility melalui GERMAS dan penurunan stunting dalam mendukung pencapaian SDGs. 4) PT. Amerta Indah Otsuka, yang diwakili oleh Prayugo Gunawan, selaku Managing Director, terkait nota kesepahaman tentang program CSR melalui upaya promotif preventif dalam mendukung pencapaian SDGs bidang kesehatan. 5) Yayasan Wahana Visi Indonesia, yang diwakili oleh Doseba Tua Sinay, selaku Ketua Pengurus Yayasan, terkait nota kesepahaman tentang implementasi program promotif preventif dalam mendukung pencapaian SDGs bidang kesehatan, untuk meningkatkan akses layanan kesehatan ibu dan anak, gizi, kesehatan lingkungan serta pencegahan penyakit menular. 6) Yayasan Rotary Indonesia D-3420, yang diwakili oleh Thomas Aquinas, selaku Ketua Umum Pengurus Yayasan, terkait nota kesepahaman tentang kerja sama dalam bidang kesehatan untuk meningkatkan akses layanan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, dalam mendukung tercapainya SDGs bidang kesehatan. Sumber : http://sehatnegeriku.kemkes.go.id
    Oleh : Ria Soekarno, SKM, MCN Aceh Jaya – Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit yang disebabkan oleh cacing filaria (microfilaria). Penyakit ini bisa menular dengan perantaraan nyamuk sebagai vektor. Bersifat menahun (kronis), bila tidak mendapat pengobatan, akan menimbulkan cacat menetap/seumur hidup, yaitu berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin, bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Hal ini berdampak pada psikologis penderita dan keluarganya. Penderita tidak dapat bekerja secara optimal. Hidupnya bergantung kepada orang lain sehingga menjadi beban keluarga, masyarakat dan negara. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) sedang melakukan pengumpulan data untuk penelitian filariasis. Kabupaten Aceh Jaya merupakan salah satu lokasi pengumpulan data. Data yg dikumpulkan dari monyet, kucing dan monyet. Sekretaris Badan Litbangkes, Ria Soekarno, SKM., MCN. melakukan supervisi terkait penelitian tersebut, 22 September 2017. “Ketertarikan Saya terhadap monyet, karena saya tadi jalan menuju ketempat ini banyak menemui monyet , ujar Ria. “Sekali nangkep, dapet berapa ?”, tanya dr. Lidwina Sallim, M.Si, Kepala Bagian Tata Usaha, Pusat Litbang Upaya Kesehatan Masyarakat, yang mendampingi.   Yulidar, S.Si, M.Si, peneliti dari Loka Litbang Biomedis Aceh, sebagai penanggung jawab teknis menjelaskan, “Kita sudah mendapat 68 sampel reservoir. Sampel darah dari kera 17 ekor, selebihnya kucing, sekitar 51 ekor. Total target yang harus diperoleh 100 ekor untuk semua hewan, Monyet, Kucing dan anjing Lokasi penangkapan harus di daerah endemis. Di lokasi pertama, kita punya 5 kasus dan sudah diserahkan ke Dinas Kesehatan untuk diberi pengobatan.   Dalam melakukan pencegahan serta untuk mengeliminasi kaki gajah, maka setiap bulan Oktober diadakan Bulan Eliminasi Kaki Gajah (BELKAGA), setiap penduduk kabupaten/kota endemis Kaki Gajah serentak minum obat. BELKAGA telah dicanangkan tanggal 1 Oktober 2015 di Cibinong, Jawa Barat dan menjadi tanggung jawab pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Dalam pelaksanaannya diperlukan dukungan Kementerian dan Lembaga terkait. Badan Litbang membantu melakukan evaluasi serta pemetaan daerah yang terkena penyakit kaki gajah untuk memudahkan program dalam merencanakan pencegahan serta eliminasi yang tepat sasaran. Sumber : sehatnegeriku.go.id
    Games-games apgadu yang ada dalam Post Apgadu Online dapat dimainkan tanpa harus mendownload-nya ke PC/Laptop anda, anda hanya perlu klik tautan pada judul game yang ingin anda mainkan. Jika game tidak muncul, maka ada beberapa hal yang perlu anda perhatikan & lakukan, yaitu :
    1. Halaman game tidak muncul, yang ada hanya keterangan bahwa anda harus meng-enable kan Flash Player.
    2. Klik pada icon info (berlogo huruf i dalam lingkaran) yang ada pada sebelah kiri url. Pada drop menu yang muncul ada keterangan bahwa setatus Flash pada browser anda adalah Ask(default),yang berarti browser harus selalu meminta persetujuan anda untuk menjalankan sebuah animasi Flash.
    3. Klik pada tulisan Ask(defaul) tersebut sehingga menuculkan menu dropdown, lalu pilih Always Allow on This Site.  4.Terakhir, anda hanya perlu klik di luar menu (pada area website yang kosong) untuk memunculkan permintaan reload/refresh halaman website. 5.Klik tombol reload tersebut, maka halaman akan dimuat ulang,dan game sudah dapat dimainkan.

    Apgadu Gizi Seimbang

    Mainkan

    Apgadu Demam Berdarah

    Mainkan

    Apgadu Imunisasi

    Mainkan

    Apgadu HIV

    Mainkan

    Apgadu RS Keliling

    Mainkan

    Apgadu Stunting

    Mainkan

    Outbreak Response Immunization (ORI) merupakan kegiatan imunisasi massal bagi masyarakat. Saat ini di Provinsi Lampung sedang dilakukan ORI Penyakit Difteri, dengan sasaran penduduk usia 1 sd 19 tahun ORI Luas (semua sasaran) dilakukan di Lampung Utara, Lampung Barat, Lampung Tengah dan Bandar Lampung. ORI Selektif ( ORI di wilayah tinggal Kasus Suspek/Tersangka Difteri) dilakukan di Lampung Selatan, Lampung Timur, Tulang Bawang, Pesawaran, Pringsewu dan Tanggamus
    Open Defecation Free (ODF) adalah suatu upaya agar masyarakat bebas dari "Buang Air Besar( BAB) sembarangan" Perubahan perilaku untuk BAB di jamban yang sehat ditumbuhkan melalui upaya peningkatan pengetahuan, kesadaran hingga akhirnya melakukan perubahan perilaku  BAB di Jamban Sehat merupakan faktor "Sensitif" untuk mencegah Stunting/ Anak Pendek Penggunaan jamban tidak sehat meningkatkan resiko terkena penyakit Diare, kecacingan, thyphoid dan sebagainya yang pada akhirnya akan mengganggu tumbuh kembang anak. Pemerintah Daerah Provinsi Lampung berkomitmen mendukung kegiatan "Jambanisasi"/ODF ini dengan melakukan pemicuan secara langsung. Gambar diatas adalah salah satu kegiatan praktik lapangan "ORIENTASI KESEHATAN LINGKUNGAN UNTUK STUNTING" di Desa Pancasila dengan peserta berasal dari Kab Lamtim, Lamsel dan Lamteng dengan peserta Para Danramil, Camat, PKK? Ka Puskesmas dan Ka Lapas yang kelak akan berperan sebagai fasilitator di masyarakat
    Peringatan Hari TBC Sedunia adalah kesempatan untuk meningkatkan kampanye dengan penyebar luasan informasi terkait TBC serta mengajak semua pihak untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan pengendalianTuberkulosis. Tema peringatan Hari TBC Sedunia tahun 2018 ini adalah Peduli TBC, Indonesia Sehat dengan aksi: Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC). Secara Nasional telah disusun 8 (delapan) Rencana Aksi untuk Eliminasi TBC yaitu : (1) Public-Private Mix; (2) Manajemen Terpadu Program Resisten Obat; (3) Kolaborasi TB-HIV; (4) Penguatan Laboratorium; (5) Pengembangan Sumber Daya Manusia; (6) Penguatan Logistik; (7) Advokasi, Komunikasi dan Mobilisasi Sosial; dan (8) Informasi Strategis Eliminasi TBC 2035 dan bebas TBC 2050.
    Pada hari ini 24 Maret dunia memperingati Hari Tuberkulosis Sedunia (HTBS) dimana untuk Pemerintah Daerah Provinsi Lampung menyelenggarakan peringatan HTBS 2018 yang dipusatkan di Bundaran Tugu Adipura dalam bentuk aksi simpatik membagikan bunga dan masker pagi hari ini kepada pengguna jalan raya. Kegiatan peringatan HTBS 2018 di Provinsi Lampung ini dilakukan bekerja sama antara Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, PDPI ( Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), PPTI (Perhimpunan Pemerhati Tuberkulosis Indonesia) (SBH)Saka Bakti Husada Gerakan Pramuka Kwarda Lampung dan IAKMI (Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat) Lampung Tema HTBS 2018 adalah *Wanted: Leaders for a TB-free world. You can make history. End TB* dimana memberikan motivasi kepada kita semua untuk dapat berpartisipasi untuk menyelesaikan masalah Tuberkulois. Tema Peringatan HTBS 2018 bertujuam mengajak setiap orang turut aktif dalam penanggulangan TBC melalui pekerjaan dan kegiatan mereka sehingga di Indonesia adaptasi tema tersebut adalah *Peduli TBC, Indonesia Sehat dengan aksi: Temukan Tuberkulosis Obati Sampai Sembuh (TOSS TBC)
    Road Show pengaktifan Saka Bakti Husada di Tingkat Cabang serta Ranting kembali dilaksanakan hari ini, Rabu, 11 April 2018. Pimpinan SBH Daerah Lampung melakukan Pertemuan Koordinasi yang melibatkan Unsur Pimpinan SBH Cabang serta Mabi Saka di tingkat Pangkalan dalam Wilayah Kwarcab Bandarlampung. Turut hadir juga Andalan Cabang Bandarlampung. Pimpinan SBH Cabang Bandarlampung, Drs. Abu Bakar, M.Kes pada kesempatan itu memberikan apresiasi dg pertemuan ini. Menurutnya dengan pertemuan yang melibatkan unsur Mabi, Kwarran, Pamong Saka serta peserta didik dapat segera terwujudnya pangkalan SBH di Puskesmas. Pada kesempatan yang sama, Kak Muqouwis AT menyampaikan materi SBH dan Kak dr. Asih Hendrastuti menyampaikan materi peran SBH dalam mendukung Program Kesehatan.
    Taukah kamu bahwa tanggal 12 April diperingati sebagai Hari Bekal Nasional, ayo jadikan moment ini sebagai penyemangat kita untuk selalu membawa bekal makanan ke kantor ataupun ke sekolah. Banyak keuntungannya loh : Lebih higienis, sehat dan terjamin, sesuai dengan selera kita, lebih hemat, serta pola makan dan porsi makan lebih terjaga. Dan yang paling penting bekal yang kita bawa haruslah memenuhi standar gizi seimbang, sesuai kebutuhan tubuh kita sehari hari.... Salam....
    Setiap tanggal 12 April diperingati sebagai Hari Bekal Nasional. Adanya peringatan Hari Bekal Nasional merupakan bentuk kepedulian terhadap pemenuhan gizi dan kualitas makanan yang baik. Kebiasaan membawa bekal dari rumah dapat meminimalisir meningkatnya PTM (Penyakit Tidak Menular). Kementerian Kesehatan RI dalam hal ini telah merekomendasikan pemenuhan gizi seimbang melalui program “Isi Piringku”.   Agar bekal yang kita bawa berkualitas tentu saja perlu memperhatikan jumlah asupan yang dibutuhkan oleh tubuh seperti komposisi karbohidrat, protein, dan lemak. Pemenuhan akan kebutuhan asupan gizi dalam bekal makan kita dapat di isi dengan makanan pokok, sayuran, lauk pauk, dan buah-buahan. Jenis makanan pokok apa yang dapat digunakan untuk bekal?   Makanan Pokok   Sebagai negara kepualauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki berbagai jenis makanan pokok yang mengandung karbohidrat dan memiliki fungsi sebagai sumber tenaga utama bagi tubuh. Makanan pokok di Indonesia tidak hanya terpaku pada nasi saja, ada berbagai pilihan selain nasi sebagai sumber karbohidrat dan menjadi referensi untuk bekal antara lain, Singkong, Sagu, Bihun, Mie, Jagung, dan Kentang. Sebagai acuan, 150g nasi dapat diganti dengan 3 buah sedang kentang (300g), atau 11/2 gelas mie kering (75g).   Lauk Pauk   Lauk pauk terdiri dari pangan bersumber protein hewani dan protein nabati. Beberapa sumber protein yang dapat menjadi referensi untuk bekal antara lain Ikan dan hasil laut lainnya, ayam, daging sapi, telur, dan susu beserta produk olahannya. Selain sumber protein hewani terdapat pula sumber protein nabati yang cocok untuk dijadikan bekal sehat kita seperi tempe, tahu, dan kacang-kacangan.   Buah dan Sayur   Buah memilki banyak manfaat bagi tubuh kita. Buah sebagai sumber dari vitamin dan mineral, buah memiliki berbagai manfaat bagi tubuh kita yang antara lain dapat mencegah penyakit jantung dan mencegah serangan jerusakan hati dan stroke, selain itu buah juga dapat dijadikan sebagai diet alami yang dapat mencegah kolesterol jahat yang dapat menyerang tubuh kita. Buah juga memiliki antioksidan yang dapat menjaga kekebalan tubuh kita. Yang terpenting sebagai negara yang memiliki berbagai macam jenis buah, kita patut bangga dengan senantiasa mengkonsumsi buah lokal.   Selain buah-buahan, sayur juga memiliki kandungan vitamin dan mineral yang tinggi. Cara hidup yang sederhana adalah dengan mengkonsumsi sayuran. Beberapa diantara sayuran yang ada dapat di konsumsi tanpa di masak terlebih dahulu, namun ada juga yang memerlukan proses pengolahan terlebih dahulu agar menambah cita rasa dari sayuran tersebut dan lebih higeinis.   Bekal dengan gizi seimbang, seperti ini akan memunculkan kebiasaan untuk mengkonsumsi makanan rumahan yang jauh lebih sehat dibandingkan harus jajan di luar. Membawa bekal juga dapat menjamin makanan tetap higeinis.
