AYO CEGAH POLIO! DATANGI POS PIN POLIO TERDEKAT

Bandar Lampung, Maret 2016 – Besok Pos PIN Polio yang terletak di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Pustu, Klinik Swasta, Rumah Sakit dan tempat-tempat umum seperti terminal, pelabuhan dan bandara dapat didatangi orang tua yang memiliki anak usia 0-59 bulan untuk mendapatkan imunisasi polio GRATIS yang dilaksanakan serentak di 34 Provinsi di Indonesia pada tanggal 8 hingga 15 Maret 2016.

Di Provinsi Lampung, jumlah Pos PIN yang disediakan sebanyak 8.810 pos dengan 39.765 kader yang terlibat. Sasaran PIN Polio tahun ini usia 0 s.d 59 bulan adalah 784.736 jiwa dan jumlah vaksin yang disiapkan sebanyak 46.750 vial, dimana 1 vial dapat digunakan untuk 17 sasaran.

Polio merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus poliomyelitis yang menyebabkan kelumpuhan pada otot terutama otot tungkai bawah dan tidak bisa disembuhkan, selain itu dapat juga menyerang otot lain seperti otot pernafasan sehingga dapat menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak, ditularkan dari orang ke orang, dan menyebar melalui kontak dengan makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan kotoran (tinja) atau sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi.

Gejala awalnya antara lain demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri tungkai. Dalam sebagian kecil kasus bisa mengalami kelumpuhan. Tidak ada obat untuk mengobati polio, akan tetapi dengan kebersihan pribadi yang baik dan sanitasi publik yang baik dapat membantu mencegah penularan penyakit polio, disamping itu langkah terbaik pencegahan polio adalah dengan vaksinasi atau imunisasi polio. Idealnya imunisasi Polio diberikan 4 kali pada umur 1, 2, 3 dan 4 bulan, dan dapat diulang (booster) pada usia 18-24 bulan serta usia 5 tahun.

Tujuan PIN Polio sendiri adalah untuk dapat menghilangkan/eradikasi Polio di dunia pada tahun 2020 dengan memastikan tingkat imunitas terhadap Polio di populasi dengan cakupan > 95% dan memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 0 s.d 59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus Polio yang disebabkan oleh virus Polio sabin, sehingga diharapkan semua sasaran mendatangi Pos PIN tanpa memandang apakah sudah pernah di vaksin polio ataupun belum divaksin.

Pemberian imunisasi Polio ini dengan cara di tetes, tiap balita mendapatkan 2 tetes vaksin Polio. Tidak ada efek samping dari pemberian vaksin ini, akan tetapi ada beberapa kondisi dimana balita harus ditunda pemberian vaksin Polionya seperti sakit diare atau muntah, ataupun kondisi balita yang tidak boleh diberikan vaksin seperti memiliki penyakit gangguan sistem kekebalan tubuh contohnya HIV AIDS.

Untuk Provinsi Lampung direncanakan pencanangan dilakukan esok hari pada tanggal 8 Maret 2016 di Lapangan Waydadi Sukarame yang rencananya akan dihadiri oleh Bapak Gubernur M. Ridho Ficardo dan Ketua TP PKK Ibu Yustin Ficardo. Pada saat yang sama di Kabupaten/Kota juga dilakukan pencanangan oleh para Bupati/Walikota masing-masing.

Demi terwujudnya generasi Lampung yang sehat, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung menyampaikan harapan beliau agar seluruh balita usia 0 s.d 59 bulan yang ada di Provinsi Lampung mendapatkan vaksin Polio untuk mencapai eradikasi Polio (bebas Polio) pada akhir tahun 2020. “Saya harapkan dukungan dari organisasi masyarakat, organisasi profesi, tokoh agama, tokoh masyarakat dan seluruh unsur masyarakat agar mendukung para orangtua untuk membawa putra putrinya yang berusia 0 s.d 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 untuk mendapatkan vaksin Polio”, himbau beliau.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




MARI SUKSESKAN KAMPANYE PIN POLIO di PROVINSI LAMPUNG.

