peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia ke-12

Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Lampung, Riana Sari Arinal, Senin (04/11), menghadiri Peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia Ke 12 Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2019 yang dipusatkan di SDN 01 Bakung, Teluk Betung Barat, Bandar Lampung.

Pada kesempatan tersebut Ibu Riana Sari Arinal mengajak semua masyarakat untuk senantiasa membiasakan diri Cuci Tangan Pakai Sabun di air mengalir. “Cuci tangan pakai sabun merupakan langkah kecil untuk memulai hidup sehat, dalam rangka melindungi masyarakat secara efektif dari penyakit seperti diare dan infeksi saluran pernapasan (ISPA)” Ujar Ibu Gubernur Lampung tersebut.

Ketua TP-PKK Provinsi Lampung itu juga menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan kampanye CTPS seperti yang dilakukan saat ini adalah suatu upaya bagi penurunan angka kematian dan stunting, akibat penyakit diare yang ditimbulkan karena kurangnya akses sarana air bersih, sarana sanitasi dan sarana cuci tangan. Untuk itu iya berharap agar sekolah-sekolah dapat memenuhi kebutuhan sarana tersebut yaitu sarana air bersih, sarana sanitasi termasuk sarana CTPS nya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr.dr.Hj. Reihana, M.Kes selaku penyelenggara kegiatan, dalam laporannya menjelaskan bahwa Kegiatan CTPS dengan dikombinasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dapat melindungi anak-anak dari berbagai penyakit. Kegiatan ini dapat dilakukan sekolah dalam menjalankan program UKS.

Kegiatan Hari CTPS 2019 diawali dengan penanda tanganan Komitmen CTPS dan Cap tangan, serta Praktek CTPS.

Di kegiatan itu juga Ketua TP-PKK Provinsi Lampung, mengajak melakukan komitmen Eco school dengan pengurangan sampah plastik dan membiasakan membawa Tumbler. Acara diakhir dengan mengajak anak-anak bermain ular naga serta pembagian doorprize.




Kunjungan Kerja Wakil Gubernur Lampung ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung

Bandar Lampung———————- Dalam rangka peningkatan dan percepatan kapasitas mutu pemerintahan Provinsi Lampung dalam melayani Rakyat Lampung, Wakil Gubernur Lampung Hj. Chusnunia Chalim, M.Si., M.Kn., Ph.D, berdasarkan arahan Gubernur Lampung Ir. Arinal Djunaidi , melakukan kunjungan kerja ke Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dan disambut langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, Dr. dr. Hj. Reihana, M.Kes (Senin, 02/09/2019).

Pertemuan yang dilaksanakan di ruang Auditorium Dinas Kesehatan tersebut adalah bertujuan untuk kiranya Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung beserta jajaran mempersiapkan Program kerja dan inovasi untuk kedepannya.

Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia Chalim mengatakan bahwa janji kerjanya bersama Gubenur Lampung adalah hal yang harus dituntaskan, berdasarkan sumpah kerja yang telah di emban untuk Rakyat Lampung Berjaya.

Seperti kita ketahui Gubernur beserta Wakil Gubernur Lampung memiliki visi Rakyat Lampung Berjaya dengan misi yang berkaitan dengan bidang kesehatan yaitu misi ke 2 Mewujudkan “Good Governance” untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pelayanan publik dan 33 janji kerja, dimana untuk bidang kesehatan adalah :

  1. Mendorong Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) melalui upaya sosialisasi, fasilitasi, dan sinergi program berbasis komunitas.
  2. Memperkuat peran Puskesmas dan memperbaiki kualitas layanan Puskesmas bersinergi dengan Pemerintah Kabupaten/Kota.
  3. Mendorong peningkatan kualitas pelayanan Rumah Sakit.

“Kesehatan adalah salah satu prioritas, yang menyangkut langsung ke masyarakat , baik pelayanan maupun kebijakan haruslah sesuai dan tidak memberatkan masyarakat.” Ujarnya.

Program Kerja yang akan dipresentasikan adalah bertajuk Lampung Sehat Berjaya, yang rencananya akan dipresentasikan di Ruang Rapat Wakil Gubernur Lampung pada Hari Kamis 5 September 2019 mendatang.