    Presiden RI Joko Widodo kalau hadir di acara kesehatan sering menggembor-gemborkan bawa anak ke Pos Pelayanan Terpadu atau kita sering bilang Posyandu. Apalagi sekarang Kementerian Kesehatan RI telah memfokuskan target kesehatan yang harus dicapai di 2019 adalah pada penurunan stunting, serta perbaikan kualitas dan cakupan imunisasi. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu eliminasi tuberculosis (TBC), cuma itu gak bakal dibahas karena TBC tidak termasuk dalam Posyandu. Presiden makin menjadi-jadi nih dalam menggenjot masyarakat untuk bawa anak mereka ke Posyandu. Sebelum bahas Posyandu, terlebih dahulu saya akan bahas kenapa stunting dan imunisasi, menjadi target perbaikan kesehatan di 2019. Okay, poinnya adalah dua target di atas merupakan masalah kesehatan yang harus dibenahi dengan segera di Indonesia. Mari kita buktikan. Pertama, Stunting, banyak faktor yang menyebabkan stunting, di antaranya dari faktor ibu yang kurang nutrisi di masa remajanya, masa kehamilan, pada masa menyusui, dan infeksi pada ibu. Faktor lainnya berupa kualitas pangan, yakni rendahnya asupan vitamin dan mineral, buruknya keragaman pangan dan sumber protein hewani, dan faktor lain seperti ekonomi, pendidikan, infrastruktur, budaya, dan lingkungan. Pada 2010, WHO membatasi masalah stunting di setiap negara, provinsi, dan kabupaten sebesar 20%. Sementara itu berdasarkan Pemantauan Status Gizi 2015-2016, prevalensi Balita stunting di Indonesia dari 34 provinsi hanya ada 2 provinsi yang berada di bawah batasan WHO tersebut, yakni Yogyakarta (19,8%) dan Bali (19,1%). Untuk mengatasi hal tersebut, perlu intervensi spesifik gizi pada remaja, ibu hamil, bayi 0-6 bulan dan ibu, bayi 7-24 bulan dan ibu. Selain itu diperlukan juga intervensi sensitif gizi seperti peningkatan ekonomi keluarga, program keluarga harapan, program akses air bersih dan sanitasi, program edukasi gizi, akses pendidikan, dan pembangunan infrastruktur. Selanjutnya soal Imunisasi, kejadian luar biasa difteri dan campak yang baru-baru ini terjadi membuat pemerintah harus kembali menganalisa terkait cakupan imunisasi yang telah dilakukan, mutu, dan kualitas vaksin yang ada, serta kekuatan surveilans di berbagai daerah. Namun demikian, cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia pada 2015 hingga 2017 mengalami peningkatan. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kemenkes RI, pada 2015 cakupan imunisasi secara nasional mencapai 86,5%, pada 2016 mencapai 91,6%, dan pada 2017 mencapai 92,4%. Usulan penajaman program penting dilakukan, yaitu berupa peningkatan cakupan imunisasi, edukasi kepada masyarakat dan advokasi pada pimpinan wilayah, dan membangun sistem surveilans yang kuat untuk deteksi kejadian penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi. Data di atas mengharuskan para orangtua membawa anak ke Posyandu. Sebab dengan datang dan memeriksakan anaknya ke petugas di Posyandu, status gizi dan imunisasi anak bisa terpantau. Dengan begitu jumlah anak sehat akan banyak, mereka bisa berpendidikan mencapai cita-citanya, dan siapa tahu bisa jadi presiden.
    Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) mengukuhkan lima orang anggota Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis petang (3/5). Kegiatan pengukuhan dilakukan bersamaan dengan pelantikan sebelas pejabat pratama Kemenkes, Kelima anggota BPRS tersebut, yaitu: Dr.dr. Slamet Riyadi Y, DTM&H, MARS yang berasal dari unsur Kementerian Kesehatan; Drs. Chamdani Tauchid, MM. MKes, MBA dari unsur Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI); Dra Tini Hadad dari unsur masyarakat; dr. Chairulsjah Sjahruddin, Sp.OG, MARS dari unsur organisasi profesi Ikatan Dokter Indonesia (IDI); dan Dr. Ati Suryamediawati, S.Kp, M.Kep, dari unsur organisasi Perhimpunan Perawat Nasional (PPNI). Pada kesempatan tersebut, Menkes menyatakan bahwa di era dunia digital saat ini, arus informasi mengalir deras sehingga masyarakat dapat semakin mudah mengakses informasi yang mengakibatkan semakin meningkatnya jumlah pengaduan masyarakat terkait pelayanan yang diberikan oleh rumah sakit, yang pada akhirnya melibatkan Badan Pengawas Rumah Sakit (BPRS) dalam membantu pemerintah untuk penyelesaian masalah yang terjadi. Menurut Menkes, peranan BPRS sebagai badan pengawas rumah sakit sangatlah penting sehingga diperlukan suatu wadah informasi digital sebagai tempat pengaduan masyarakat yang akan mendukung peningkatan peran, fungsi dan wewenang BPRS. “Anggota BPRS juga harus mempunyai komitmen yang tinggi untuk kepentingan peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien”, tandas Menkes. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.
    Pemerintah Provinsi Lampung dan Kabupaten Pringsewu sedang melakukan pembinaan ke Posyandu yang akan di kunjungi oleh peserta TCTP (Third Country Training Program) Provinsi Lampung dijadikan laboratorium lapangan karena dianggap berhasil dalam pengembangan Penggunaan Buku KIA.
    [gallery ids="1640,1639,1638,1637"]
    Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun. Menurut UNICEF, stunting didefinisikan sebagai persentase anak-anak usia 0 sampai 59 bulan, dengan tinggi di bawah minus (stunting sedang dan berat) dan minus tiga (stunting kronis) diukur dari standar pertumbuhan anak keluaran WHO. Selain pertumbuhan terhambat, stunting juga dikaitkan dengan perkembangan otak yang tidak maksimal, yang menyebabkan kemampuan mental dan belajar yang kurang, serta prestasi sekolah yang buruk. Stunting dan kondisi lain terkait kurang gizi, juga dianggap sebagai salah satu faktor risiko diabetes, hipertensi, obesitas dan kematian akibat infeksi. Mencegah Stunting Waktu terbaik untuk mencegah stunting adalah selama kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan. Stunting di awal kehidupan akan berdampak buruk pada kesehatan, kognitif, dan fungsional ketika dewasa. Untuk mengatasi masalah stunting ini Kementerian Kesehatan dengan dukungan Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-I), melalui Program Hibah Compact Millennium Challenge Corporation (MCC) melakukan Kampanye Gizi Nasional Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM). Salah satu intervensi dalam program PKGM adalah tentang perubahan prilaku masyarakat, yang dilakukan dalam program Kampanye Gizi Nasional (KGN). Selain itu, para ibu hamil tak hanya diwajibkan periksa secara berkala dan diberi tablet penambah darah, tapi juga diberikan penyuluhan melalui kelas pendukung ibu. [gallery link="file" size="medium" bgs_gallery_type="slider" bgs_gallery_title="Kampanye Stunting" ids="1652,1650,1648,1646"]   Tujuannya, agar ibu mengetahui perkembangan kehamilannya dan bisa lebih menjaga kondisi kehamilannya. Pasalnya, stunting sangat dipengaruhi oleh seribu hari pertama kehidupan, dimulai dari dalam kandungan.
    Silakan Download Pedoman Pemanfaatan Dana Desa melalui link berikut : atau semua file dalam satu file compress : Materi Umum Panduan Dana Desa
    Sesuai dengan Permenkes No.18 tahun 2017 dalam rangka menjaga mutu tenaga kesehatan PD hari ini tgl.4 sd6 Juni dilaksanakan uji kompetensi untuk kenaikan jenjang jabatan fungsional perawat, perawat gigi,rekam medis, elektro medis, radiografer, dan Kesehatan kerja.
    Komitmen semua pihak utk berpartisipasi aktif pada Kampanye Measles Rubela ( MR) dg sasaran 9 bulan hingga 15 tahun dilaksanakan di bulan Agustus ( Lembaga Pendidikan spt PAUD, TK, SD dan SMP sederajat) dan September di fasilitas lainnya ( Posyandu, Puskesmas dan Klinik), disampaikan oleh Kadinkes DR dr Hj Reihana, M.Kes setelah membuka rapat persiapan Kampanye MR.
    Pemeriksaan keamanan pangan di beberapa lokasi pusat perbelanjaan menjelang hari raya.
    Pembinaan pemberdayaan masyarakat oleh Dinkesprov Lampung dilakukan dalam bentuk pembinaan pada Kelompok Asuhan Mandiri Pemanfaatan Toga & Akupresure. [gallery link="file" size="medium" bgs_gallery_type="slider" bgs_gallery_title="Pemanfaatan Toga" ids="1671,1672,1673"] Peninjauan dalam rangka Lomba Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga)& Akupresure di Puskesmas Semuli Raya Lampung Utara Wawancara dalam rangka Lomba Asuhan Mandiri Pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (Toga)& Akupresure di Puskesmas Semuli Raya Lampung Utara
    Hari ini estimasi puncak arus mudik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni, Anggota Tim Posko Kesehatan pun ditambah personilnya Kompak Dinkesprov - KKP Bakauheni - Dinkes Lamsel            Pos Pantau Pintu TOL Itera
    Tabik Pun "Selamat Hari Keluarga Nasional ke 25, 29 Juni 2018" Semoga Keluarga kita menjadi keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga masa depan bangsa yang berketahanan
    [gallery size="medium" link="file" bgs_gallery_type="slider" bgs_gallery_title="Hari Saka Bakti Husada ke-33" ids="1697,1698"]
    [wpdm-all-packages items_per_page="20" categories="sakip2018" title="Donwload Dokumen Sakip 2018" toolbar="1" jstable=1]
    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menerima reporter cilik yang mewawancarai tentang kampanye Measles Rubella
    1. Pengaduan dapat disampaikan melalui form kontak www.dinkes.lampungprov.go.id, atau klik disini
    2. Mengisi formulir pelayanan publik dengan mengsisi perihal PENGADUAN
    3. SMS gateway
    [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2016/03/Alur-Standar-Pelayanan-Data.pdf" title="Alur Standar Pelayanan Data"]
    Download perda Kawasan Tanpa Rokok Provinsi Lampung [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2018/09/PERDA-KTR-PROVINSI-LAMPUNG.pdf" title="PERDA KTR PROVINSI LAMPUNG"]
    [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2018/09/DAFTAR-PERMINTAAN-INFORMASI-YG-DITERIMA-DAN-DITOLAK.pdf" title="DAFTAR PERMINTAAN INFORMASI YG DITERIMA DAN DITOLAK"]
    [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2018/09/REGISTER-PERMOHONAN-INFORMASI-PUBLIK.pdf" title="REGISTER PERMOHONAN INFORMASI PUBLIK"]
    [pdf-embedder url="http://dinkes.lampungprov.go.id/wp-content/uploads/2018/09/SURAT-PENOLAKAN-INFORMASI.pdf" title="SURAT PENOLAKAN INFORMASI"]