Bandar Lampung, Februari 2016 – Poliomyelitis atau penyakit polio adalah penyakit yang sangat menular disebabkan oleh infeksi virus polio, terutama pada anak-anak. Virus ini ditularkan dari orang ke orang, menyebar melalui kontak dengan makanan, air atau tangan yang terkontaminasi dengan kotoran (tinja) atau sekresi tenggorokan dari orang yang terinfeksi. Virus ini akan menyerang sistem syaraf dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

Gejala awal polio adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan pada leher dan nyeri tungkai. Dalam sebagian kecil kasus bisa mengalami kelumpuhan. Tidak ada obat untuk mengobati polio, akan tetapi dengan kebersihan pribadi yang baik dan sanitasi publik yang baik dapat membantu mencegah penularan penyakit polio, disamping itu langkah terbaik pencegahan polio adalah dengan vaksinasi atau imunisasi polio.

Agar Polio “hilang” di masyarakat, yang harus kita lakukan adalah mensukseskan program imunisasi. Setiap bayi harus mendapatkan imunisasi dasar diantaranya adalah Polio. Idealnya imunisasi Polio diberikan 4 kali pada umur 0, 2, 4 dan 6 bulan, dan dapat diulang (booster) pada usia 18-24 bulan serta usia 5 tahun.

Berdasarkan penilaian resiko yang dilakukan WHO sejak 2011 – 2014 menunjukkan bahwa 20% kasus non polio AFP tidak mendapatkan imunisasi polio lengkap. Gambaran ini serupa dengan keadaan pada tahun 2005 pada saat terjadi KLB Polio di Indonesia sehingga Indonesia direkomendasikan untuk melaksanakan PIN (Pekan Imunisasi Nasional). Pada tahun ini PIN Polio akan dilaksanakan serentak di 34 Provinsi di Indonesia pada tanggal 8 hingga 15 Maret 2016.

PIN Polio adalah pemberian imunisasi tambahan Polio kepada kelompok sasaran imunisasi anak dibawah 5 tahun (anak usia 0 s.d 59 bulan) untuk mendapatkan imunisasi Polio tanpa memandang status imunisasi yang dilakukan berdasarkan hasil evaluasi program dan kajian epidemiologi.

Tujuan PIN Polio sendiri adalah untuk dapat menghilangkan/eradikasi Polio di dunia pada tahun 2020 dengan memastikan tingkat imunitas terhadap Polio di populasi dengan cakupan > 95% dan memberikan perlindungan secara optimal dan merata pada kelompok umur 0 s.d 59 bulan terhadap kemungkinan munculnya kasus Polio yang disebabkan oleh virus Polio sabin.

Dalam rangka PIN Polio, akan dibuatkan Pos PIN yang terletak di Posyandu, Polindes, Poskesdes, Puskesmas, Pustu, Klinik Swasta, Rumah Sakit dan tempat-tempat umum seperti terminal, pelabuhan dan bandara.

Dinas Kesehatan Provinsi Lampung bekerjasama dengan lintas sektor terkait seperti Kanwil Kemenag, Disdik, Diskominfo, Biro Binsos, Biro Hukum, Bappeda, Badan PP dan PA, BPMPD, KKP, Kepolisian, TP PKK, IDI, IDAI, PRSSI, ARSADA, IAKMI, PPNI, IBI telah melakukan pertemuan pendahuluan dan telah dibentuk kelompok kerja (Pokja) dengan program awal adalah penyebarluasan informasi pelaksanaan PIN
Polio, persiapan logistik, dan pencanangan PIN Polio oleh Gubernur untuk tingkat Provinsi dan oleh Bupati/Walikota untuk tingkat Kabupaten/Kota.

Untuk Provinsi Lampung direncanakan pencanangan dilakukan pada tanggal 8 Maret 2016 di Lapangan Waydadi Sukarame yang akan langsung dihadiri oleh Bapak Gubernur M. Ridho Ficardo dan Ketua TP PKK Ibu Yustin Ficardo. Pada saat yang sama di Kabupaten/Kota juga dilakukan pencanangan oleh para Bupati/Walikota masing-masing.