Alur Standar Pelayanan Data

[pdf-embedder url=”http://localhost/web/wp-content/uploads/2016/03/Alur-Standar-Pelayanan-Data.pdf” title=”Alur Standar Pelayanan Data”]




Alur Pelayanan Tamu Berkebutuhan Khusus




GERAKAN TOSS TB, TEMUKAN TB OBATI SAMPAI SEMBUH

Bandar Lampung, Apr 2016 – 24 Maret adalah Hari Tuberkulosis Sedunia. Kuman TB sudah ditemukan sejak 24 Maret 1882, akan tetapi sampai sekarang belum ada satu negarapun di dunia yang bebas tuberkulosis. Bahkan Tuberkulosis (TB) masih merupakan penyakit infeksi saluran napas yang paling sering dijumpai di Indonesia.

toss3

Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization Global Report, 2014) melaporkan bahwa pada tahun 2014 terdapat sekitar 9 juta kasus TB baru di dunia. Di Indonesia kasus TB telah mengalami penurunan, dibandingkan dengan tahun 1990 maka prevalensi TB di Indonesia mengalami penurunan sebesar 38%, sedangkan insidensi TB mengalami penurunan sebesar 12% dan angka kematian TB mengalami penurunan sebesar 37% sampai tahun 2014. Data Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir 2015 jumlah orang yang diduga TB yang diperiksa adalah 1.210.659 orang, dan jumlah kasus TB ternotifikasi sebanyak 324.020 kasus termasuk di antaranya kasus TB anak sebanyak 23.080 kasus.

TB adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis, masih dikenal sampai sekarang dengan sebutan TBC atau penyakit 3 huruf juga sakit flek. TB bukanlah penyakit bawaan, bukan pula penyakit keturunan ataupun guna-guna, juga bukan disebabkan oleh kelainan genetik apalagi kutukan Tuhan.

Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, walaupun pada sepertiga kasus menyerang organ tubuh lain seperti : kelenjar getah bening (limfadenitis TB), tulang belakang (Spondilitis TB), selaput otak (meningitis TB), perut (peritonitis TB), kulit, dan tenggorokan (laryngitis TB). Diagnosanya ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lainnya.

toss4Kuman TB dapat ditularkan pada orang lain melalui udara, yang disebabkan oleh batuk ataupun bersin-bersin dari pasien TB. Lewat batuk dan bersin dari pasien TB tersebut, percik renik (percik dahak yang sangat kecil) yang mengandung kuman TB dari dalam paru akan keluar, terbawa ke udara bebas dan dapat dihirup oleh orang di sekitar. Orang yang menghirup kuman TB tersebut, bisa jadi terinfeksi TB (infeksi laten) akan tetapi belum tentu sakit TB. Namun, kuman TB yang berterbangan di udara tersebut akan mati jika terkena sinar matahari dan sebaliknya, kuman TB akan bertahan lama jika berada pada ruangan yang lembab ataupun ruangan tertutup yang ber-AC.

Daya tahan tubuh setiap orang sangat mempengaruhi resiko penularan kuman TB hingga menjadi sakit TB. Penyakit TB ini juga dapat menyerang siapa saja, tidak memandang usia, jenis kelamin, maupun status sosial. Namun ada beberapa faktor yang memiliki resiko penularan TB lebih besar, contohnya mereka-mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TB yang belum terobati atau sedang menjalankan pengobatan fase awal, yang memiliki kekebalan tubuh rendah seperti bayi, anak-anak dan orang lanjut usia. Mereka-mereka yang memiliki kekebalan tubuh lemah karena adanya faktor penyakit lain seperti HIV/AIDS (ODHA) dan penyandang penyakit Diabetes Melitus. Dan juga perokok, karena lebih dari 20 persen kasus TB di dunia disebabkan oleh orang yang aktif merokok.
Banyaknya jumlah penderita TB (TB aktif maupun yang sudah pernah tertular dan kumannya ‘tidur’), ketidakpatuhan dalam menjalani pengobatan sehingga tidak sembuh tuntas, keterlambatan dalam menegakkan diagnosa, timbulnya masalah baru yang mempersulit eliminasi TB (yaitu MDR TB, TB HIV, TB DM, TB rokok dan TB pada Perempuan), kemudian kejadian tuberkulosis juga berhubungan dengan situasi sosio ekonomi yang belum baik menjadi penyebab mengapa Tuberkulosis belum dapat tuntas dieliminasi di Indonesia bahkan Dunia.