    Alokasi DAK Bidang Kesehatan Tahun 2018

    Provinsi Lampung

       
    1 BOK Provinsi 1.947.015.000
    2 RSUD Bandar Negara Husada 3.122.860.937
    3 Bapelkes Provinsi Lampung 3.478.443.000
    4 Labkesda Provinsi Lampung 148.737.000
    TOTAL 8.697.055.937
    Donggala, 3 Oktober 2018 Tim Public Service Center (PSC) 119 Sulawesi Barat dan PSC 119 Palopo adalah tim kesehatan yang pertama menembus Kota Palu melalui darat. Pekerjaan pertama yang mereka lakukan adalah melakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Donggala meski tidak ada listrik dan air. Kedua tim PSC 119 itu terdiri dari 1 dokter anestesi, 1 dokter bedah, 1 dokter umum, 3 orang perawat, dan 6 orang relawan. Salah satu tim PSC 119 yang juga dokter spesialis anestesi, dr. Pandi mengatakan mereka tiba hari Minggu (30/9) pukul 10.00 WITA di Donggala. Sebelumnya, sekitar pukul 8 WITA, tim PSC melakukan pelayanan di pengungsian di Mamuju Utara, dan Donggala. Setibanya di Donggala, tim PSC 119 menerima laporan bahwa ada pasien 1 trauma amputasi, trauma kepala, dan dada. Pada pengungsi yang mengalami trauma amputasi, dilakukan tindakan operasi dengan anestesi spinal. Pada saat itu kondisinya sedang tidak ada listrik dan air. Namun, operasi harus tetap dilakukan karena jika dibiarkan khawatir akan menyebabkan risiko yang lebih parah. Dr. Pandi mengatakan operasi itu dilakukan secara manual, tensi manual, dan pengawasan manual. Selain itu, cuci tangan pakai NaCl, handscrub dan alkohol. Sementara untuk trauma kepala, dan dada dirujuk ke rumah sakit. Kami tiba hari minggu. Operasional di Donggala melayani pasien sampai jam 13.00 WITA dan di lanjut jam 17.00 melayani pasien yang tertimpa reruntuhan, kata dr. Pandi. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.
    Palu, 3 Oktober 2018 Menjelang hari ke lima pasca gempa bumi dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tenggara, Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengunjungi para korban yang sedang dirawat di rumah sakit maupun yang berada di pengungsian. Menkes hadir untuk melihat dan memastikan secara langsung bahwa masyarakat telah mendapatkan pelayanan kesehatan dengan baik. Menkes melihat, kemampuan kita (Indonesia) dari sisi kesehatan sudah sangat cukup untuk menangani kondisi bencana saat ini. ''Kapasitas Nasional masih mampu menangani, sehingga kita belum membutuhkan bantuan dari asing, baik orang maupun logistik kesehatan,'' ungkap Menkes Nila saat memberikan keterangan kepada rekan media usai meninjau korban bencana. Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, dr. Ahmad Yurianto. Yuri menegaskan bahwa yang telah dikerahkan saat ini masih sebagian kecil, tidak sampai 20% dari kapasitas nasional, bahkan kita masih mengatur kedatangan Nakes dan tim logistik ke Palu Donggala. Menurut Yuri, ukuran ideal untuk menghadapi krisis adalah yang menjawab beban. ''Ukuran kita bukan seberapa banyak tenaga yang dikirim akan cukup, 1000 Nakes akan cukup atau 5 dokter sudah cukup, tidak seperti itu, tapi fokus pada bebannya,'' tegasnya. Yuri menambahkan, saat ini dokter spesialis bedah yang sedang bertugas kurang lebih hanya 15 orang, jika merujuk pada kasus bedah, di antara jumlah pasien yang harus dioperasi baik yang emergency maupun yang dipersiapkan, dan dihadapkan pada jumlah dokter yang ada, dinilai sudah cukup. Artinya tidak ada lagi beban yang tertunda layanannya dengan alasan tenaga kesehatan yang kurang. ''Kita masih punya kekuatan besar, kalau tidak bisa ditangani di sini, kita masih punya rumah sakit tipe A di Makassar, kirim ke RS Wahidin, ahlinya juga masih banyak disana. Kalau kurang ya kita kirim lagi, masih sangat sangat cukup,'' jelas Yuri. Selain tenaga kesehatan yang dianggap cukup, stok obat saat ini pun dalam kondisi aman. Karena, sistem obat yang dipakai menggunakan buffer/safety stock yang dimiliki oleh instalasi farmasi, juga bantuan dari relawan, serta pencatatan dan pengeluaran yang selalu terpelihara. Selain itu ditambah lagi link dengan sistem logistik obat nasional, jadi bisa dikatakan saat ini dalam kondisi aman, karena bisa langsung mengetahui mana yang kurang. ''Pedoman kita, obat harus aman untuk seminggu ke depan, nanti kalau sudah kurang tiga hari, baru kita dorong lagi,'' pungkasnya. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.
    Palu, 5 Oktober 2018 Tim gerak cepat dari Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BBTKL) Makassar lakukan Rapid Health Assessment (RHA) di 12 titik pengungsian. Hasilnya telah diketahui beberapa permasalahan kesehatan lingkungan dan tim kesehatan lingkungan segera menindaklanjutinya. Masalah yang diketahui dari hasil RHA adalah persoalan air bersih, air minum,dan jamban darurat. Sementara itu, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah air bersih, air minum, makanan, dan jamban darurat. Adapun pos pengungsian yang dilakukan RHA sampai dengan 4 Oktober 2018 adalah BTN Korpri Kawatuna, Pos Kesehatan Bandara, Lapangan Balai Kota, Pos Banggai Kepulauan, Pos Klasnas, Pos Penanggulangan Bencana Pendamping Desa, Pos Lapangan Kawatuna, Pos To Raranga, BTN Palupi, Pos Jl. Merpati 2, Pos Jl. Veteran Masjid Al Wat, Pos Bukit Marwah, Pos Pengungsian Tojo Una Una, dan Pos Polda Baru Soeta. Pada saat melakukan RHA, tim juga membawa logistik kesehatan untuk dibagikan. Logistik kesehatan itu terdiri dari hygiene kit Individu 50 Paket, hygiene kit keluarga 90 Paket, repelant lakat 144 pcs, masker 2.000 pcs, polibag biasa 2.000 lembar, dan chlorine difuser 15 buah. Selain itu, Tim Kesehatan Lingkungan dari Poltekkes Manado berhasil memasang Teknologi Tepat Guna air bersih berupa alat penyaring air sistem Back Wash di Desa Kaluku Bula Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi. Tim Kesehatan Lingkungan hingga saat ini terdiri dari Direktorat Kesehatan Lingkungan Kemenkes, BBTKL Makassar, Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Palu, Poltekkes Manado, dan Poltekkes Mamuju. Di RS Undata, kebutuhan air bersih menggunakan sumber air baku yang berasal dari sumur bor. Kondisi saat ini untuk kebutuhan air bersih sudah normal kembali karena pasokan listrik di RS Undata sudah normal kembali. Pembersihan sampah medis dan bekas kantong jenazah pun dilakukan oleh relawan Laziz Makassar dan Wahdah Makassar. Sampah medis dan bekas kantong jenazah itu kemudian dibakar di halaman parkir. Selanjutnya, akan dilakukan sampel kualitas air bersih uji bakteriologi dan kimia di RS Undata, RS Madani, RS Bhayangkara, RS Anantapura oleh BBTKL Makassar. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    Palu, 8 Oktober 2018 Sebagai respon bidang kesahatan terhadap kejadian gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, Kemenkes mendirikan Pos Cluster Kesehatan yang terdiri dari sejumlah subcluster. Pos Cluster Kesehatan ini, terdiri dari subcluster Layanan Kesehatan yang bertugas memberikan layanan medis baik pada masa tanggap darurat atau masa pemulihan darurat. “Ada juga subcluster Pengendalian Penyakit dan Kesehatan Lingkungan. Nantinya mereka akan banyak berperan dalam konteks pengelolalan kualitas lingkungan di sekitar pengungsian,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. Achmad Yurianto. Selain itu, pada Subcluster Kesehatan Reproduksi akan dilakukan intervensi terhadap layanan kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi, serta perlindungan anak dan balita. Subcluster Gizi, tambah dr. Yurianto, di masa tanggap darurat harus ada pengawasan terkait pengolahan gizi, baik pengolahan di tingkat dapur umum maupun pengawasan terkait kebutuhan gizi khusus pada kelompok-kelompok rentan tertentu, seperti anak dan orang lanjut usia. “Kemudian pada Subcluster Kesehatan Jiwa, ini sangat penting. Di setiap bencana memunculkan trauma psikologi. Ini membutuhkan pendekatan yang sistematis dan berkesinambungan. Karena ini tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu dekat,” kata dr. Yurianto. Selanjutnya, ada pula Tim Pengolah Data. Ini menjadi pusat data dari aktivitas seluruh subcluster yang nantinya akan menjadi dasar untuk membuat kebijakan berikutnya. Yang terkahir subcluster inforamasi. Dr. Yurianto mengatakan melalui subcluster ini akan menghasilkan informasi yang bisa dipublikasikan maupun untuk dikomunikasikan kepada pengelola perencanaan pada level pemerintah. “Ini keseluruhan yang harus kita kendalikan dan kita butuhkan untuk mengintegrasikan nya. Di setiap posko akan kita libatkan unsur pemerintah daerah, perguruan tinggi sebagai pendamping dan pengolah data, dan beberapa dari rekan NGO yang bisa berkontribusi pada pengelolaan manajemen keposkoan ini,” kata dr. Yurianto. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    Palu, 8 Oktober 2018 Bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Tengah mengakibatkan masyarakat setempat mengonsumsi makanan apa adanya, termasuk anak-anak. Sangat disayangkan bila anak-anak itu mengonsumsi makanan yang tanpa diperhatikan gizinya, akibatnya mereka akan mudah terserang penyakit. Maka, untuk mencegah hal tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melalui Direktorat Gizi Masyarakat membangun Dapur Gizi Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA). Dalam jangka 2 minggu ke depan, sebanyak 6 dapur gizi yang didirikan di pos pengungsian dengan jumlah pengungsi terbanyak di Kota Palu. Ke depannya, dapur gizi itu dapat dibangun di seluruh pos pengunsian dan dapat diadopsi oleh tenaga kesehatan dari Dinkes provinsi maupun kabupaten. Kegiatan yang dilakukan di dapur gizi itu berupa memasak masakan untuk anak-anak dengan mengacu pada nasi, hewani, sayuran, dan buah-buahan. Yang memasak nantinya adalah ibu-ibu. Sambil menyiapkan masakan untuk anak-anaknya, mereka diajarkan oleh tim gizi Kemenkes bagaimana caranya memasak makanan untuk anak-anak. Untuk pasokan bahan makanan akan dipenuhi oleh NGO. Orangtua juga dalam hal ini ikut memberikan bantuan terkait peralatan yang nantinya akan digunakan. Pasca bencana ini, yang dikhawatirkan soal gizi anak-anak adalah pada asupan gizinya. Jika makanan yang dikonsumsi anak-anak adalah sembarang makanan, akibatnya anak menjadi mudah sakit dan menjadi beban orangtua. Karena itu, keberadaan dapur gizi penting untuk menjaga gizi anak-anak. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    BANDAR LAMPUNG ----- Pemerintah Provinsi Lampung optimistis pengendalian penyakit TBC (Tuberculosis) sesuai target, dengan tingkat kesembuhan di atas 85%. Tahun 2019 mendatang ditargetkan 70% terduga TBC dapat terendus dan disembuhkan. "Target kita tahun 2050 Lampung bebas TBC," ujar Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Reihana dalam sambutannya pada acara Seminar “Peran Organisasi Profesi Kesehatan Sebagai Mitra Pemerintah Dalam Pengendalian Tuberkulosis di Provinsi Lampung,” di Gedung Balai Keratun, Komplek Kantor Gubernur Lampung, Senin (15/10/18). Menurut Rihana, dibutuhkan langkah nyata dan kerjasama seluruh pihak untuk mengakhiri TBC di tahun 2035 "Bukan hanya pemerintah tapi juga seluruh elemen masyarakat termasuk organisasi profesi kesehatan untuk bahu membahu meningkatkan penemuan terduga TBC dan mengakhiri TBC di 2035," ujar Reihana. Reihana yang juga Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (AIKMI) Pengda Lampung menjelaskan, jika angka penemuan terduga (Case Detection Rate/CDR) TBC di Provinsi Lampung hingga September 2018 telah terdeteksi sekitar 30 %. "Artinya masih ada sekitar 70% kasus yang belum ditemukan dan kemungkinan besar didiagnosis dan diobati tidak standar di berbagai layanan non pemerintah,” katanya. Rendahnya penemuan kasus TBC terutama disebabkan rendahnya sensitifitas petugas terdapat suspect TBC, “Hanya sebagian kecil dengan gejala yang sudah berat yang di periksakan ke laboratorium. Hal ini berarti masih banyak suspect TBC yang lolos,” ungkap Reihana. Selain itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam kepatuhan berobat, faktor lingkungan dan TB resisten obat akibat pemberian obat yang tidak standar, serta masih lemahnya peran praktek mandiri dan klinik swasta dalam menjaring dan melaporkan kasus TBC turut menambah permasalahan dalam pengendalian TBC. Secara nasional diperkirakan utilitas puskesmas berkisar 30-40 %. Dari yang berobat di luar puskesmas ternyata 96 % di prakter mandiri under reporting sementara di rumah sakit 62 % under reporting, jelasnya. Dari berbagai permasalahan tersebut, Ia berharap seminar ini akan menjadi titik awal kerjasama antar mitra strategis organisasi profesi kesehatan bersama pemerintah dalam mengatasi dan menyelesaikan issue-issue kesehatan di Provinsi Lampung. “Saya optimistis jika kemitraan dan kerjasama ini dapat dipertahankan dan ditingkatkan, akan sangat bermanfaat bagi semua pihak, baik para insan kesehatan sebagai anggota organisasi profesi, juga bagi pemerintah yang mendapat manah sebagai penanggungjawab program, juga yang terpenting yakni bagi kesehatan masyarakat Lampung,” ujar Reihana. Sementara itu, Leni Yurina dalam laporannya mengatakan jika seminar ini merupakan rangkaian Forum Ilmiah Tahunan (FIT Ke-4) IAKMI yang diikuti lebih 500 orang yang berasal dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), IAKMI, Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Perkumpulan Ahli Teknologi Medik Indonesia (PATMI), Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), dan Persatuan Ahli Farmasi Indonesia (PAFI).Adapun tujuan penyelenggaraan seminar ini adalah untuk memperkuat komitmen seluruh organisasi kesehatan, desiminasi informasi dan menyamakan persepsi tentang kebijakan, meningkatkan koodinasi antara pemerintah dan lintas profesi kesehatan juga meningkatkan kapasitas anggota profesi kesehatan untuk lebih professional. Melalui seminar ini Leni mengungkapkan jika seluruh organisasi profesi kesehatan sepakat untuk mendukung pengendalian penyakit TBC di Provinsi Lampung sesuai dengan standar profesi.
    Humas Dinkes Prov