“Untuk Provinsi Lampung, jumlah Pos PIN yang disediakan yaitu 8.450 pos dengan 38.974 kader yang terlibat. Sasaran PIN Polio tahun ini usia 0 s.d 59 bulan adalah 788.992 jiwa dan jumlah vaksin yang disiapkan sebanyak 47.000 vial, dimana 1 vial dapat digunakan untuk 17 sasaran”, disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung, ibu dr. Hj. Reihana, M.Kes.

Pemberian imunisasi Polio ini dengan cara di tetes, tiap balita mendapatkan 2 tetes vaksin Polio. Tidak ada efek samping dari pemberian vaksin ini, akan tetapi ada beberapa kondisi dimana balita tidak boleh diberikan vaksin ataupun harus ditunda pemberian vaksin Polionya.

Dalam siaran di radio ASN tanggal 12 Februari 2016 kemarin, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Lampung juga menyatakan harapan beliau agar seluruh balita usia 0 s.d 59 bulan yang ada di Provinsi Lampung mendapatkan vaksin Polio untuk mencapai eradikasi Polio (bebas Polio) pada akhir tahun 2020. “Kepada para orangtua agar membawa putra putrinya yang berusia 0 s.d 59 bulan ke Pos PIN terdekat pada tanggal 8 s.d 15 Maret 2016 untuk mendapatkan vaksin Polio”, tambah beliau.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Prov. Lampung dr. Asih Hendrastuti, M.Kes (Hp. 082177016688),email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




DISTRIBUSI LOGISTIK PROVINSI UNTUK PENANGGULANGAN DBD TAHUN 2015 – 2016

Bandar Lampung, 25 Januari 2016. Seiring dengan masuknya musim penghujan yang berhubungan dengan peningkatan kasus DBD maka sejak bulan Oktober 2015 telah disebarkan logistik penanggulangan DBD berupa inseksitisida cair (bahan pengasapan) dan bubuk larvasida (Abate) sebagai berikut :

No Kabupaten/Kota Insektisida

(Dalam liter)

Larvasida

(Dalam Kg)

1 Tulang Barat Barat 80 200
2 Bandar Lampung 200 500
3 Pesisir Barat 60 60
4 Way Kanan 10 60
5 Tulang Bawang 50 200
6 Lampung Tengah 120 120
7 Lampung Utara 100 200
8 Tanggamus 60 0
9 Pesawaran 0 60
10 Metro 0 200
11 Lampung Barat 0 100
  Jumlah 680 1.700

Dalam 1 liter cairan insektisida dapat melakukan pengasapan hingga 50 rumah sehingga apabila telah dikeluarkan 680 liter maka ada 34.000 rumah yang bisa diasapi dengan logistik dari Pemerintah Provinsi Lampung.
Dalam 1 kg larvasida dapat digunakan oleh 200 bak mandi (asumsi 1 bak mandi berukuran 1m3) bila telah didistribusikan sejumlah 1.700 kg maka bak mandi yang dapat menggunakan logistik dari Pemerintah Provinsi 340.000 bak mandi
Hingga saat ini Bufer Logistik Insektisida dan Larvasida Pemerintah Provinsi Lampung adalah 660 liter insektisida dan 2300 kg larvasida

Demikinan rilis ini dibuat semoga bermanfaat .

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampungdr. AsihHendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




RUMAH SAKIT KELILING DINAS KESEHATAN PROVINSI LAMPUNG MASUK NOMINASI KOMPETISI INOVASI PELAYANAN PUBLIK KEMENPAN RB TAHUN 2016

Bandar Lampung, 7 Maret 2016. Hari ini, Senin 7 Maret 2016 Gubernur Lampung yang diwakili oleh Sekretaris Daerah Lampung Ir Arinal Djunaidi melakukan presentasi dan wawancara tentang Rumah Sakit (Mobile Clinic) Dinas Kesehatan Provinsi Lampung pada Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik Tahun 2016 di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) di Jakarta
Kementerian PANRB menggelar kompetisi inovasi pelayanan publik 2016. Dari 2.476 inovasi yang mengikuti, Panitia telah menetapkan 99 inovasi yang dianggap terbaik (Top 99). “Kompetisi inovasi pelayanan publik 2016 , telah menghasilkan top 99 inovasi dengan keputusan Menteri PANRB nomor 51 tahun 2016,” kata Ibu Mirawati Sudjono, Ak, M.Sc, Deputi Bidang Pelayanan Publik.
Mirawati menjelaskan, kompetisi ini merupakan wujud dari program one agency – one inovation (OAOI). Dengan kata lain setiap kementerian, lembaga, pemerintah provinsi, kabupaten/kota wajib menciptakan minimal satu inovasi setiap tahun