Gejala utama TB adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Gejala lain adalah dahak bercampur darah, batuk darah, sesak napas, badan lemas, dada terasa nyeri, demam meriang lebih dari sebulan, nafsu makan berkurang, berat badan menurun, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik.
Gejala untuk TB pada anak adalah batuk-batuk yang cukup lama yang berlangsung selama 3 minggu atau lebih dan biasanya intensitasnya tinggi atau tidak pernah reda, demam yang berkepanjangan lebih dari 2 minggu tanpa sebab yang jelas, biasanya disertai dengan keringat malam dan umumnya tidak terlalu tinggi, berat badan menurun tanpa sebab yang jelas atau dalam 1 bulan tidak mengalami kenaikan dengan penanganan gizi yang adekuat. Nafsu makan menurun atau susah makan dan menjadi lesu atau anak jadi kurang aktif untuk bermain juga merupakan salah satu gejala TB pada anak.

Penyakit TB dapat menyebabkan kematian jika tidak diberi obat. Setelah dinyatakan positif TB, pasien diberi obat yang harus diminum secara teratur sampai TUNTAS selama 6-8 bulan. Selama masa pengobatan diperlukan pemeriksaan dahak pada tahap awal pengobatan, 1 (satu) bulan sebelum masa pengobatan berakhir, akhir pengobatan. Obat TB diberikan secara GRATIS dan dapat diperoleh di puskesmas/rumah sakit.

Di Indonesia saat ini mulai dikenal TB Resisten Obat (TB RO) atau MDR TB yaitu Multi Drug Resistent Tuberculosis atau dikenal dengan tuberkulosis yang resisten alias kebal, dimana MDR TB memiliki kekebalan terhadap obat anti TB utama, yaitu rifampisin dan INH, juga disertai dengan resisten terhadap obat anti TB lini pertama lainnya seperti etambutol, streptomisin dan pirazinamid. Pengobatan MDR TB pun lebih sulit, obatnya lebih banyak yang harus diminum, waktu pengobatannya lebih lama sampai sekitar dua tahun dan memiliki efek samping yang lebih sering.

Perkiraan kasus TB Resisten Obat di Indonesia per tahun adalah 6.800 kasus. Jumlah terduga TB MDR tahun 2015 yang diperiksa sebanyak 15.246 dimana jumlah kasus TB MDR yang diobati tahun 2015 sebanyak 1.547 kasus. Saat ini layanan bagi TB resisten telah tersedia 34 RS Rujukan TB MDR di 26 Provinsi, 13 RS Sub Rujukan dan 1050 Fasyankes Satelit. Untuk pelayanan TB MDR di Provinsi Lampung ada di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek, sedangkan Rumah Sakit Rujukan Nasional untuk kasus TB RO atau MDR TB adalah RSU Persahabatan Jakarta.

Akses layanan TB semakin meningkat, sejumlah 9.075 Puskesmas (95%) dan 999 Rumah Sakit (62%) telah menyediakan layanan TB sesuai standar program. Akses layanan ini semakin ditingkatkan melalui penguatan jejaring layanan yang melibatkan swasta dalam skema public-private mix dan dimasukkannya pelayanan TB didalam program Jaminan Kesehatan Nasional.

Dalam memerangi penyebaran TB terutama pada anak anak yang masih rentan daya tahan tubuhnya, Pemerintah Indonesia telah memasukkan imunisasi BCG (untuk mencegah TB berat misalnya : TB selaput otak dan TB paru berat) sebagai salah satu program prioritas imunisasi wajib nasonal beserta dengan 4 jenis imunisasi wajib lainnya yaitu hepatitis B, Polio, DPT, dan campak.

Adapun capaian indikator untuk menggambarkan keberhasilan program pengendalian TB yaitu Case Notification Rate (CNR) dan Treatment Success Rate (TSR). Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, ibu dr. Hj. Reihana, M.Kes, menyampaikan, “Untuk di Provinsi Lampung, angka penemuan kasus sudah mencapai strategi nasional yaitu CNR 99/100.000 penduduk, sedangkan angka keberhasilan pengobatan TB (TSR) yang telah mencapai target di atas 90 % adalah kabupaten Pesawaran, Tanggamus, dan Waykanan”.
Oleh sebab itu perlu kesadaran masyarakat bila dirinya terdiagnosis tuberkulosis maka hati-hati saat berinteraksi dengan orang lain agar tidak batuk sembarangan, tidak membuang ludah sembarangan tetapi meludah di tempat tertentu seperti lakeng tertutup yang sudah diisi dengan sabun, karbol atau lisol. Buanglah dahak tersebut ke lubang WC atau timbun ke dalam tanah di tempat yang jauh dari keramaian. Sangat dianjurkan untuk bersedia memakai masker atau setidaknya sapu tangan atau tissue, menutup mulut pada waktu batuk dan bersih, menelan obat anti TB (OAT) secara lengkap dan teratur sampai sembuh, cuci tangan dengan sabun setelah tangan digunakan untuk menutup hidung/mulut pada waktu batuk dan bersin, ventilasi yang cukup sehingga udara segar dan sinar matahari masuk ke dalam rumah, mengusahakan sinar matahari masuk ke ruang tidur, menjemur alat-alat tidur sesering mungkin, karena kuman TB mati oleh sinar matahari.