    sehatnegeriku.kemkes.go.id - Perubahan iklim dan peningkatan resistensi anti-mikroba telah mendorong peningkatan munculnya new-emerging diseases dan re-emerging diseases yang berpotensi pandemik dengan karakteristik risiko kematian yang tinggi dan penyebaran yang sangat cepat. Globalisasi yang mengakibatkan peningkatan mobilitas manusia dan hewan lintas negara serta perubahan gaya hidup manusia juga telah berkontribusi mempercepat proses penyebaran wabah menjadi ancaman keamanan kesehatan global. Sejak outbreak wabah Severe Acute Respiratory Sindrome (SARS) di kawasan Asia pada tahun 2003, ancaman keamanan kesehatan global terus menunjukkan kecenderungan peningkatan antara lain terjadinya outbreak flu burung/avian influenza (H5N1) tahun 2004, flu babi/swine influenza (H1N1) tahun 2009 (dideklarasikan WHO sebagai pandemi pertama kalinya di abad ke-21), Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV) tahun 2012-2013, Ebola tahun 2014, dan Zika tahun 2015. Peningkatan ancaman keamanan kesehatan global tersebut menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan nasional dan mengakibatkan kerusakan besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa outbreak wabah Ebola di Guinea, Liberia dan Sierra Leone pada tahun 2014 mengakibatkan pertumbuhan negatif perekonomian ketiga negara tersebut lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi sebelum outbreak. Sedangkan kerugian ekonomi akibat outbreak di kawasan Afrika secara keseluruhan mencapai USD 30 milyar. Indonesia pun pernah mengalaminya saat menghadapi outbreak flu burung yang menanggung beban ekonomi sampai Rp 5 Trilyun, serta penurunan perdagangan dan pariwisata. Menyikapi hal tersebut, organisasi-organisasi internasional, seperti WHO (Badan Kesehatan Dunia), FAO (Badan Pangan Dunia), dan OIE (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) telah mengembangkan sejumlah aturan, pedoman dan kerangka sebagai acuan dalam upaya peningkatan kapasitas yang dimaksud. WHO memiliki International Health Regulations (IHR) yang disahkan pada tahun 2005 menggantikan IHR (1969) dengan memperluas cakupan keamanan kesehatan global terhadap wabah dari semua penyakit. IHR (2005) yang mulai berlaku efektif pada 15 Juni 2007 merupakan instrumen internasional yang mengikat kewajiban negara-negara Pihak untuk mencegah, melindungi, dan mengendalikan penyebaran wabah secara internasional sesuai dengan dan terbatas pada faktor risiko yang dapat mengganggu kesehatan, dengan sesedikit mungkin menimbulkan hambatan pada lalu lintas dan perdagangan internasional. Indonesia menjadi negara Pihak IHR (2005) sejak tahun 2007. Outbreak wabah Ebola pada tahun 2014 telah menyadarkan kembali dunia mengenai kebutuhan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional masing-masing negara melalui implementasi penuh IHR (2005). Berbagai literatur menyimpulkan bahwa outbreak wabah Ebola tidak akan terjadi atau dapat diminimalisir dampaknya apabila di negara-negara yang terpapar yaitu Guinea, Liberia dan Sierra Leone memiliki sistem kesehatan nasional yang kuat dengan membangun kapasitas sesuai IHR (2005). Sebagai respons, Global Health Security Agenda (GHSA) muncul sebagai forum kerja sama antar negara yang bersifat terbuka dan sukarela, dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas nasional dalam penanganan ancaman penyakit menular dan kesehatan global. Diluncurkan pada Februari 2014 dengan 29 negara anggota sebagai inisiatif 5 tahun. Saat ini GHSA telah beranggotakan 65 negara dan didukung oleh badan-badan PBB seperti WHO, FAO, OIE, Bank Dunia, serta organisasi non pemerintah dan sektor swasta. Area Kerja Sama GHSA Strategi kerjasama dalam GHSA difokuskan pada upaya penguatan kapasitas nasional setiap negara, khususnya dalam melakukan pencegahan, deteksi dan penanggulangan penyebaran penyakit. Secara teknis, terdapat 11 paket aksi yang menjadi prioritas yaitu: 1) Penanggulangan Anti Microbial Resistance (AMR); 2) Pengendalian penyakit Zoonotik; 3) Biosafety dan Biosecurity; 4) Imunisasi; 5) Penguatan Sistem Laboratorium Nasional; 6) Surveilans; 7) Pelaporan; 8) Penguatan SDM; 9) Penguatan pusat penanganan kegawatdaruratan; 10) kerangka hukum dan respons cepat multisektoral; dan 11) mobilisasi bantuan dan tenaga medis. Perkembangan dan Kontribusi GHSA Beberapa perkembangan yang telah dicapai dan kontribusi yang diberikan GHSA antara lain adalah, Pertama, a. Keanggotaan Negara anggota GHSA telah berkembang, dari 29 negara pada saat peluncuran di tahun 2014 menjadi 65 negara saat ini. b. Kontribusi : • Joint External Evaluation (JEE) Sebagaimana diketahui, penilaian IHR sampai tahun 2015 hanya menggunakan self-assessment, yang memungkinkan adanya penilaian yang tidak obyektif. Dalam hal ini, GHSA pada tahun 2015 menyusun Country Assessment Tool yang merupakan penilaian terhadap kapasitas dalam 11 paket aksi, dimana selain menggunakan internal assessor, untuk pertama kalinya, penilaian kapasitas dalam ketahanan kesehatan juga melibatkan external assessor. Assessment tool dimaksud kemudian diadopsi oleh WHO menjadi JEE pada tahun 2016, yang merupakan gabungan dari 8 kapasitas inti IHR dan 11 Action Package GHSA. • Peningkatan komitmen politis dalam penanganan global health security. • Berbagi praktik terbaik dalam kenaggotaan Paket Aksi • Peningkatan kolaborasi dan kerja sama lintas sektor, yaitu keterlibatan sektor lain di luar kesehatan, serta keterlibatan sektor non-pemerintah, swasta, filantropi, generasi muda, dan donor dalam mencapai ketahanan kesehatan global. Hal ini menjadi penting mengingat ketahanan kesehatan tidak dapat dicapai sendiri oleh sektor kesehatan dan oleh pemerintah saja. Arah ke Depan Sebagai inisiatif 5 tahun, kerja sama GHSA harusnya berakhir pada akhir tahun 2018. Namun demikian, Pertemuan Tingkat Menteri GHSA ke-4 di Uganda menghasilkan Kampala Declaration yang pada intinya menyepakati untuk memperpanjang mandat GHSA hingga tahun 2024 (GHSA 2024). Dalam fase ke-2 dimaksud, GHSA akan memiliki visi, misi, dan tujuan yang lebih terukur dengan beberapa fokus antara lain adalah penguatan kolaborasi dengan semua sektor dan aktor terkait. Peran Indonesia dalam GHSA Dalam kerja sama GHSA, Indonesia termasuk salah satu negara yang aktif berkontribusi, diantaranya menjadi anggota Tim Pengarah (Steering Group) bersama 9 negara lainnya, anggota Troika pada tahun 2014-2018, serta menjadi Ketua Tim Pengarah pada tahun 2016 yang mendapat apresiasi positif dari berbagai negara anggota dan mitra. Dalam fase ke-2 GHSA (GHSA 2024), Indonesia akan tetap mengambil peran aktif dengan menjadi anggota tetap Tim Pengarah (Steering Group), menjadi leading country untuk zoonotic disease action package dan contributing country untuk action package antimicrobial resistance, biosafety and biosecurity, serta real-time surveillance. Indonesia juga menawarkan untuk menjadi host country Sekretariat GHSA yang akan membantu administrasi dan komunikasi dalam GHSA 2024 yang saat ini sedang dalam pembahasan untuk menentukan lokasi dan komposisinya. Pertemuan tingkat Menteri GHSA ke-5 Pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Kesehatan RI akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri GHSA ke-5 pada tanggal 6-8 November 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center 2 (BNDCC 2), Bali. Pertemuan ini merupakan pertemuan tahunan dan tertinggi dalam forum GHSA dengan tujuan untuk meningkatkan komitmen negara dalam mencapai ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional, sekaligus sebagai upaya berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah. Dari konteks nasional, pertemuan diharapkan dapat mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional dan lebih meningkatkan kerja sama lintas sektor, serta menjadi ajang bagi Indonesia untuk berbagi praktik terbaik dalam pencapaian ketahanan kesehatan global dan nasional. Selain itu, Pertemuan GHSA Bali akan menjadi momentum untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah untuk mengimplementasikan secara penuh IHR (2005) antara lain penyelesaian Rencana Aksi Nasional Keamanan Kesehatan Global, penguatan kelembagaan di Pusat dan Daerah melalui penuntasan Instruksi Presiden Presiden tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (saat ini telah sampai di Kantor Presiden), pengarusutamaan Keamanan Kesehatan Global dalam pembangunan nasional, penyediaan anggaran khusus bagi Keamanan Kesehatan Global, sosialisasi dan simulasi penanganan pandemi, serta pengetahuan mengenai Keamanan Kesehatan Global pada pendidikan formal, informal dan non-formal. Petemuan diperkirakan akan dihadiri sekitar 500-750 peserta, terdiri dari Menteri dan pejabat tingkat tinggi dari negara-negara anggota dan observer GHSA, organisasi internasional, sektor swasta, dan komunitas masyarakat. Pertemuan akan meningkatkan komitmen negara dalam mengatasi ancaman keamanan kesehatan global melalui peluncuran GHSA 2024 Framework dan pengesahan Deklarasi Bali. Pertemuan selain dilakukan dalam bentuk Pleno yang terbagi ke dalam 5 Sesi yang membahas “Advancing Global Partnership” pada tingkat global, regional dan nasional serta koordinasi Action Packages, juga menyelenggarakan 8 Side Events dan 4 back-to-back Meeting. Indonesia menyelenggarakan Pertemuan Informal Menteri Kesehatan ASEAN dalam bentuk Lunch membahas pentingnya upaya bersama ASEAN menghadapi ancaman keamanan kesehatan global. Dari Pertemuan ini, Indonesia akan memprakarsai pembetukan platform kerja sama Keamanan Kesehatan Regional ASEAN. Indonesia akan melaporkan mengenai hal tersebut kepada Pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN pada tahun 2019 di Kamboja. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.kemkes.go.id - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan RI akan menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri Global Health Security Agenda ke-5 pada tanggal 6-8 November 2018 di Bali Nusa Dua Convention Center 2 (BNDCC 2), Bali.   Pertemuan ini merupakan pertemuan tahunan dan tertinggi dalam forum GHSA dengan tujuan untuk meningkatkan komitmen negara dalam pencapaian ketahanan kesehatan global, regional, dan nasional, sekaligus sebagai upaya berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam upaya mencegah, mendeteksi, dan merespons cepat berbagai penyakit menular berpotensi wabah.   Dari konteks nasional, pertemuan diharapkan dapat mendorong penguatan ketahanan kesehatan nasional dan lebih meningkatkan kerja sama lintas sektor, serta menjadi ajang bagi Indonesia untuk berbagi praktik terbaik dalam pencapaian ketahanan kesehatan global dan nasional.   Pertemuan GHSA Bali akan menjadi momentum untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah untuk mengimplementasikan secara penuh IHR (2005) antara lain penyelesaian Rencana Aksi Nasional Keamanan Kesehatan Global, penguatan kelembagaan di Pusat dan Daerah melalui penuntasan Instruksi Presiden Presiden tentang Peningkatan Kemampuan dalam Mencegah, Mendeteksi, dan Merespons Wabah Penyakit, Pandemi Global dan Kedaruratan Nuklir, Biologi, dan Kimia (saat ini telah sampai di Kantor Presiden), pengarusutamaan Keamanan Kesehatan Global dalam pembangunan nasional, penyediaan anggaran khusus bagi Keamanan Kesehatan Global, sosialisasi dan simulasi penanganan pandemi, serta pengetahuan mengenai Keamanan Kesehatan Global pada pendidikan formal, informal dan non-formal.   Pertemuan diperkirakan akan dihadiri sekitar 500-750 peserta, terdiri dari Menteri dan pejabat tingkat tinggi dari negara-negara anggota dan observer GHSA, organisasi internasional, sektor swasta, dan komunitas masyarakat. Pertemuan akan meningkatkan komitmen negara dalam mengatasi ancaman keamanan kesehatan global melalui peluncuran GHSA 2024 Framework dan pengesahan Deklarasi Bali.   Pertemuan selain dilakukan dalam bentuk Pleno yang terbagi ke dalam 5 Sesi yang membahas “Advancing Global Partnership” pada tingkat global, regional dan nasional serta koordinasi Action Packages, juga menyelenggarakan 8 Side Events dan 4 back-to-back Meeting.   Indonesia menyelenggarakan Pertemuan Informal Menteri Kesehatan ASEAN dalam bentuk Lunch membahas pentingnya upaya bersama ASEAN menghadapi ancaman keamanan kesehatan global. Dari Pertemuan ini, Indonesia akan memprakarsai pembetukan platform kerja sama Keamanan Kesehatan Regional ASEAN. Indonesia akan melaporkan mengenai hal tersebut kepada Pertemuan Menteri Kesehatan ASEAN pada tahun 2019 di Kamboja.   Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (gi)   Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat   drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.kemkes.go.id - Perubahan iklim dan peningkatan resistensi anti-mikroba telah mendorong peningkatan munculnya new-emerging diseases dan re-emerging diseases yang berpotensi pandemik dengan karakteristik risiko kematian yang tinggi dan penyebaran yang sangat cepat. Globalisasi yang mengakibatkan peningkatan mobilitas manusia dan hewan lintas negara serta perubahan gaya hidup manusia juga telah berkontribusi mempercepat proses penyebaran wabah menjadi ancaman keamanan kesehatan global. Sejak outbreak wabah Severe Acute Respiratory Sindrome (SARS) di kawasan Asia pada tahun 2003, ancaman keamanan kesehatan global terus menunjukkan kecenderungan peningkatan antara lain terjadinya outbreak flu burung/avian influenza (H5N1) tahun 2004, flu babi/swine influenza (H1N1) tahun 2009 (dideklarasikan WHO sebagai pandemi pertama kalinya di abad ke-21), Middle East Respiratory Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV) tahun 2012-2013, Ebola tahun 2014, dan Zika tahun 2015. Peningkatan ancaman keamanan kesehatan global tersebut menjadi ancaman serius bagi sistem kesehatan nasional dan mengakibatkan kerusakan besar bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Data Bank Dunia menunjukkan bahwa outbreak wabah Ebola di Guinea, Liberia dan Sierra Leone pada tahun 2014 mengakibatkan pertumbuhan negatif perekonomian ketiga negara tersebut lebih dari setengah pertumbuhan ekonomi sebelum outbreak. Kerugian ekonomi akibat outbreak di kawasan Afrika secara keseluruhan mencapai USD 30 milyar. Indonesia pun pernah mengalaminya saat menghadapi outbreak flu burung yang menanggung beban ekonomi sampai Rp. 4 Trilyun pada 2004 – 2006, serta penurunan perdagangan dan pariwisata. Keamanan kesehatan global mengakibatkan dampak kerusakan pada pembangunan ekonomi dan stabilitas negara serta perdagangan barang dan jasa, pariwisata, dan stabilitas demografi. Menyikapi hal tersebut, organisasi-organisasi internasional, seperti WHO (Badan Kesehatan Dunia), FAO (Badan Pangan Dunia), dan OIE (Organisasi Kesehatan Hewan Dunia) telah mengembangkan sejumlah aturan, pedoman dan kerangka sebagai acuan dalam upaya peningkatan kapasitas dimaksud. WHO memiliki International Health Regulations (IHR) yang disahkan pada tahun 2005 menggantikan IHR (1969) dengan memperluas cakupan keamanan kesehatan global terhadap wabah dari semua penyakit. IHR (2005) yang mulai berlaku efektif pada 15 Juni 2007 merupakan instrumen internasional yang mengikat kewajiban negara-negara untuk mencegah, melindungi, dan mengendalikan penyebaran wabah secara internasional sesuai dengan dan terbatas pada faktor risiko yang dapat mengganggu kesehatan, dengan sesedikit mungkin menimbulkan hambatan pada lalu lintas dan perdagangan internasional. Indonesia menjadi negara Pihak IHR (2005) sejak tahun 2007. Outbreak wabah Ebola pada tahun 2014 telah menyadarkan kembali dunia mengenai kebutuhan untuk memperkuat sistem kesehatan nasional masing-masing negara melalui implementasi penuh IHR (2005). Berbagai literatur menyimpulkan bahwa outbreak wabah Ebola tidak akan terjadi atau dapat diminimalisir dampaknya apabila di negara-negara yang terpapar yaitu Guinea, Liberia dan Sierra Leone memiliki sistem kesehatan nasional yang kuat dengan membangun kapasitas sesuai IHR (2005). Sebagai respons terhadap hal tersebut, Global Health Security Agenda (GHSA) muncul sebagai forum kerja sama antar negara yang bersifat terbuka dan sukarela, dengan tujuan untuk memperkuat kapasitas nasional dalam penanganan ancaman penyakit menular dan kesehatan global. Diluncurkan pada Februari 2014 dengan 29 negara anggota sebagai inisiatif 5 tahun, saat ini GHSA telah beranggotakan 65 negara dan didukung oleh badan-badan PBB seperti WHO, FAO, OIE, Bank Dunia, serta organisasi non pemerintah dan sektor swasta.