Bapak Arinal Djunaidi menyampaikan,”Pemerintah provinsi Lampung membuat inovasi untuk mengatasai masalah kegawatdaruratan dan akibat bencana, kasus rujukan, mendekatkan akses kepada masyarakat dengan megadakan Rumah Sakit Keliling.” Dalam kondisi diluar kegawatdaruratan bencana secara periodik RS Keliling memberikan pelayanan di Daerah Otonomi Baru (DOB) yang belum memiliki rumah sakit.

Dr Hj Reihana, M.Kes juga menambahkan bahwa Landasan hukum penyelenggaraan RS Keliling ini adalah UU No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Peraturan Gubernur Nomor 16 Tahun 2013 tentang Pedoman Mobile Clinic yang mengatur sumber daya manusia, pembiayaan dan operasional.

Tujuan penyelenggaraan RS Keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung adalah mendekatkan akses pelayanan kesehatan rujukan komprehensif terutama spesilistik dasar (anak, penyakit dalam, kebidanan, bedah) dan spesialis lain kepada masyarakat terutama DOB yang belum memiliki rumah sakit, daerah rawan bencana, kondisi kegawatdaruratan, skrining kasus dan
pemeriksaan penunjang yang lengkap.

Model mini bus rumah sakit keliling dengan dimensi total panjang 6.646mm, lebar 1.945mm dan tinggi 2.165mm ini dilengkapi dengan peralatan kesehatan untuk ruang operasi kecil- sedang, ruang konsultasi dan ruang laboratorium. RS keliling dilengkapi fasilitas konsultasi, laboratorium, operasi minor dan mayor, radiologi, recovery room, angkutan tenaga medis.

RS keliling melakukan pelayanan selama 3 hari di lokasi dengan kegiatan : hari pertama melakukan skrining dan pelayanan poli umum di Puskesmas rawat inap setempat, hari kedua pelayanan spesialistik dan tindakan operasi, hari ketiga pemulihan pasca operasi dan pencatatan dan dokumentasi rekam medik. Kunjungan pasien di RS keliling selama tiga tahun terakhir menunjukan antusias masyarakat, pada tahun 2013 adalah 2.516 kunjungan, tahun 2014 adalah 1.905 kunjungan dan tahun 2015 adalah 1.464 kunjungan. Pembiayaan operasional bersumber APBD Provinsi Lampung. RS keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung masuk pada ajang Indonesian International Motor Show (IIMS) 2012 dan dipublikasi oleh Kementerian Kesehatan RI (www.kemkes.go.id) pada Rabu, 10 Oktober 2012.

Pelayanan kesehatan di RS Keliling (Mobile Clinic) ini Dinas Kesehatan Provinsi Lampung melakukan MoU dengan RSUD Abdul Moeloek, RSUD Menggala, RSUD dr. A. Dadi Tjokrodipo dan RSUD Liwa untuk penyediaan dokter spesialis sedangkan untuk paramedis melibatkan puskesmas rawat inap sebagai base camp Mobile Clinic.

Semoga Provinsi Lampung dapat memenangkan kompetisi ini melalui program inovasi RS Keliling Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Demikinan rilis ini dibuat semoga bermanfaat.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




Ayo Cegah Stunting, Gizi Baik, Tinggi Dan Berprestasi

Bandar Lampung, 22 Januari 2016
Beberapa hari lagi kita memperingati Hari Gizi Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 Januari Pada tahun ini kita mengangkat tema Cegah Stunting Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi. Tema ini diangkat mengingat masalah Stunting adalah masalah yang memerlukan perhatian kita bersama dan sering “pendek” bukan dianggap masalah.
Pendek (Stunted) adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.
Stunting adalah suatu kondisi pendek yang diketahui berdasarkan pengukuran Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U) mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh WHO (daftar tabel lampiran 1). Stunting dibagi menjadi 2 katagori sangat pendek dan pendek
Pada tahun 2012 dunia menyepakati (WHO) agar setiap negara mengupayakan agar Stunting pada balita <5%. Secara nasional, gambaran Stunting pada balita dapat dilihat dari 3 riset yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI yaitu tentang Proporsi Pendek dan Sangat Pendek Balita.