“Saya sangat mengharapkan agar masyarakat Lampung peduli Gerakan TOSS TB, Temukan TB Obati Sampai Sembuh, berikan dukungan moril dengan mengajak penderita TB berobat sampai sembuh tuntas, tidak bersikap diskriminatif terhadap pasien TB, dan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga Indonesia Bebas TB 2050 dapat tercapai”, pesan dr. Hj. Reihana, M.Kes.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),
email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




RS Keliling Provinsi Lampung Menerima Penghargaan

  Mobile Clinic (RS Keliling) Prov Lampung mnerima penghargaan TOP 99 Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik dr Menteri PAN-RB.




Menkes: Status Gizi Indonesia Membaik

sehatnegeriku.com – Menteri Kesehatan RI, Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) menyatakan status gizi Indonesia saat ini lebih baik. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya cakupan ASI Eksklusif dan menurunnya angka Balita pendek (stunting) di Indonesia.

“Dunia kini mengakui, Lancet Breastfeeding Series 2016 menyebutkan ASI Eksklusif kita meningkat dari sebelumnya 38% (Riskesdas, 2013) naik menjadi 65%”, ujar Menkes kepada media usai membuka kegiatan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016 di Jakarta Selatan, Selasa siang (22/3).

Sementara itu, keberhasilan lainnya adalah Indonesia berhasil menurunkan angka stunting yang sebelumnya mencapai 37,2% (Riskesdas, 2013) menjadi 29,0% berdasarkan hasil Pemantauan Status Gizi di 496 Kabupaten/Kota dengan melibatkan 165.000 Balita sebagai sampelnya. Hasil ini diperkuat juga dengan data UNICEF yang melakukan intervensi selama tiga tahun sejak 2011-2014 di tiga Kabupaten di Indonesia (Sikka, Jayawijaya, Klaten) dan berhasil menurunkan angka stunting sebesar 6%.

“Jadi stunting mulai turun, artinya intervensi kita tepat”, kata Menkes.

Perlu diketahui, stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Menkes menerangkan bahwa anak dengan stunting memiliki kelemahan dan berkorelasi terhadap: IQ yang rendah, tinggi badan dan berat badan tidak sesuai grafik perkembangan, serta rentan terhadap penyakit. Oleh karena itu, masyarakat utamanya para remaja harus mengerti dan memahami bagaimana merencanakan keluarga, utamanya mengenai nutrisi. Bagaimana kesiapannya untuk menikah, hamil dan memiliki anak, serta bagaimana agar dapat menjaga kecukupan nutrisi anak tersebut dan dirinya sendiri.

“Mulai kapan perbaikan gizi dilakukan? Berdasarkan daur kehidupan, kebutuhan nutrisi harus terpenuhi sejak bayi hingga Manula. Namun yang juga penting adalah para remaja”, tutur Menkes.

Menkes menambahkan bahwa upaya perbaikan gizi seyogyanya dilakukan melalui pendekatan continuum of care dengan fokus yang diutamakan adalah 1000 hari pertama kehidupan, yaitu mulai dari masa kehamilan sampai anak berumur 2 tahun.

“Nutrisi ini penting, karena ini merupakan daya ungkit untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas”, tutur Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat,Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faks (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak@kemkes.go.id.




Menkes: Menyusui Bukan Hanya Kesehatan Fisik, Kecerdasan IQ, Namun Juga Kesehatan Mental

sehatnegeriku.com – Pemenuhan gizi merupakan daya ungkit yang kita perlukan untuk mendapatkan sumber daya manusia yang berkualitas Breastfeeding (menyusui) bukan hanya fisik, kecerdasan IQ namun juga kesehatan mental.

Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, Prof. dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K) dalam sambutannya pada Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016 di Jakarta Selatan, Selasa (22/3).

Menurut Menkes, memberi ASI itu bukan hanya sekedar memberi makan, namun juga stimulasi. Karena tentu pasti ada interaksi kasih sayang yang terbangun di antara ibu dan anak.