    Peran Indonesia dalam GHSA
    Dalam kerja sama GHSA, Indonesia termasuk salah satu negara yang aktif berkontribusi, diantaranya menjadi anggota Tim Pengarah (Steering Group) bersama 9 negara lainnya, anggota Troika pada tahun 2014-2018, serta menjadi Ketua Tim Pengarah pada tahun 2016 yang mendapat apresiasi positif dari berbagai negara anggota dan mitra. Dalam fase ke-2 GHSA tahun 2019 – 2024, Indonesia akan tetap mengambil peran aktif dengan menjadi anggota tetap Tim Pengarah (Steering Group), menjadi leading country untuk zoonotic disease action package dan contributing country untuk action package antimicrobial resistance, biosafety and biosecurity, serta real-time surveillance. Indonesia juga menawarkan untuk menjadi host country Sekretariat GHSA yang akan membantu administrasi dan komunikasi dalam GHSA 2024 yang saat ini sedang dalam pembahasan untuk menentukan lokasi dan komposisinya. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (gi) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.kemkes.go.id - Ketua Persatuan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) dr. Muhamad Sidik, Sp.M(K) mengatakan di Indonesia banyak penyakit katarak. Saat ini ada sekitar 1 juta orag buta karena katarak. Berdasarkan Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) rata-tata angka kebutaan di Indonesia sebanyak 3% untuk penduduk di atas usia 50 tahun. Ada beberapa hal yang dicurigai jadi penyebabnya, yakni kata dr. Sidik, karena Indonesia berada di garis equator 0 derajat yang tersorot banyak sinar matahari dan terus-menerus. Dicurigai sinar UV B bisa mempercepat timbul katarak. “Ada beberapa hal lagi yang bisa menjadi penyebab katarak, yaitu diabetes melitus atau kencing manis. Orang kencing manis kalo kadar gula nya meningkat terus bisa menimbulkan katarak dengan cepat,” kata dr. Sidik pada Konferensi Pers Terkait Hari Penglihatan Sedunia di Jakarta, Minggu (4/11). Pada umumnya katarak susah dicegah, yang bisa dicegah adalah kebutaan karena katarak. Kebutaan itu bisa dihindari dengan cara dioperasi. “Operasi katarak adalah operasi paling efektif, paling efisien, paling menimbulkan benefit paling tinggi daripada tindakan prosedur lainnya, sehingg orang yang tadinya tidak produktif jadi produktif lagi,” tambahnya. Saat ini pemerintah dalam hal ini Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI bersama seluruh stakeholders termasuk Komisi Mata Nasional (Komatnas) sudah menyusun satu peta jalan penanggulangan gangguan penglihatan di Indonesia. Peta jalan tersebut telah diadopsi oleh Organisasi Internasional Pencegahan Kebutaan (IAPB) untuk dijadikan contoh bagi negara lain. “Peta jalan ini kalau memperlihatkan bagaimana strategi mengatasi gangguan penglihatan yang dimulai dari tingkat Posbindu, fasilitas kesehatan Primer, dan RS tipe C sampai A,” jelas dr. Sidik. Menteri Kesehatan Nila Moeloek mengatakan permasalahan gangguan penglihatan harus dikembalikan pada promotif dan preventif. Hal itu berhubungan dengan perilaku masing-masing individu karena menurut Nila, bagaimana pun juga regulasi tentang kesehatan mata dibuat akan percuma kalau perlaku setiap orang tidak berubah. “Jadi lakukan perilaku hidup sehat seperti olahraga, makan buah, dan cek kesehatan secara berkala. Cek kesehatan berkala itu penting, mata kalau sudah kena (bermasalah) karean sakit gula misalnya, butanya bisa permanen. Jadi yang penting itu bukan ngobatin tapi cegah,” tegas Nila. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.kemkes.go.id - GHSA merupakan sebuah inisiatif bersama dari negara-negara yang menginginkan dunia menjadi lebih aman dari ancaman berbagai penyakit berbahaya dan menular. Indonesia harus berperan aktif dalam peningkatan keamanan kesehatan global, sebagaimana tertera dalam International Health Regulations 2005 dari WHO. Secara teknis, terdapat 11 paket aksi (Action Packages) yang menjadi prioritas GHSA, yaitu 1) Penanggulangan Anti Microbial Resistance (AMR); 2) Pengendalian penyakit Zoonotik; 3) Biosafety dan Biosecurity; 4) Imunisasi; 5) Penguatan Sistem Laboratorium Nasional; 6) Surveilans; 7) Pelaporan; 8) Penguatan SDM; 9) Penguatan pusat penanganan kegawatdaruratan; 10) kerangka hukum dan respons cepat multisektoral; dan 11) mobilisasi bantuan dan tenaga medis. Pada pertemuan GHSA Ministerial Meeting ke-5 di Nusa Dua, Bali tanggal 6 – 8 November 2018, Indonesia membawa pendekatan One Health. Kesehatan tidak hanya untuk manusia, tetapi juga hewan. Saat ini sudah disadari bahwa penyakit yang diderita hewan akan berdampak kepada manusia, baik secara langsung dan tidak langsung. Pada kesempatan ini diharapkan akan mendorong banyak pihak lebih berperan aktif dalam meningkatkan keamanan kesehatan global. Tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga sektor-sektor lain. Kerangka kerja baru atau Framework 2024 akan diluncurkan pada GHSA Ministerial Meeting ke-5. Framework ini diyakini dapat meningkatkan kemampuan setiap negara dalam mengantisipasi dan mencegah potensi wabah penyakit menular dan ancaman-ancaman kesehatan global lain. Strategi kerjasama dalam GHSA difokuskan pada upaya penguatan kapasitas nasional setiap negara, khususnya dalam melakukan pencegahan, deteksi dan penanggulangan penyebaran penyakit. Negara anggota GHSA telah berkembang sejak diluncurkan pada tahun 2014. Saat tercatat 65 negara menjadi anggota GHSA. Melalui GHSA diharapkan terjadi peningkatan kolaborasi dan kerja sama lintas sektor, yaitu keterlibatan sektor lain di luar kesehatan, serta keterlibatan sektor non-pemerintah, swasta, filantropi, generasi muda, dan donor dalam mencapai ketahanan kesehatan global. Hal ini menjadi penting mengingat ketahanan kesehatan tidak dapat dicapai sendiri oleh sektor kesehatan dan oleh pemerintah saja. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (gi) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    www.depkes.go.id - Jelang tengah malam sekira pukul 22.57 WIB, usai melaksanakan rapat kerja lanjutan bersama Komisi IX DPR RI terkait langkah-langkah pengendalian defisit keuangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek, didampingi beberapa pimpinan tinggi Kementerian Kesehatan RI menyambangi di RS Polri R. Said Sukanto Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (29/10). Tujuan kedatangan Menkes Nila Moeloek adalah untuk berkoordinasi dengan Kepala RS Bhayangkara, Komisaris Besar Polisi dr. Musyafak, terkait penanganan korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Senin pagi (29/10). Selain itu, Menkes RI Nila Moeloek juga mencari informasi mengenai kejelasan kabar keberadaan pegawai Kementerian Kesehatan dan tenaga kesehatan yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Pada kesempatan yang sama, saat Menkes mengunjungi Posko Antemortem RS Bhayangkara, Menkes Nila Moeloek berjumpa dengan Rismayanti, istri dari Sah Sahabudin (42), Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kesehatan Pelabuhan Pangkal Pinang, salah satu pegawai di unit pelaksana teknis di bawah Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI, yang dikabarkan ada di dalam penerbangan tersebut. Tidak kuasa membendung air mata, Menkes Nila Moeloek memeluk erat Risma dan anak-anaknya untuk menyampaikan empati dan menyemangati mereka. Sebagai informasi, sesaat setelah mendengar kabar yang mengejutkan terkait pesawat yang ditumpangi suaminya tersebut, Risma dan anak-anaknya berangkat dari rumahnya di kawasan Harjatani, Kramatwatu, Kabupaten Serang, ke Bandara Soekarno Hatta dan selanjutnya diarahkan ke RS Polri Bhayangkara untuk mencari informasi dari pihak yang berwenang. Kepada Menkes, Risma menyatakan bahwa meski belum ditemukan hingga saat ini, pihak keluarga masih mengharapkan dan mendoakan yang terbaik untuk suaminya, Sahabuddin, agar dapat ditemukan dalam keadaan selamat. Menkes Nila Moeloek menyampaikan bahwa segenap jajaran Kementerian Kesehatan RI, menyampaikan duka yang mendalam atas peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT-610, serta menyampaikan empati bagi seluruh keluarga penumpang dan awak pesawat yang menjadi korban tragedi tersebut. ''Kami turut berduka cita atas musibah yg terjadi ini, dan kalau kita lihat penumpangnya (banyak) abdi negara yang ingin kembali bekerja, termasuk diantaranya ada (pegawai) Kemenkes, satu orang staf dari kantor kesehatan pelabuhan. Selain itu, ada satu dokter spesialis penyakit dalam yang baru saja lulus dan mendapat tugas wajib kerja dokter spesialis (WKDS) di Pangkal Pinang. Infonya lagi dua orang dokter Puskesmas di sana, salah satunya yang sedang melakukan penerbangan bersama suaminya yang (juga seorang) dokter beserta anaknya yang masih kecil. Kami bermaksud untuk mendapatkan informasi untuk kejelasan.'' jelas Menkes saat memberi keterangan kepada media usai peninjauan. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.
    Untuk kedua kalinya Website yang dikelola Dinas Kesehatan Provinsi Lampung meraih juara dalam penilaian Anugerah Situs Inspirasi Sehat Indonesia (E-ASPIRASI) yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 54. Sebelumnya pada tahun 2017 Dinas Kesehatan Provinsi Lampung meraih Juara I dan pada tahun 2018 ini meraih Juara II secara Nasional Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Kesehatan RI ini merupakan hasil penilaian terhadap pengelolaan website Dinas Kesehatan Provinsi se Indonesia. Kepala Pusat Data dan Informasi, Kemenkes RI, Dr.drh. Didik Budijanto, M.Kes, turut mengapresiasi keberhasilan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dalam mengelola website sehingga dapat tetap mempertahankan keberhasilan tahun 2018 ini. Didik juga berharap kedepan website Dinas Kesehatan Provinsi dapat menampilkan aplikasi data sehingga makin mempermudah publik untuk mengaksesnya. Sebagaimana diketahui website Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang beralamat http://dinkes.lampungprov.go.id terus berupaya meningkatkan mutu dan layanan informasi kepada masyarakat. "Statistik pengunjung setiap bulannya kita pantau, sehingga dari situ kita ketahui kebutuhan informasi dari pengunjung" ujar dr. Asih Hendrastuti, M.Kes selaku pengelola Website. Lebih lanjut Asih mengatakan Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus berupaya untuk meningkatkan jumlah kunjungan dari waktu kewaktu. "Saat ini kami terus berupaya men direct pengunjung ke website dengan meningkatkan peran media sosial yang kita punyai yaitu Fans Page Facebook Dinas Kesehatan Provinsi Lampung serta akun instagram @dinkesprovlampung" ujar juru bicara Dinas Kesehatan Provinsi Lampung ini
    Sekretaris Daerah Provinsi Lampung, Hamartoni Ahadis menjadi inspektur upacara pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) Ke 54 Tingkat Provinsi Lampung di Lapangan Korpri, Kantor Gubernur Lampung, Senin (19/11/2018). Pada peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) kali ini mengangkat tema "Aku Cinta Sehat" dengan sub tema "Ayo...Hidup Sehat, Mulai Dari Kita". Sekretaris Daerah Provinsi Lampung Hamartoni Ahadis pada kesempatan tersebut membacakan sambutan tertulis Menteri Kesehatan RI, Nila Farid Moeloek. Menurut Menteri Kesehatan RI tema HKN kali ini sejalan dengan Program Gerakan Masyarakat Hidup Sehat dan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PIS-PK), yang menekankan pada upaya promotif dan preventif sebagai pendekatan pembangunan kesehatan. Menurut Menteri Kesehatan GERMAS dan PIS-PK pada dasarnya adalah pendekatan kerjasama, kolaborasi dan integrasi dari seluruh pembangunan untuk melihat kesehatan sebagai investasi bangsa sedangkan PIS-PK pada dasarnya merupakan integrasi dari pelaksanaan program secara berkesinambungan. Pada bagian akhir Menteri Kesehatan RI Nila Farid Moeloek, mengajak semua komponen yang terlibat untuk dapat mengimplementasikan lebih operasional dan konkrit ditengah-tengah masyarakat Upacara peringatan Hari Kesehatan Nasional ke 54 Tingkat Provinsi Lampung ini diikuti oleh ASN dilingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, unsur Forkopimda Lampung, mahasiswa kesehatan serta Organisasi Profesi Kesehatan Provinsi Lampung. Peringatan kali ini juga diisi dengan penyerahan penghargaan kepada insan kesehatan yang berprestasi.
    Kepala Dinas Komunikasi, Informatika dan Statistik (diskominfotik) Provinsi Lampung, Ir. A. Chrisna Putra NR, M.EP, Selasa, (27/11/2018), membuka secara resmi sosialisasi penggunaan master website Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Lampung, di Ruang Abung, Balai Keratun, Kompleks Kantor Gubernur Pemerintah Provinsi Lampung. Pada kesempatan tersebut Christina Putra menyampaikan bahwa perkembangan zaman makin canggih yang mendorong OPD turut mendukung keberlangsungan implementasi regulasi e-goverment. "Kita mulai memasuki era 4.0 yaitu era revolusi industri yang menggunakan robot, mesin dan konektivitas" ujar Chrisna Putra. Dikatakannya juga tujuan dari e-goverment merupakan pembentukan jaringan informasi dan transaksi layanan publik yang tidak dibatasi sekat waktu dan lokasi. Acara yang bertema "Website OPD Pemerintah Provinsi Lampung sarana informasi kepada masyarakat guna mewujudkan Good Governance & Clean Goverment" mengarahkan setiap OPD untuk aktif dalam mendukung pembangunan Provinsi Lampung melalui website yang interaktif dan terstandarisasi. Menyinggung OPD yang belum aktif dalam membangun website, Kadis Kominfotik Provinsi Lampung ini, mengatakan bahwa hal ini akan memperlambat kredibilitas transformasi Pemerintah Provinsi Lampung, untuk itu ia menyarankan agar OPD yang belum aktif agar segera membangun sistem berbasis website yang akuntable, transparan dan mempunyai aksesibilitas yang baik agar masyarakat mudah mendapatkan informasi. "Kemudahan mendapatkan informasi merupakan wujud pelayanan prima dari Pemerintah Provinsi Lampung kepada masyarakat", tutur Chrisna Putra. Sementara itu Dinas Kesehatan Provinsi Lampung terus berupaya meningkatkan layanan informasi melalui pengembangan berbasis website, beberapa menu baru diharapkan dapat meningkatkan mutu layanan kepada masyarakat.