TAHUN SANGAT PENDEK PENDEK JUMLAH
2007 18,8 % 18,0% 36,8%
2010 18,5% 17,1% 35,6%
2013 18,0% 19,2% 37,2%

Sumber Riskesdas 2007,20010, 2013

Provinsi Lampung berada di atas rerata nasional yaitu 42,64% untuk balita sangat pendek dan pendek pada Riskesdas 2013 tersebut. Artinya dari responden yang memiliki balita didapatkan 42,64% balitanya sangat pendek atau pendek.
Di tahun 2014 Kementerian Kesehatanh merilis turunan dari Riskesdas 2013 yang disebut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2014. IPKM 2014 membreak down data Riskesdas 2013 dilevel Kabupaten Kota untuk prevalensi Balita Sangat Pendek dan Pendek adalah sebagai berikut Kabupaten Lampung Barat 34,60%, Tanggamus 39,66%, Lampung Selatan 43,01 %, Lampung Timur 43,17%. Lampung Tengah 52,68%, Lampung Utara 32,44%, Way Kanan 29,80 %, Tulang Bawang 40,99%, Pesawaran 50,81%, Pringsewu 36,99%, Mesuji 43,43%, Tulang Bawang Barat 40,08%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Metro 47,34%

Kadinkes Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan bahwa ,”Faktor penyebab Stunted merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan. “
Beliau juga mengatakan bahwa,”Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted

Cara mencegah Stunting pada Balita dengan dilakukan semenjak masa kehamilan yaitu cek kehamilan secara teratur, bersalin di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, imunisasi bayi secara lengkap, ASI Ekslusif, timbang bayi dan balita setiap bulan di Posyandu, dan ajak seluruh anggota keluarga untuk berPerilaku Hidup Bersh dan Sehat (PHBS). Ayo Cegah Stunting, Gizi Baik, Tinggi dan Berprestasi.

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com




PROGRAM BOTTOM UP DINAS KESEHATAN PROVINSI LAMPUNG UNTUK GERBANG DESA DI TAHUN 2016

Gubernur M Ridho Ficardo telah meluncurkan program Gerbang (Gerakan Membangun) Desa Saburai yang merupakan penggabungan pembangunan partisipatif masyarakat (bottom up) dan perencanaan pembangunnan pemerintah provinsi (top down)

NO BENTUK KEGIATAN LOKASI KETERANGAN
1 Program  Revitalisasi Posyandu 100 Desa Pemberian Alat Pengukur Berat Badan & Tinggi Badan
2 Program Revitalisasi Poskesdes 25 Desa Pelatihan Bidan & Kader Kesehatan
3 Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Layak 52 Desa Pemberdayaan Masyarakat  & kelestrarian penggunaan Sarana air minum dan sanitasi yang dibangun oleh PU Pengairan & Pemukiman

 

4 Program Sanitasi Terpadu Berbasis Masyarakat (STBM) 100 Desa Mendorong penggunaan Jamban Keluarga, Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) Rumah Tangga dan Tempat Pembuanga Sampah Rumah Tangga dengan melatih warga desa untuk membangun sarana tersebut, menyiapkan cetakan WC dan SPAL serta program pemicuannya

 

ASPEK VARIABEL SKOR ANGKA SKOR
Sarana Keberadaan/Akses ke Fasilitas Kesehatan Ada puskesmas/pustu/poskesdes 6
Keberadaan Tenaga Kesehatan Ada Tenaga Kesehatan 9
Lingkungan Tempat buang air besar sebagian keluarga Jamban bersama/ sendiri 1-9
Tempat buang sampah sebagian besar keluaraga Dalam lubang lalu dibakar 2
Pembuangan limbah rumah tangga sebagian besar keluarga Lubang resapan 7
JUMLAH SKOR YANG TERUNGKIT 25 -33

Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas Dinas Kesehatan Provinsi Lampung
dr. Asih Hendrastuti,M.Kes (Hp. 082177016688), email: humas.kesehatanlampung@gmail.com