“Menggendong, kemudian membelai itu memberi kedamaian pada jiwa anak. Saya kira ada korelasinya, dengan kasih sayang ini bisa terjadi. Tapi tanpa ASI, disajikan dalam botol, dan yang memberikan juga bukan ibunya, bagaimana tali kasih bisa terjadi”, tutur Menkes.

Terkait hal tersebut, Menkes menyatakan beliau teringat perbincangan bersama dr. Utami Rusli bahwa ada keterkaitan antara menyusui dengan kesehatan mental anak. Terlebih bila dikaitkan dengan peluang bonus demografi di tahun-tahun ke depan, pemberian air susu ibu (ASI) menjadi penting untuk menciptakan generasi yang baik.

“ASI ini merupakan jasa para wanita untuk menjadikan generasi negara kita menjadi generasi yang baik nantinya, generasi yang bisa berkompetisi di dunia dan negara lain di kancah global”, tutur Menkes.

Menkes juga menambahkan bahwa keberhasilan ASI Eksklusif di Indonesia merupakan keberhasilan dari semua pihak. Namun bagaimanapun juga dukungan dan upaya keras tetap harus ditingkatkan. Selain itu, Menkes juga menyerukan kepada para wanita bahwa ASI tetap yang terbaik.

“Saya mendorong dan sangat berterima kasih kepada semua pejuang-pejuang ASI yang telah berupaya untuk memperbaiki generasi kita”, tandas Menkes.

Setiap ibu dan anak di manapun dan dalam situasi apapun, akan memperoleh manfaat dari praktek menyusui yang optimal. Publikasi riset terbaru di The Lancet semakin memperkuat bukti yang ada tentang manfaat menysui yang sangat besar bagi anak-anak dan wanita di negara maju dan berkembang. Hal tersbeut kabar gembira bagi para ibu di Indonesia, jurnal The Lancet Breastfeeding Series 2016 mempublikasikan bahwa ASI Eksklusif di Indonesia telah mencapai 65%. Di kebanyakan negara angka menyusui eksklusif bagi bayi usia di bawah 6 bulan masih jauh di bawah 50%, yang merupakan target World Health Assembly (WHA) untuk 2025.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomorhotline (kode lokal) 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat e- mail kontak@kemkes.go.id.




Kendalikan TB dengan Tepat

Sehatnegeriku.com – Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi menular yang dapat menyerang berbagai organ, terutama paru-paru. Penyakit TB merupakan masalah kesehatan terbesar di dunia, setelah HIV sehingga harus ditangani dengan serius. Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2014, kasus TB di Indonesia mencapai 1.000.000 kasus dan jumlah kematian akibat TB diperkirakan 110.000 kasus setiap tahunnya.

Penyakit TB disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis yang ditularkan melalui udara, dari satu orang ke orang lainnya, biasanya melalui percikan dahak seseorang yang telah mengidap TB. Ketika bakteri TB masuk ke dalam tubuh, maka bakteri tersebut bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu, sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB.

Bakteri tersebut akan menyerang paru-paru dan menyebabkan penderita mengalami batuk berdahak secara terus menerus, biasanya selama lebih dari tiga minggu. Bahkan kadang-kadang, pengidap TB juga akan mengalami batuk berdarah. Pengidap TB juga akan cenderung cepat merasa lelah, kehilangan nafsu makan, berkeringat di malam hari, dan mengalami demam tinggi.

Faktor tertentu juga akan meningkatkan risiko seseorang terkena TB. Berikut adalah sejumlah faktor risiko yang perlu diperhatikan:

Sistem imun yang lemah, dapat menyebabkan seseorang dengan mudah terkena bakteri TB. Penyakit seperti HIV/AIDS, diabetes, kanker, dan penyakit ginjal akan membuat bakteri TB dengan mudah menyerang tubuh.

Lingkungan tinggal atau kerja.
Kontak secara terus menerus dengan pengidap TB akan meningkatkan peluang seseorang terkena TB. Jika Anda mengetahui ada pengidap TB di lingkungan sekitar, kenakanlah masker dan cuci tangan sesering mungkin. Orang-orang yang bekerja di rumah sakit, rumah perawatan, atau panti jompo cenderung tertular TB karena kurangnya ventilasi, sehingga bakteri dengan mudah menular melalui udara.