    sehatnegeriku.com -- Jakarta, 1 Desember 2018 Hari pertama di bulan Desember setiap tahun diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia (HAS). Sejak tiga dasawarsa lalu, tanggal 1 Desember menjadi momentum untuk menumbuhkan kesadaran semua orang terhadap penyakit Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seperti yang kita ketahui, tubuh manusia memiliki sel darah putih (limfosit) yang berguna sebagai pertahanan tubuh dari serangan virus maupun bakteri. Virus HIV yang masuk tubuh manusia dapat melemahkan bahkan mematikan sel darah putih dan memperbanyak diri, sehingga lemah melemahkan sistem kekebalan tubuhnya (CD4). Dalam kurun waktu 5-10 tahun setelah terinfeksi HIV, seseorang dengan HIV positif jika tidak minum obat anti retroviral (ARV), akan mengalami kumpulan gejala infeksi opportunistik yang disebabkan oleh penurunan kekebalan tubuh akibat tertular virus HIV, yang disebut AIDS. Situasi HIV /AIDS di Indonesia Permasalahan HIV dan AIDS menjadi tantangan kesehatan hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak pertama kali ditemukan sampai dengan Juni 2018, HIV/ AIDS telah dilaporkan keberadaannya oleh 433 (84,2%) dari 514 kabupaten/kota di 34 provinsi di Indonesia. Jumlah kumulatif infeksi HIV yang dilaporkan sampai dengan Juni 2018 sebanyak 301.959 jiwa (47% dari estimasi ODHA jumlah orang dengan HIV AIDS tahun 2018 sebanyak 640.443 jiwa) dan paling banyak ditemukan di kelompok umur 25-49 tahun dan 20-24 tahun. Adapun provinsi dengan jumlah infeksi HIV tertinggi adalah DKI Jakarta (55.099), diikuti Jawa Timur (43.399), Jawa Barat (31.293), Papua (30.699), dan Jawa Tengah (24.757). Jumlah kasus HIV yang dilaporkan terus meningkat setiap tahun, sementara jumlah AIDS relatif stabil. Hal ini menunjukkan keberhasilan bahwa semakin banyak orang dengan HIV /AIDS (ODHA) yang diketahui statusnya saat masih dalam fase terinfeksi (HIV positif) dan belum masuk dalam stadium AIDS. HIV itu ada obatnya, antiretroviral (ARV) namanya. Obat ARV mampu menekan jumlah virus HIV di dalam darah sehingga kekebalan tubuhnya (CD4) tetap terjaga. Sama seperti penyakit kronis lainnya seperti hipertensi, kolesterol, atau DM, obat ARV harus diminum secara teratur, tepat waktu dan seumur hidup, untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA serta dapat mencegah penularan. ARV dijamin ketersediaannya oleh pemerintah dan gratis pemanfaatannya. Pelayanan ARV sudah dapat diakses di RS dan Puskesmas di 34 provinsi, 227kab/kota. Total saat ini terdapat 896 layanan ARV, terdiri dari layanan yang dapat menginisiasi terapi ARV dan layanan satelit. Dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan terdekat sangat dibutuhkan agar ODHA tetap semangat dan jangan sampai putus obat. Data Kementerian Kesehatan tahun 2017 mencatat dari 48.300 kasus HIV positif yang ditemukan, tercatat sebanyak 9.280 kasus AIDS. Sementara data triwulan II tahun 2018 mencatat dari 21.336 kasus HIV positif, tercatat sebanyak 6.162 kasus AIDS. Adapun jumlah kumulatif kasus AIDS sejak pertama kali dilaporkan pada tahun 1987 sampai dengan Juni 2018 tercatat sebanyak 108.829 kasus. Cegah HIV Meski Tidak Mudah Menular Virus HIV tidak mudah menular, karena hanya dapat ditularkan melalui hubungan seksual yang tidak amanberisiko, berbagi jarum suntik, produk darah dan organ tubuh, serta dari ibu hamil yang positifdengan HIV dapat menularkan kepada bayinya. Perlu diketahui bahwa virus HIV tidak menular melalui penggunaan toilet bersama, gigitan nyamuk/ serangga, menggunakan alat makan bersama, bersalaman/ berpelukan, ataupun tinggal serumah dengan ODHA. Karenanya, berperilaku hidup bersih dan sehat dapat mencegah terjadinya penularan HIV dan tidak perlu menjauhi ODHA. Untuk itu, menjadi ODHATerinfeksi HIV bukanlah penghalang untuk bersosialisasi, bekerja, dan berkeluarga. Seseorang yang terinfeksi virus HIV berpotensi menularkan meski tidak memiliki ciri yang dapat dilihat secara kasat mata (fisik). Status HIV seseorang hanya dapat diketahui dengan melakukan cek/pemeriksaan darah di laboratorium. Karena itu, Jika merasa pernah melakukan perilaku berisiko atau merasa berisiko tertular segera lakukan tes HIV. Secara khusus, bagi para pasien TBC juga perlu diperiksa status HIV-nya, apabila ternyata HIV nya positif, obat ARV dapat membantu keberhasilan pengobatan TBC. Demikian pula bagi para ibu hamil, saat memeriksakan kehamilannya sebaiknya diperiksa pula status HIV, sifilis dan hepatitis B, agar apabila positif dapat segera diberi tindakan pengobatan sehingga penularan kepada bayinya dapat diminimalisasi sehingga terjamin kesehatan baik ibu maupun anak yang dikandungnya. Upaya pencegahan dan pengendalian HIV -AIDS bertujuan untuk mewujudkan target Three Zero pada 2030, yaitu: 1) Tidak ada lagi penularan infeksi baru HIV, 2) Tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan 3) Tidak ada lagi stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV AIDS (ODHA). Pada Hari Aids Sedunia (HAS) tahun 2017 lalu, telah dicanangkan strategi Fast Track 90-90-90 yang meliputi:untuk mempercepat pencapaian 90% dari orang yang hidup dengan HIV (ODHA) mengetahui status HIV mereka melalui tes atau deteksi dini; 90% dari ODHA yang mengetahui status HIV untuk memulai terapi pengobatan ARV) dan 90% ODHA yang dalam pengobatan ARV telah berhasil menekan jumlah virusnya sehingga mengurangi kemungkinan penularan HIV; serta tidak ada lagi stigma dan diskriminasi ODHA. Dalam rangka mencapai target Fast Track 90-90-90, Kementerian Kesehatan juga menggaungkan strategi akselerasi Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) untuk mencapai target tahun 2030 tersebut. Tahun ini, diluncurkan pula strategi Test and Treat, yaitu ODHA dapat segera memulai terapi ARV begitu terdiagnosis mengidap HIV. Selain itu, untuk pencegahan infeksi dan penularan HIV, masyarakat perlu mengingat hal-hal berikut:
    • Bagi yang belum pernah melakukan perilaku berisiko, pertahankan perilaku aman (dengan tidak melakukan perilaku seks berisiko atau menggunakan narkoba suntik);
    • Bila sudah pernah melakukan perilaku berisiko, lakukan tes HIV segera!
    • Bila tes HIV negatif, tetap berperilaku aman dari hal-hal yang berisiko menularkan HIV;
    • Bila tes HIV positif, selalu gunakan kondom saat berhubungam seksual, serta patuhi petunjuk dokter dan minum obat ARV, agar hidup tetap produktif walaupun positif HIV;
    • Jika bertemu ODHA, bersikap wajar dan jangan mendiskriminasi atau memberikan cap negatif, dan berikan dukungan; dan
    • Jika berinteraksi dengan ODHA, jangan takut tertular, karena virus HIV tidak menular baik itu melalui sentuhan, keringat, maupun berbagi makanan. HIV hanya menular melalui cairan kelamin dan darah.
    Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (myg) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.com -- Jakarta, 31 Oktober 2018 Diabetes merupakan penyakit tidak menular yang tidak dapat disembuhkan. Tapi dengan kontrol yang baik anak dapat tumbuh dan berkembang selayaknya anak sehat lainnya. Kontrol itu dilakukan dengan kontrol metabolik, yakni mengupayakan kadar gula darah dalam batas normal atau mendekati nilai normal tanpa menyebabkan anak menjadi kekurangan glukosa dalam darah. Pengelolaannya dilakukan antara lain dengan pemberian tata laksana yang sesuai baik insulin maupun obat-obatan, pengaturan makan, olahraga, edukasi, dan pemantauan gula darah secara mandiri. Untuk mencapai kontrol metabolik yang optimal dibutuhkan penanganan yang menyeluruh baik oleh keluarga, ahli endokrinologi anak atau dokter anak, ahli gizi, ahli psikiatri, psikolog anak, pekerja sosial, dan educator. Selain kontrol yang baik, diperlukan juga upaya pencegahan dengan menrapkan gaya hidup sehat. Pertama, mempertahankan berat badan ideal, jika anak memiliki berat badan berlebih, maka upayakan untuk menguranginya sekitar 5-10% untuk mengurangi risiko. Perlu juga diet kalori dan rendah lemak sangat dianjurkan sebagai cara terbaik menurunkan berat badan dan mencegah DM tipe-2. Kedua, perbanyak makan buah dan sayur. Ketiga, kurangi minum minuman manis dan bersoda. Keempat, aktif berolahraga, upayakan untuk berolahraga setidaknya 30 menit sehari untuk mencapai berat badan ideal dan menekan tingginya risiko DM tipe-2. Selain itu, berolahraga juga dapat menurunkan kadar gula darah dan meningkatkan kadar insulin. Kelima, batasi waktu penggunaan gadget, karena jika berlama-lama menggunakan gadget sama dengan membiarkan tubuh tidak bergerak dalam waktu lama. “Upaya pencegahan itu perlu disosialisasikan tidak hanya oleh pemerintah tapi juga perlu dilakukan oleh semua sektor termasuk masyarakat,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Cut Putri Ariane, M.H.Kes, di Gedung Kemenkes, Rabu (31/10). Berkaitan dengan hal itu, Kemenkes RI akan memperingati Hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada 14 November. Kegiatan yang akan dilakukan, yakni melaksanakan sosialisasi informasi tentang diabetes melalui berbagai media (cetak, elektronik, pemasangan spanduk dan umbul-umbul berisi pesan tentang diabetes). Selain itu, membuat surat edaran kepada seluruh dinas kesehatan privinsi di Indonesia untuk melakukan promosi kesehatan, deteksi dini. Kemenkes juga mengimbau kepada seluruh pihak agar berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pengendalian DM, termasuk mendorong kementerian dan lintas sektor terkait untuk meningkatkan kerja sama dalam mengatasi masalah kesehatan sehingga semua kebijakan yang ada berpihak pada kesehatan. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    sehatnegeriku.com - Jakarta, 28 November 2018 Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan permasalahan kesehatan semakin kompleks dimana terjadi Global Burden Non-Communicable Diseases (NCDs), termasuk di Indonesia. Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan perorangan diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan kesehatan melalui promosi kesehatan. “Di Indonesia, Global Burden NCDs dapat dibuktikan di antaranya dengan tingginya prevalensi TBC dan stunting, serta rendahnya cakupan imunisasi. Karena itu, pelayanan kesehatan perlu diarahkan pada upaya promotif dan preventif,” kata Nila pada Konferensi Nasional Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) ke-4 di Jakarta, Rabu (28/11). Konferensi Nasional PKRS merupakan ajang dikusi dari berbagai pemangku kepentingan, penyelenggara, praktisi dan akademisi, yang hasilnya menjadi rekomendasi untuk ditindaklanjuti dari berbagai pihak. Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kirana Pritasari mengatakan sebelumnya Konferensi Nasional PKRS ke-3 telah digelar di D.I Yogyakarta. Konferensi tersebut menghasilkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) nomor 44 tahun 2018 tentang Penyelenggaraan Promosi Kesehatan Rumah Sakit . “Konferensi sebelumnya telah menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang diformulasikan menjadi permenkes (nomor 44 tahun 2018). Di situ ada langkah-langkah yang harus dilakukan, strategi yang harus dipenuhi oleh rumah sakit,” katanya. Kirana mengharapkan komitmen yang sekarang juga bisa menghasilkan sesuatu dan ada tindak lanjutnya. “Jadi tidak hanya di dalam forum pertemuan, ada tindak lanjutnya, RS yang hadir di sini mulai melaksanakan promosi kesehatan rumah sakit,” ucap Kirana. Selanjutnya, Menkes Nila mengharapkan pelaksanaan konferensi ini dapat menghasilkan komitmen dalam mengimplementasikan PKRS. “Rumah Sakit diharapkan dapat berkomitmen meyelenggarakan promosi kesehatan yang terintegrasi dan berkesinambungan. Diharapkan promosi kesehatan dapat sebagai penggerak dalam melaksanakan reorientasi pelayanan kesehatan,” kata Nila. Dalam Permenkes itu rumah sakit wajib menyelenggarakan PKRS dengan prinsip paradigma sehat, kesetaraan, kemandirian, keterpaduan, dan kesinambungan. Yang menjadi standar PKRS adalah rumah sakit harus memiliki regulasi promosi kesehatan, melaksanakan assessment promosi kesehatan bagi pasien, keluarga pasien, SDM rumah sakit, pengunjung rumah sakit, dan masyarakat sekitar rumah sakit. Selain itu, rumah sakit juga melaksanakan intervensi promosi kesehatan dan monitoring evaluasi promosi kesehatan. PKRS tidak hanya berlaku di Indonesia, tapi seluruh dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui Collaborating Centre for Health Promotion in Health and Health Care, menekankan agar rumah sakit melakukan promosi kesehatan dan pencegahan penyakit dalam melaksanakan pelayanan kesehatan. Dalam mengimplementasikan promosi kesehatan di rumah sakit memerlukan kolaborasi dalam mendukung sistem yang terintegrasi. Kolaborasi dengan berbagai pihak sangat menentukan agar promosi kesehatan bisa dilaksanakan secara optimal dan berkelanjutan. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.(D2) Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM
    Diskominfo Prov Lampung - BANDARLAMPUNG----Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo menghadiri Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) 2018, yang dilangsungkan di Gedung Mahligai Agung Convention Hall, Pasca Sarjana, Universitas Bandar Lampung, Bandar Lampung, Kamis (6/12) malam. Kegiatan yang mengambil tema "Membangun sumberdaya insani yang berkualitas dan bermartabat melalui peningkatan ekonomi yang adil, makmur, dan mandiri" tersebut dibuka langsung oleh Presiden RI Joko Widodo dan di hadiri perwakilan ICMI dari seluruh Indonesia dan 11 negara di Asia. Gubernur Ridho dalam sambutannya mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta yang hadir, terutama kepada ketua ICMI pusat, 11 perwakilan negara Asia, dan Presiden Joko Widodo yang beberapa waktu belakangan ini sudah beberapa kali berkunjung ke Provinsi Lampung. "Saya atas nama Pemerintah Provinsi Lampung beserta seluruh masyarakat Lampung mengucapkan selamat datang kepada seluruh peserta Silaknas ICMI 2018, terutama kepada Presiden Jokowi yang sudah beberapa kali berkunjung ke Lampung dalam waktu dekat ini," ucap Gubernur Selain itu Gubernur Ridho juga mengapresiasi atas dipilihnya Provinsi Lampung sebagai tuan rumah dilaksanakannya Silaknas ICMI 2018 yang sekaligus Hut ICMI ke-28. Gubernur Ridho menyatakan, bahwa dengan banyaknya event nasional yang diselenggarakan di Lampung, telah mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan Mancanegara (wisman) dan wisatawan Nusantara (wisnus) yang ingin berkunjung ke Lampung. Menurut data dari kementerian pariwisata, di era kepemimpinan Gubernur Ridho, peningkatan jumlah wisman dan wisnus rata-rata 30% per tahun. Pada 2015, wisman masuk Lampung mencapai 114.907 dan wisnus 5,53 juta. Kemudian, pada 2016, wisman 155.053 dan wisnus meroket menjadi 7,29 juta. Sedangkan pada 2017 kunjungan wisman mencapai 245 ribu dan wisnus mencapai 8,8 jut. Kemudian dengan akan diresmikannya Jalan tol trans sumatera bakauheni - terbanggi, dermaga eksekutif bakauheni, dan naiknya status Bandara Radin Inten II menjadi bandara Internasional oleh Presiden Jokowi, Gubernur Ridho berkeyakinan bahwa Provinsi Lampung telah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar pulau jawa. Menutup sambutannya, Gubernur Ridho berharap dengan dilaksanakan Silaknas 2018 di Lampung, dapat membuahkan hasil yang baik untuk kemajuan Indonesia. "Harapan kami masyarakat Lampung, dengan dilaksanakannya Silaknas 2018 dapat menghasilkan pemikiran dan terobosan-terobosan yang berkualitas, yang baik untuk masyarakat Indonesia, untuk itu saya ucapkan terus berkarya terus membangun, jadi kebanggan bangsa indonesia," pungkas Ridho. Kegiatan Silaknas 2018 juga diisi dengan deklarasi dari 11 negara Asia untuk mendirikan Ikatan Cendekiawan Muslim Asia (ICMA).