WUJUDKAN MAJU SEJAHTERA DENGAN DEKATKAN AKSES




Profil UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung

 

TUGAS POKOK :

MELAKSANAKAN PELAYANAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM KESEHATAN MELIPUTI LABORATORIUM KLINIK, RADIOLOGI, LABORATORIUM KESEHATAN MASYARAKAT, LABORATORIUM LINGKUNGAN, LABORATORIUM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN SERTA PELAYANAN MEDICAL CHECK UP

IKHLAS DALAM MELAYANI, PROFESIONAL DALAM BEKERJA

Menjadi Laboratorium yang memberikan Pelayanan Kesehatan secara Profesional dan Paripurna

  1. Memberikan Pelayanan Kesehatan Terbaik kepada Masyarakat.
  2. Melaksanakan Pelayanan Laboratorium yang Profesional, Berkualitas, Akuntabel serta Efektif dan Efisien
  3. Menjalin Kemitraan dalam Jejaring Kesehatan dan Customer (Mitra Bisnis) secara Profesional.
  4. Meningkatkan Kualitas Tenaga Laboratorium dengan Pendidikan serta Pelatihan yang Kompeten dan Berkelanjutan.
  5. Meningkatkan Jenis Pelayanan Laboratorium dengan penerapan Teknologi (Laboratorium) yang mutakhir

MAKLUMAT PELAYANAN

“DENGAN INI, KAMI PIMPINAN DAN KARYAWAN UPTD BALAI LABORATORIUM KESEHATAN PROVINSI LAMPUNG SANGGUP MENYELENGGARAKAN PELAYANAN SESUAI STANDAR PELAYANAN YANG TELAH DITETAPKAN DAN APABILA TIDAK MENEPATI JANJI INI, KAMI SIAP MENERIMA SANKSI SESUAI PERATURAN PERUNDANG – UNDANGAN YANG BERLAKU “

 

KEBIJAKAN MUTU

  1. UPTD Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Lampung menerapkan Good Professional Practice
  2. Mempunyai kompetensi sehingga Hasil pengujian dng akurasi dan presisi yang tinggi serta kemamputelusuran pengukuran yang dapat dipertanggungjawabkan hingga kebutuhan serta kepuasan pelanggan atau pihak yang berkepentingan terpenuhi;
  3. Personil laboratorium memahami, menerapkan dan memelihara dokumentasi mutu serta melakukan peningkatan yang berkelanjutan sesuai ISO/IEC 17025: 2005”

Ruang Lingkup Layanan

  1. Laboratorium Klinik
    a. Laboratorium Patologi Klinik
    i. Pemeriksaan Fungsi Jantung
    ii. Pemeriksaan Fungsi Ginjal
    iii. Pemeriksaan Diabetes
    iv. Pemeriksaan Fungsi Hati
    v. Pemeriksaan Darah Lengkap
    vi. Pemeriksaan Urine Lengkap
    b. Laboratorium Imunoserologi
    i. Pemeriksaan Anti HIV, CD4
    ii. Pemeriksaan DBD
    iii. Pemeriksaan Hepatitis A, B, C
    iv. Pemeriksaan Thypoid
    v. Pemeriksaan TORCH
    vi. Pemeriksaan Reumatoid Factor
    vii. Dan lain- lain
    c. Laboratorium Mikrobiologi
    i. Pemeriksaan Kultur dan Resistensi Antibiotik
    ii. Pemeriksaan Air Bersih, Minum dan Limbah
    iii. Pemeriksaan Uji Sterilitas Ruangan Operasi Rumah Sakit
    iv. Pemeriksaan Angka Kuman Makanan & Minuman di Rumah Sakit
    v. Pemeriksaan Angka Kuman Bahan bahan Industri Makanan
    vi. Pemeriksaan TBC/ BTA, Malaria, dan lain-lain
  2. Laboratorium Kesehatan Masyarakat
    a. Pemeriksaan Air Bersih, Minum, Limbah dan Air Badan Air
    b. Pemeriksaan Toksikologi, Pemanis, Pewarna, Pengawet
    c. Pemeriksaan Logam Berat
    d. Pemeriksaan Narkoba (Urine dan Darah)