Kemiskinan dan penggunaan zat berbahaya.
Jika seseorang tinggal di daerah terpencil dan padat penduduk, maka ia akan dengan mudah terserang TB karena kurangnya ruang atau udara bersih. Kemiskinan juga identik dengan kurangnya akses terhadap perawatan medis, sehingga akan sulit untuk mendiagnosa dan mengobati TB. Penyalahgunaan zat berbahaya dalam jangka panjang seperti alkohol atau narkoba juga akan melemahkan sistem kekebalan tubuh dan membuat orang rentan terkena TB.

Perjalanan dari/ke negara dengan tingkat TBC tinggi. Risiko terkena TB akan lebih tinggi pada orang-orang yang tinggal di atau melakukan perjalanan ke negara-negara yang memiliki tingkat tuberkulosis yang tinggi, seperti Afrika, India, Cina, Meksiko, dan pulau-pulau di Asia Tenggara.

Kementrian Kesehatan, melalui Program Nasional Pengendalian TB bersama dengan WHO bekerja sama untuk mengendalikan TB dengan menerapkan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) yang terdiri dari lima komponen, yaitu

Komitmen pemerintah untuk mendukung pengawasan tuberkulosis,
Penemuan kasus dengan pemeriksaan mikroskopik sputum. Biasanya dilakukan pada orang-orang yang datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan paru-paru dan pernapasan,
Melakukan pengobatan standar selama 6-8 bulan untuk semua kasus dengan pemeriksaan sputum positif, kemudian dilakukan pengawasan pengobatan secara langsung,
Penyediaan obat-obatan anti tuberkulosis secara teratur, menyeluruh, dan tepat waktu.
Pencatatan dan pelaporan yang baik, sehingga memudahkan penilaian terhadap hasil pengobatan dan evaluasi program penanggulangan TB.

Selain itu pemerintah juga mencanangkan Gerakan Temukan TB Obati, Sampai Sembuh (TOSS). Dengan #TOSSTB diharapkan dapat menggerakkan masyarakat, dimulai dari dalam keluarga untuk aktif terlibat dalam mendorong dan memberikan dukungan orang di sekitarnya yang memiliki gejala TB untuk datang memeriksakan diri ke layanan kesehatan terdekat, menjadi Pengawas Menelan Obat bagi mereka yang membutuhkan dan sebagainya.

Gerakan #TOSSTB juga mendorong petugas kesehatan, layanan kesehatan memberikan layanan berkualitas sesuai standar dan juga mengajak semua pihak untuk secara bersama ambil bagian dalam upaya pencegahan dan pengendalian TB.




PEKAN IMUNISASI NASIONAL (PIN) POLIO TAHUN 2016 SUKSES!

Hari ini 18 Maret 2016 adalah hari terakhir sweeping PIN Polio 2016 di Provinsi Lampung. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan, “PIN Polio berlangsung pada tanggal 8 sampai dengan 15 Maret 2016 dan dilanjutkan dengan 3 (tiga) hari sweeping yaitu mencari balita sasaran ke rumah-rumah bila belum mendatangi POS PIN selama sepekan sebelumnya”.

Sasaran PIN Polio Provinsi Lampung adalah balita usia kurang dari 59 bulan sejumlah 786.031 jiwa. Hasil laporan yang diterima Posko PIN Polio Dinas Kesehatan Provinsi Lampung hingga pukul 19.00 WIB kemarin (17 Maret 2016), jumlah balita yang mendapatkan imunisasi Polio selama PIN dan sweeping adalah 811.526 orang (103,24%) dimana target yang ditentukan oleh Kementerian Kesehatan RI sebesar 95%.

Adapun rincian untuk Kabupaten/Kota adalah sebagai berikut: Lampung Barat 28.144 balita (102,12%), Tanggamus 59.199 balita (104,97%), Lampung Selatan 106.621 balita (102,26%), Lampung Timur 94.153 balita (98,47%), Lampung Tengah 113.847 balita (103,22%), Lampung Utara 60.362 balita (105,47%), Way Kanan 49.028 balita (104,78%), Tulang Bawang 49.202 balita (100,41%), Pesawaran 41.274 balita (107,3%), Pringsewu 34.052 balita (111,41%), Mesuji 21.417 balita (99,48%), Tulang Bawang Barat 26.495 balita (103,01%), Pesisir Barat 15.126 balita (97,56%), dan Bandar Lampung 94.268 balita (105,78%).

Jumlah logistik vaksin PIN Polio yang disiapkan adalah 44.140 vial, dimana yang digunakan sebanyak 43.736 vial, rasio penggunaan adalah 18,55 berarti penggunaan vaksin dianggap sesuai perencanaan karena 1 vial vaksin PIN Polio berisi 20 dosis.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com