    MATERI KEBIJAKAN_Kabid

    HIV DINAS KESEHATAN_dr Tehar Baru

    15 Persiapan Umum sebelum Tindakan

        Sambutan Kepala DInas Kesehatan provinsi Lampung di Hari Aids Sedunia tahun 2018 disini : http://dinkes.lampungprov.go.id/kepala-dinas-kesehatan-provinsi-lampung-ajak-semua-pihak-lakukan-pencegahan-dan-pengendalian-hiv-aids/  
    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes mengajak semua pihak untuk bersama-sama melakukan pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS. Hal itu diungkapkannya saat membuka seminar kesehatan memperingati Hari AIDS se Dunia Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2018 di Aula Husada, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Jum'at (7/12/2018). "Salah satu upaya yang kita lakukan adalah pencegahan penularan dari ibu ke bayi, sehingga kita dapat menyelematkan generasi mendatang yang terbebas dari virus HIV sekaligus menghindari terjadinya kekerdilan (stunting) pada bayi lahir dari ibu dengan HIV" ujar Dr. dr.Hj. Reihana, M.Kes Lebih lanjut dikatakannya bahwa tema Hari AIDS Sedunia Tahun 2018 ini yaitu "Saya Berani, Saya Sehat" pada dasarnya bertujuan meningkatkan kesadaran dan kepedulian seluruh masyarakat terhadap HIV/AIDS. "Keberanian untuk melakukan tes HIV dan melanjutkan pengobatan ARV sedini mungkin jika terdiagnosa HIV, itulah pesan dari tema Hari AIDS tahun ini. Dengan mengetahui status kesehatan sejak dini dan memulai pengobatan ARV jika terjangkit, maka kesehatan dan kualitas hidup akan tetap terjaga, sehingga dapat tetap produktif memberikan terbaik bagi diri sendiri, keluarga dan masyarakat"  demikian diungkapkannya. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung mengharapkan dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap HIV akan mendorong tercapainya penurunan epidemi HIV di Indonesia sehingga semangat Eliminasi HIV pada tahun 2030 dapat kita capai. "3 Zero yang kita harapkan dalam pengendalian HIV ini yaitu tidak ada infeksi baru HIV, tidak ada kematian akibat AIDS serta tidak ada stigma dan diskriminasi" ungkap Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes "HIV adalah penyakit kronis yang dapat dikelola layaknya penyakit kronis lainnya seperti diabetes meilitus atau hipertensi dan HIV sudah ada obatnya yaitu Anti Retro Viral (ARV) pengobatan ARV dini menjaga ODHA tetap sehat serta dapat mencegah penularan baru" papar Dr.dr. Hj. Reihana, M.Kes. Menutup sambutannya Dr.dr.Hj. Reihana, M.Kes menekankan perlunya meningkatkan pengetahuan masyarakat agar peduli untuk menjaga kesehatan diri, keluarga dari HIV/AIDS, menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap ODHA serta meningkatkan komitmen pemerintah dalam pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS serta membuka akses dalam pelayanan pengobatan HIV bagi masyarakat. Adapun narasumber dalam seminar aksi peduli HIV/AIDS ini  menampilkan pembicara drg. Anita Andriani menyampaikan materi Kebijakan Program HIV/AIDS dan Situasi terkini Provinsi Lampung, dr. Tehar Karo Karo, Sp.PD, Tatalaksana pasien HIV dan Upaya Penurunan Stigma Diskriminasi pada ODHA serta dr. Ratna Dewi Puspita Sari, Sp.OG  tentang Triple Elimninasi (HIV, Sipilis, Hepatitis) dan Universal Precaution. Acara yang diikuti oleh 170 orang dokter dan bidan yang bekerja di Rumah Sakit, Puskesmas, juga mahasiswa kedokteran dan kebidanan itu  ditutup dengan pembagian door prize. Download materi seminar Hari Aids Sedunia Tahun 2018 disini : http://dinkes.lampungprov.go.id/materi-seminar-hari-aids-sedunia-2018/
    Mengurangi rasa trauma pada anak-anak akibat bencana tsunami Lampung beberapa waktu lalu, Tim Cluster Promosi Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melakukan kegiatan trauma healing berupa mewarnai gambar. Kegiatan tersebut diikuti anak-anak yang berada dilokasi pengungsian di Balai Keratun, Komplek Pemerintah Provinsi Lampung di Bandarlampung, Senin (31/12/2018). "Anak-anak kita ajak lomba mewarnai, dalam rangka memberikan edukasi sekaligus hiburan bagi anak-anak, dan sebagai salah satu cara terapi aktivitas kelompok dari kegiatan trauma healing" tutur dr. Asih Hendrastuti, M.Kes yang bertindak selaku koordinator kegiatan tersebut. Menurut dia, anak-anak ini akan dihibur dengan kegiatan menggambar dan mewarnai yang sudah diberikan oleh pihak panitia. Hiburan ini dilakukan secara bergantian kepada anak-anak yang ada di pengungsian khususnya usia lima sampai 10 tahun.
    "Setelah anak-anak menggambar, selanjutnya akan diberikan hadiah menarik untuk menambah perlengkapan sekolah,"
    Asih mengatakan, selain melakukan kegiatan ini, pada hari-hari selanjutkan akan melakukan kegiatan lain agar anak-anak tidak bosan. "Kegiatan ini lebih bisa menimbulkan semangat dan canda serta gelak tawa anak-anak pengungsi," katanya. Ia mengarapkan kegiatan ini bisa memupuk rasa semangat dan percaya diri anak-anak agar kembali tumbuh untuk meraih cita-cita di kemudian hari. Ia juga berharap dengan kegiatan tersebut anak-anak dapat terbantu mengurangi rasa trauma yang dialami pasca kejadian tsunami beberapa waktu yang lalu. "Kami juga memberikan sosialisasi tentang hidup sehat, cuci tangan pakai sabun, dan yang lainnya. Apalagi di sini (pengungsian) anak-anak jarang mendapatkan hiburan," kata Asih di Balai Keratun. Rencananya, lanjut Asih, kegiatan mewarnai bersama tersebut digelar juga di beberapa tempat pengungsian korban yang terdampak bencana tsunami Selat Sunda beberapa waktu lalu. "Rencananya, nanti di Masjid Al-Furqon. Terus juga di Lampung Selatan. Kami berharap dengan kegiatan ini anak-anak terhibur dan tidak stres di pengungsian," kata Asih.
    Reihana Sosialisasi penggunaan Ovitrap segera diinstruksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes pada hari Minggu tanggal 17 Februari 2019 pukul 16.00 di Taman Gajah Bandar Lampung. instruksi tersebut berupa mengajarkan cara membuat dan menggunakan Ovitrap sambil membagi - bagikan Ovitrap yang telah dibuat oleh pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang juga merupakan Ketua Majelis Pembimbing (Kamabi) Saka Bhakti Husada (SBH) Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Lampung telah menginstruksikan kepada Kamabi SBH Kwarcab se Provinsi Lampung untuk mengajak anggota SBH membuat Ovitrap minimal 1 anggota 5 buah untuk dibagi-bagikan kepada keluarga dan tetangga. Ovitrap adalah suatu perangkap untuk tempat bertelur nyamuk Aedes yang pada bagian atasnya diberi kasa sehingga setelah telur menjadi nyamuk dewasa maka ia terperangkap sehingga tidak bisa terbang. Ovitrap bisa kita buat sendiri dengan menggunakan bahan bahan yang sederhana. Adapun bahan yang diperlukan adalah wadah plastik bekas air mineral, plastik hitam, kain kasa, selotip, gunting/cutter dan air. Selain itu untuk menarik perhatian nyamuk agar mau mendekat ke Ovitrap maka pada air kita larutkan gula dan ragi. Ovitrap merupakan salah satu bentuk “plus” yang dilakukan untuk pengendalian penyakit DBD.
    Bandar Lampung, Jumat 15 Februari 2019 –“Ovitrap si Perangkap Nyamuk” Masih tingginya frekwensi hujan di Indonesia yang berbanding lurus dengan resiko tingginya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) membuat Menteri Kesehatan Prof dr Nila Moeloek, Sp.M(K) menghimbau jajaran kesehatan yang menjadi peserta Rapat Kerja Nasional (Rakerkesnas) tahun 2019 menggiatkan kembali penggunaan Ovitrap untuk menurunkan angka kejadian DBD pada sambutan pembukaan acara yang beliau sampaikan (Selasa,12 Februari 2019) Sosialisasi penggunaan Ovitrap segera diinstruksikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung DR. dr Hj. Reihana, M.Kes disela sela rehat acara kepada para Kepala Dinas Kesehatan se Provinsi Lampung yang juga hadir pada acara Rakerkesnas tersebut. “Bapak dan Ibu tadi sudah mendengar arahan Bu Menteri, untuk itu saya berharap dapat segera kita tindaklanjuti di Provinsi Lampung karena kasus DBD di provinsi kita juga masih tinggi.” Ovitrap adalah suatu perangkap untuk tempat bertelur nyamuk Aedes yang pada bagian atasnya diberi kasa sehingga setelah telur menjadi nyamuk dewasa maka ia terperangkap sehingga tidak bisa terbang. Ovitrap bisa kita buat sendiri dengan menggunakan bahan bahan yang sederhana. Adapun bahan yang diperlukan adalah wadah plastik bekas air mineral, plastik hitam, kain kasa, selotip, gunting/cutter dan air. Selain itu untuk menarik perhatian nyamuk agar mau mendekat ke Ovitrap maka pada air kita larutkan gula dan ragi. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung akan melakukan sosialisasi Ovitrap pada hari Minggu tanggal 17 Februari 2019 pukul 16.00 di Taman Gajah Bandar Lampung untuk mengajarkan cara membuat dan menggunakan Ovitrap sambil membagi bagikan Ovitrap yang telah dibuat oleh pegawai Dinas Kesehatan Provinsi Lampung Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung yang juga merupakan Ketua Majelis Pembimbing (Kamabi) Saka Bhakti Husada (SBH) Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Lampung telah menginstruksikan kepada Kamabi SBH Kwarcab se Provinsi Lampung untuk mengajak anggota SBH membuat Ovitrap minimal 1 anggota 5 buah untuk dibagi bagikan kepada keluarga dan tetangga. “Kami siap mensosialisasikan kepada masyarakat Lampung dan mendorong 1 anggota SBH membuat 5 Ovitrap, untuk dibagi bagikan pada keluarga dan tetangga untuk menurunkan kejadian DBD di masyarakat ,”ujar Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes pada pertemuan terbatas Pimpinan SBH Pusat dengan perwakilan SBH Daerah Kamis, 14 Februari 2019 di Rangkaian kegiatan Rakerkesnas 2019 tersebut Pengendalian Penyakit DBD dikenal dengan menggunakan Gerakan Pemberantasa Sarang Nyamuk (PSN) dengan cara 3 M Plus. Ovitrap merupakan salah satu bentuk “plus” yang dilakukan untuk pengendalian penyakit DBD ini Hingga saat ini beberapa Pangkalan SBH telah melakukan sosialisasi dan pembuatan Ovitrap. Semoga tidak ada lagi anggota keluarga kita yang terkena penyakit DBD walau musim hujan masih terus berlangsung. Download Rilis Kampanye Ovitrap disini [wpdm_package id='1999']
    Tangerang, 11 Februari 2019 Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan cakupan kesehatan semesta (UHC) tidak hanya soal cakupan kepesertaan JKN, tapi mencakup akses pelayanan kesehatan yang merata untuk masyarakat. Hal itu Menkes sampaikan pada kegiatan Pra Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019 di Tangerang, Senin (11/2). ''Universal Health Coverage tidak hanya kepesertaan JKN, tapi harusnya pararel dengan akses pelayanan kesehatan dengan baik,'' kata Menkes. Artinya, tambah Nila, UHC itu selain cakupan kepesertaan JKN juga akses pelayanan kesehatan harus baik. Dalam UHC akses pelayanan kesehatan harus dirasakan merata oleh masyarakat. ''Oleh WHO diharapkan 1 miliar orang mendapatkan manfaat UHC. 1 miliar itu sehat, di jaga kesehatannya,'' ucap Menkes. Selain itu 1 miliar orang juga terlindungi dari kedaruratan kesehatan. Terkait kedaruratan kesehatan, Menkes mengatakan dulu hanya ada 10 penyakit, 6 di antaranya disebabkan oleh vektor. Itu yang dimasukkan ke dalam kedaruratan kesehatan. ''Tapi akhirnya masuklah bencana menjadi kedaruratan kesehatan bencana,'' kata Menkes. Di samping itu, 1 miliar orang juga diharap menikmati hidup dan sehat. Menkes Nila menjelaskan hidup sehat harus dicapai dengan Germas dan PISPK. Germas dan PISPK harus dilanjutkan karena tidak ada jalan lain, kata Menkes, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat harus dipantau langsung dengan mendatangi rumah setiap warga. ''Terkait ini (PISPK) WHO akan mengaitkan dengan primary health care dan ada evaluasi setiap 3 tahun. Harus kita kuatkan primary health care dan harus dipikirkan bagaimana sistem, cakupan peserta, dan kapitasinya,'' kata Menkes Nila. Namun demikian saat ini 70% orang Indonesia sehat. Menkes mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan menyasar ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, lansia, dengan melakukan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta ditunjang pelayanan kesehatan yang berkualitas. sumber : http://www.depkes.go.id/article/view/19021200001/menkes-uhc-tak-hanya-kepesertaan-jkn.html Link Download Materi Rakerkesnas 2019 : Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 2                                                              Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 3 Materi Pra Rakerkesnas 2019 dibawah ini :  
    Tangerang, 11 Februari 2019 Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan cakupan kesehatan semesta (UHC) tidak hanya soal cakupan kepesertaan JKN, tapi mencakup akses pelayanan kesehatan yang merata untuk masyarakat. Hal itu Menkes sampaikan pada kegiatan Pra Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019 di Tangerang, Senin (11/2). ''Universal Health Coverage tidak hanya kepesertaan JKN, tapi harusnya pararel dengan akses pelayanan kesehatan dengan baik,'' kata Menkes. Artinya, tambah Nila, UHC itu selain cakupan kepesertaan JKN juga akses pelayanan kesehatan harus baik. Dalam UHC akses pelayanan kesehatan harus dirasakan merata oleh masyarakat. ''Oleh WHO diharapkan 1 miliar orang mendapatkan manfaat UHC. 1 miliar itu sehat, di jaga kesehatannya,'' ucap Menkes. Selain itu 1 miliar orang juga terlindungi dari kedaruratan kesehatan. Terkait kedaruratan kesehatan, Menkes mengatakan dulu hanya ada 10 penyakit, 6 di antaranya disebabkan oleh vektor. Itu yang dimasukkan ke dalam kedaruratan kesehatan. ''Tapi akhirnya masuklah bencana menjadi kedaruratan kesehatan bencana,'' kata Menkes. Di samping itu, 1 miliar orang juga diharap menikmati hidup dan sehat. Menkes Nila menjelaskan hidup sehat harus dicapai dengan Germas dan PISPK. Germas dan PISPK harus dilanjutkan karena tidak ada jalan lain, kata Menkes, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat harus dipantau langsung dengan mendatangi rumah setiap warga. ''Terkait ini (PISPK) WHO akan mengaitkan dengan primary health care dan ada evaluasi setiap 3 tahun. Harus kita kuatkan primary health care dan harus dipikirkan bagaimana sistem, cakupan peserta, dan kapitasinya,'' kata Menkes Nila. Namun demikian saat ini 70% orang Indonesia sehat. Menkes mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan menyasar ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, lansia, dengan melakukan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta ditunjang pelayanan kesehatan yang berkualitas. sumber : http://www.depkes.go.id/article/view/19021200001/menkes-uhc-tak-hanya-kepesertaan-jkn.html Link Download Materi Rakerkesnas 2019 : Materi Pra Rakerkesnas 2019                                                                         Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 3 Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 2 dibawah ini :
    [wpdm_package id='2015']
    Tangerang, 11 Februari 2019 Menteri Kesehatan RI, Nila Moeloek mengatakan cakupan kesehatan semesta (UHC) tidak hanya soal cakupan kepesertaan JKN, tapi mencakup akses pelayanan kesehatan yang merata untuk masyarakat. Hal itu Menkes sampaikan pada kegiatan Pra Rapat Kerja Kesehatan Nasional (Rakerkesnas) 2019 di Tangerang, Senin (11/2). ''Universal Health Coverage tidak hanya kepesertaan JKN, tapi harusnya pararel dengan akses pelayanan kesehatan dengan baik,'' kata Menkes. Artinya, tambah Nila, UHC itu selain cakupan kepesertaan JKN juga akses pelayanan kesehatan harus baik. Dalam UHC akses pelayanan kesehatan harus dirasakan merata oleh masyarakat. ''Oleh WHO diharapkan 1 miliar orang mendapatkan manfaat UHC. 1 miliar itu sehat, di jaga kesehatannya,'' ucap Menkes. Selain itu 1 miliar orang juga terlindungi dari kedaruratan kesehatan. Terkait kedaruratan kesehatan, Menkes mengatakan dulu hanya ada 10 penyakit, 6 di antaranya disebabkan oleh vektor. Itu yang dimasukkan ke dalam kedaruratan kesehatan. ''Tapi akhirnya masuklah bencana menjadi kedaruratan kesehatan bencana,'' kata Menkes. Di samping itu, 1 miliar orang juga diharap menikmati hidup dan sehat. Menkes Nila menjelaskan hidup sehat harus dicapai dengan Germas dan PISPK. Germas dan PISPK harus dilanjutkan karena tidak ada jalan lain, kata Menkes, untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat harus dipantau langsung dengan mendatangi rumah setiap warga. ''Terkait ini (PISPK) WHO akan mengaitkan dengan primary health care dan ada evaluasi setiap 3 tahun. Harus kita kuatkan primary health care dan harus dipikirkan bagaimana sistem, cakupan peserta, dan kapitasinya,'' kata Menkes Nila. Namun demikian saat ini 70% orang Indonesia sehat. Menkes mengajak masyarakat untuk menjaga kesehatan dengan menyasar ibu hamil, bayi, balita, remaja, dewasa, lansia, dengan melakukan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta ditunjang pelayanan kesehatan yang berkualitas. sumber : http://www.depkes.go.id/article/view/19021200001/menkes-uhc-tak-hanya-kepesertaan-jkn.html Link Download Materi Rakerkesnas 2019 : Materi Pra Rakerkesnas 2019                                                          Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 2 Materi Rakerkesnas 2019 - Hari ke 3 dibawah ini :
    Bekasi, 5 Maret 2019 website yang dikelola dengan baik akan menjadi acuan bagi konsumer informasi khususnya website kesehatan baiknya menjadi sumber danb tuntutan akan informasi yang cepat dan akurat setiap waktu yang dapat diakses semua pihak. dalam rangka meraih hal tersebut, pusdatin kemenkes RI menyelenggarakan workshop peningkatan tata kelola website yang berlokasi di hotel harris bekasi, 4 s.d 6 maret 2019. pada kegiatan ini, penyelenggara bertujuan unbtuk meningkatkan kapasitas administrator website skpd di masing - masing daerah, baik tata kelola tampilan, konten, hingga keamanan. acara ini sangat berkaitan dengan E-ASPIRASI (Anugerah Situs Inspirasi Sehat Indonesia) yang merupakan ajang bergengsi penilaian website SKPD tahunan di setiap provinsi di Indonesia. workshop ini bertujuan meningkatkan website di era 4.0 yang ramah informasi, melaksanakan keterbukaan informasi publik, serta menjadi wadah informasi yang akurat bagi masyarakat.
    Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes membuka Sosialisasi dan Koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Masal ( POPM) Kecacingan pada Daerah Stunting (kab. Lampung Selatan dan kab Lampung Timur) di Provinsi Lampung tahun 2019 (15/04/2019) . Sosialisasi dan Koordinasi POPM kecacingan pada daerah stunting dalam hal ini kabupaten Lampung Selatan dan Lampung Timur, Sedangkan ada lagi 2 kabupaten yang akan kita laksanakan pertemuan yg sama yaitu kabupaten Lampung Tengah dan Tanggamus. Karna pada tahun 2019, pemerintah Provinsi Lampung telah menetapkan kabupaten stunting yang akan melakukan intervensi pemberian obat cacing sebanyak 2x dalam 1 tahun, yaitu 4 kabupaten diatas Sedangkan kabupaten non stunting pemberian obat cacing tetap dilakukan 1x dalam setahun seperti layaknya tahun tahun lalu yang telah dilakukan. Narasumber dari kegiatan tersebut adalah subdit filariasis dan kecacingan Kementerian Kesehatan RI. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Prov Lampung, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Kepala Seksi Pencegahan & Pengendalian Penyakit. Tujuan kegiatan tersebut adalah untuk memperkuat koordinasi dalam rangka pemberian obat cacing (POPM kecacingan) khususnya daerah stunting. Peserta Kabupaten Dinas kesehatan kabupaten : Kasi p2pm, Kabid kesmas / kasi gizi, Pengelola Program Tingkat Kabupaten dan Puskesmas, Kepala Puskesmas, Dinas Pendidikan, Kemenag Kabupaten, PKK kabupaten unduh materi lengkapnya DISINI
    SehatNegeriku, Jakarta, 16 April 2019. Pemerintah Arab Saudi akan memberikan tambahan kuota haji Indonesia sebanyak 10 ribu jemaah. Menyikapi hal ini Kementerian Kesehatan menyambut baik dan akan menyiapkan semua sumber daya tambahan yang dibutuhkan sebagai konsekuensi dari kebijakan baru tersebut. Dengan adanya penambahan kuota jemaah tersebut, sekurangnya akan ada penambahan sekitar 25 kelompok terbang (kloter). Oleh karenanya Kemenkes perlu menyiapkan sumber daya kesehatan yang diperuntukkan bagi setiap kloter. Sumber daya tersebut diantaranya berupa petugas kesehatan, perbekalan kesehatan dan anggaran. Dalam penyelenggaraan haji bidang kesehatan, penambahan kloter tersebut otomatis akan menambah jumlah Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sebanyak 75 orang, dengan komposisi setiap kloter dilayani oleh 3 orang tenaga kesehatan, yakni 1 dokter dan 2 perawat. “Salah satunya akan ada penambahan TKHI sebanyak 25 dokter dan 50 perawat,” terang Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc, Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, menanggapi kebijakan pemerintah Arab Saudi, pada Selasa (16/4). Lebih lanjut Eka menambahkan, pemerintah juga perlu menambah stok obat esensial bagi jemaah sebanyak 10 ribu paket. Ini di luar obat-obatan pribadi milik jemaah haji. Penambahan juga berlaku pada vaksin meningitis meningokokus yang wajib diberikan bagi seluruh jemaah sebelum keberangkatan ke tanah suci. Penambahan tenaga kesehatan, obat-obatan, vaksin dan kebutuhan jemaah haji lainnya berdampak pula pada meningkatnya kebutuhan anggaran. Yang tidak kalah pentingnya adalah perlunya segera dilaksanakan pemeriksaan kesehatan tahap kedua untuk mengetahui pemenuhan kriteria istitaah kesehatan haji sekaligus dilanjutkan dengan dilakukan pembinaan kesehatan pada masa keberangkatan. “Kita harus siapkan semuanya. Sebagai respon penambahan kuota tersebut. Insya Allah Kemenkes siap melaksanakannya,” kata Eka. “Namun demikian kami tetap menunggu konfirmasi dan informasi lebih lanjut dari Kemenag dan hasil rapat kerja dengan DPR,” imbuh Kapuskeshaji. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (AM). Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM.  
    SehatNegeriku, Jakarta, 18 April 2019 Kepala Pusat Krisis Kesehatan, Kementerian Kesehatan RI, dr. Achmad Yurianto mengatakan bencana di Indonesia dominan berkaitan dengan hidroklimatologi. “Hampir 80 persen bencana di Indonesia terkait hidroklimatologi. Artinya bisa diprediksi. Bencana yang predictable sebenarnya bisa diprediksi juga jatuhnya korban,” katanya pada Temu Media tentang Hidroklimatologi, Kamis (18/4) di gedung Kemenkes, Jakarta. Bencana yang berkaitan dengan hidroklimatologi itu, kata dr. Yuri, adalah bencana ‘sopan’ karena ada prediksi yang bisa kita manfaatkan untuk antisipasi risiko dengan baik. Tidak seperti bencana gempa besar yang terjadi tiba-tiba. Kejadian bencana hidroklimatologi seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, kekeringan, angin puting beliung, dan gelombang pasang/badai. Maka, hidroklimatologi adalah langkah awal bagaimana terjadinya risiko pada manusia akibat gempa. Hidroklimatologi membuat kesiapsiagaan manusia mengurangi risiko. “Karena itu yang menggugurkan definisi bencana adalah tidak adanya korban jiwa. Kami (Kemenkes) berkolaborasi dengan BMKG soal kerawanan bencana,” ucap dr. Yuri. Bencana yang berkaitan dengan hidroklimatologi akan menjadi lebih parah ketika ada ulah manusia yang merusak alam. dr. Yuri mencontohkan pada bencana banjir bandang di Bangka Belitung pada 5 Februari 2019. “Kalau itu menyalahkan climate change, kenapa tidak terjadi di zaman Sriwijaya. Ternyata penyebabnya ada pergeseran struktur tanah akibat pengerukan timah. Ini bukan masalah cuacanya, ini ulah manusia. Kalau kita meyakini ini (bencana diakibatkan juga oleh manusia) maka pencegahan terjadinya risiko akibat ulah manusia bisa dilakukan,” kata dr. Yuri. Hidroklimatologi harus dijadikan sebagai early warning system untuk mengelola bencana. Selain itu, keterkaitan antara iklim dengan wabah penyakit baru ditemukan pada wabad DBD. Kepala Bidang Informasi Iklim Terapan, BMKG, Marjuki, M.Si mengatakan keterkaitan iklim dengan DBD baru di skala DKI Jakarta. Keterkaitan itu terjadi pada saat mulai peningkatan jumlah kasus DBD di diawali dengan kenaikan kelembaban (RH) >75%. Data update pada 15 April 2019 tingkat kelembaban wilayah DKI Jakarta pada level tinggi, yakni Jakarta Selatan (RH 82%), Jakarta Timur (RH 80%), Jakarta Pusat (RH 77%), Jakarta Barat (RH 81%), dan Jakarta Utara (RH 76%). Adanya keterkaitan ini, maka BMKG beserta Dinas Kesehatan DKI Jakarta dan Institut Teknologi Bandung (ITB) membangun Kewaspadaan dini DBD berbasis iklim (DBDKlim) untuk memberikan informasi prediksi pada periode yang akan datang, sehingga dapat dilakukan tindak lanjut oleh Dinas Kesehatan dan jajarannya. “Informasi prediksi kasus DBD seharusnya sudah disampaikan sebelum kejadian DBD meningkat, sehingga dapat dilakukan intervensi lebih dini. Namun, sistem peringatan dini ini baru dilakukan setelah kasus DBD sudah mulai meningkat (Desember 2018),” kata Marjuki. Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id. (D2). Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Widyawati, MKM.
    RSS Feed
    Bandar Lampung - Tuberkulosis atau TBC masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang menjadi tantangan global. Indonesia merupakan negara pertama diantara negara-negara dengan beban TBC yang tinggi di wilayah Asia Tenggara yang berhasil mencapai target Global untuk TBC pada tahun 2006, yaitu 70% penemuan kasus baru TBC BTA positif dan 85% kesembuhan. Angka prevalensi TBC berdasarkan hasil survey prevalensi tahun 2013-2014 adalah 660 per 100.000 penduduk, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban TBC yang tinggi di dunia. Berbagai tantangan yang perlu menjadi perhatian yaitu TBC yang belum ditemukan, TBC-Resisten Obat (TBC RO), TBC/HIV, TBC Diabetes dan TBC pada anak dan masyarakat rentan lainnya. Hal ini memacu pengendalian TBC nasional terus melakukan intensifikasi, akselerasi, ekstensifikasi dan inovasi program dan terobosan program pengendalian TBC termasuk penggunaan alat laboratorium Tes Cepat Molekuler (TCM) yaitu  Xpert®MTBC/RIF, penggunaan alur baru TCM dan perluasan penggunaan TCM TBC.. Penerapan TCM merupakan terobosan dalam percepatan penanggulangan TBC  dengan  mempermudah   akses dan mempercepat diagnosis,  sehingga pasien khususnya suspek TBCTBC RO, TBC HIV, TBC Diabetes dan TBC pada anak dan masyarakat rentan lainnya dapat memperoleh  pengobatan sedini mungkin. Dengan alat tersebut deteksi M. tuberculosis dan resistensi terhadap rifampisin sebagai salah satu Obat  Anti Tuberkulosis, dapat dilakukan hanya dalam waktu 2 jam. Hal ini lebih cepat bila dibanding dengan metode biakan dan uji kepekaan dengan metode konvensional yang memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan. Sampai bulan Desember 2018 telah terdistribusi sebanyak 815 alat TCM diseluruh Indonesia yang ditempatkan di 496 Rumah Sakit, 20 laboratorium dan 95 Puskesmas. Setelah mengikuti kegiatan ini yang dilaksanakan pada hari Senin 13 Mei 2019 di Hotel Emersia Bandar Lampung, peserta mampu melakukan fungsi teknis laboratorium dalam pemeriksaan tes cepat molekuler dan manajemen terkait dengan program TBC, serta pelayanan TBC, TBC RO, dan TBC HIV untuk mendukung Program Nasional  Pengendalian TBC. Kegiatan yang diikuti oleh pengelola program kab/kota dan provinsi, manajemen Rumah Sakit dan Puskesmas ini dibuka langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes.     Berikut adalah tautan unduh materi "Workshop Penggunaan Alat Laboratorium Test Cepat Molekuler (TCM) Tuberkulosis, Regional Lampung dan Bengkulu" : Download materi
    Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah anak yang tidak mendapatkan imunisasi lengkap cukup banyak Situasi ini telah berdampak pada munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti Difteri, Campak dan Polio. Tantangan yang umum ditemukan antara lain, pasokan vaksin, manajemen rantai dingin, pemberian layanan serta adanya rumor isu negatif tentang vaksin. Tantangan lainnya yang cukup penting adalah kurangnya pengetahuan tentang manfaat imunisasi dan kerugian ekonomi akibat kecacatan atau kematian yang timbul apabila anak yang berada di Iingkungan sekitar kita tidak mendapatkan imunisasi lengkap. Dengan tajuk yang telah ditentukan yaitu "Imunisasi Lengkap, Indonesia Sehat", Dinas Kesehatan Provinsi Lampung bersama Lembaga Swadaya Masyarakat, Penguruan Tinggi, Organisasi Profesi,Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat, Jurnalis/Media, dan rekan Dunia Usaha berperan aktif mengajak warga untuk mengenal Imunisasi lebih baik lagi dari Menunjukan nilai penting dan manfaat imunisasi untuk kesehatan anak -anak dan masyarakat dunia, mengatasi kesenjangan cakupan imunisasi melalui peningkatan investasi program, serta menyampaikan bahwa imunisasi rutin lengkap merupakan dasar untuk sistem kesehatan yang kuat, tangguh dan cakupan kesehatan universal.  Peran lintas program dan lintas sektor sangat dibutuhkan untuk memberikan pemahaman kepada semua pihak bahwa imunisasi sangat penting untuk meningkatkan kesehatan, menghambat Kejadian Luar Biasa (KLB) di masa yang akan datang dalam rangka mewujudkan generasi bangsa yang kuat dan cerdas. Keterangan Foto : Suasana pelaksanaan Pekan Imunisasi Dunia (PID) thn 2019, di Salah satu Puskesmas di Kab. Way kanan, dilaksanakan secara rutin dan serentak, setiap tahun di seluruh dunia setiap bulan April.
    Dalam rangka melaksanakan program kerja Tim Koordinasi Jejaring Keamanan Pangan Daerah (JKPD) Provinsi Lampung, yang dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Lampung. Tim terkait melaksanakan pemantauan muali dari hari senin (27/052019) diberbagai tempat. Ruang lingkup Pemantauan dan pengawasan keamanan pangan tersebut meliputi pangan segar, pangan olahan, pangan dalam kemasan dan pagan siap saji. Materi pemantauan dan pengawasan sesuai dengan kewenangan masing – masing satuan kerja/instansi anggota Tim Koordinasi JKPD yaitu izin edar, registrasi, kehalalan, pemeriksaan bahan tambahan pangan, residu pestidisa, formalin , dll. Pemantauan dan Pengawasan Keamanan pangan segar, pangan olahan, pangan dalam kemasan dan pagan siap saji meliputi Pasar Tradisional dan Pasar Modern (Mall, Supermarket) di Kota Bandar Lampung dengan catatan terdapat beberapa produk yang bermasalah yaitu Produk Rumah Tangga yang belum disertai Izin Edar (PIRT), Izin Edar yang tidak sesuai, Produk Rumahan tanpa izin edar yang seharusnya dikemas ulang dan disertai NIE dan ED, Izin edar palsu, izin edar yang harus diperbarui, dan izin edar yang tidak berasal dari sumber BPOM.
    Beriku ini adalah materi Pertemuan Orientasi Tatalaksana Penanggulangan HIV AIDS silahkan unduh semoga bermanfaat
    Keduanya dilantik Presiden RI Joko Widodo yang didampingi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo, di Istana Negara Jakarta, Rabu (12/6/2019). Pelantikan tersebut dihadiri sejumlah tamu undangan, antara lain: Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nanang Trenggono, Ketua Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan Staf Ahli Gubernur Fahrizal Darminto serta keluarga dari Arinal – Nunik. Usai pelantikan, Arinal – Nunik diagendakan mengikuti kegiatan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bersama dengan Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku serta Maluku Utara. Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Kemendagri Bahtiar mengatakan pertemuan dan kunjungan tersebut sesuai dengan amanat Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 54 Tahun 2018 tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi. Pertemuan itu sering dilakukan dan diinisiasi Mendagri pasca pelantikan kepala daerah dan wakil kepala daerah. “Strategi Nasional Pencegahan Korupsi adalah arah kebijakan nasional yang fokus pada pencegahan tindak pidana korupsi,” terangnya. sumber : http://lampungprov.go.id/berita/arinal-djunaidi-chusnunia-resmi-menjabat-sebagai-gubernur-dan-wakil-gubernur-lampung-periode-2019-20.html